LOGIN"Sialan!"Umpatan itu meluncur begitu saja dari bibir Sagara, memecah sunyi ruang kerjanya. Untuk pertama kalinya sejak sengketa lahan proyek Dirgantara mencuat, ia benar-benar kehilangan kendali atas emosinya. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya mencengkeram sisi meja hingga buku-buku jarinya memutih. Tatapannya terpaku pada layar laptop yang dipenuhi deretan pemberitaan dari berbagai media daring.Proyek Dirgantara Kembali Disorot, Sengketa Lahan Memanas.Setelah Identitas Latisha Terungkap, Publik Pertanyakan Hubungan Kusumawardhana dan Dirgantara.Muncul Dugaan Keluarga Kusumawardhana Sedang Mengusik Bisnis Dirgantara.Pengamat Nilai Posisi Latisha Atmaja Berpotensi Memengaruhi Stabilitas Dirgantara.Sagara mengembuskan napas pelan, lalu menggulir layar dengan jemari yang mulai menegang. Semakin banyak artikel yang ia baca, semakin jelas pola yang sedang dibangun. Tidak ada satu pun media yang secara gamblang menuduh keluarga Kusumawardhana berada di balik sengketa proyek itu.
"Daniel."Suara Nadya menghentikan langkah Daniel yang baru saja kembali dari ruang rapat. Tangannya masih membawa beberapa map ketika menoleh ke arah sumber suara."Eh, Mbak Nad?" Daniel tersenyum kecil. "Ada apa? Kok serius amat mukanya?""Sebentar, boleh?"Daniel melirik meja kerjanya yang tinggal beberapa langkah lagi, lalu mengangguk."Boleh, dong."Ia berjalan menghampiri Nadya, kemudian tanpa sungkan duduk di kursi yang dulu biasa ditempati Latisha. Kebiasaan itu membuat Nadya sempat tersenyum tipis. Bahkan setelah Latisha mengundurkan diri, kursi itu masih terasa seperti miliknya."Nah, sekarang cerita. Ada apa?"Nadya mengembuskan napas pelan. "Maaf kalau pertanyaan gue kedengarannya nggak sopan."Daniel langsung mengernyit."Loh, kenapa jadi minta maaf? Mbak kan senior saya. Walaupun saya adiknya Mas Sagara, tetap aja di kantor saya junior Mbak."Candaan itu sedikit mencairkan suasana.Namun raut wajah Nadya tak banyak berubah. Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tak ad
"Mas..." Daniel mengetuk pintu ruang kerja Sagara sebelum melangkah masuk. Wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya."Mas, dugaan kita ternyata benar."Sagara mengangkat pandangannya dari berkas di meja. "Soal sengketa tanah itu?"Daniel mengangguk. Ia meletakkan sebuah map berisi salinan dokumen dan hasil penelusuran di hadapan Sagara."Tim legal baru selesai mencocokkan riwayat kepemilikan tanah dengan arsip di kantor pertanahan. Ada satu nama yang terus muncul sebagai pihak yang berkepentingan."Sagara membuka map itu, matanya bergerak cepat menelusuri setiap lembar."Keluarga Kusumawardhana," gumamnya."Iya, Mas. Awalnya mereka nggak muncul sebagai pihak dalam gugatan, makanya sempat luput dari perhatian. Tapi setelah kami telusuri alur transaksi dan hubungan antarperusahaan, ternyata beberapa aset yang dipersoalkan pernah berada di bawah kendali keluarga Kusumawardhana sebelum dialihkan ke perusahaan perantara."Sagara terdiam, mencerna setiap informasi."Motifnya mulai masuk
Malam itu Sagara pulang jauh lebih larut dari biasanya. Sejak sore ia berpindah dari satu rapat ke rapat lain, disusul pembahasan dengan tim legal mengenai sengketa lahan yang mulai mengganggu proyek perusahaannya. Saat mobilnya akhirnya memasuki halaman rumah, jarum jam telah melewati tengah malam.Begitu membuka pintu, suasana rumah menyambutnya dengan keheningan yang menenangkan. Lampu ruang tamu masih menyala redup. Langkahnya terhenti ketika pandangannya jatuh pada sosok yang meringkuk di sofa.Latisha tertidur di sana.Sebuah buku masih terbuka di pangkuannya, sementara selimut tipis yang semula menutupi kakinya telah bergeser ke lantai. Kepalanya bersandar pada sandaran sofa, napasnya teratur, jelas menunjukkan ia berusaha menunggu hingga tanpa sadar tertidur.Sudut bibir Sagara terangkat membentuk senyum tipis.Ada kehangatan yang perlahan mengikis lelahnya seharian. Di luar rumah, ia harus menghadapi rapat, negosiasi, dan berbagai persoalan yang menuntutnya selalu tenang. Nam
Daniel kembali membuka map yang sempat ditutupnya. Kali ini ia mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang sejak tadi dipisahkan—salinan sertifikat hak milik, peta bidang tanah, surat permohonan pengukuran ulang dari kantor pertanahan, serta beberapa dokumen lama yang sudah mulai menguning."Mas, lihat yang ini."Sagara menerima berkas itu tanpa banyak bicara. Tatapannya bergerak cepat menelusuri setiap halaman. Semakin lama ia membaca, sorot matanya semakin tajam, meski wajahnya tetap tenang."Mereka mengajukan permohonan pengukuran ulang.""Bukan cuma itu." Daniel menggeser surat lainnya. "Mereka juga mengajukan keberatan atas batas bidang tanah yang sekarang jadi lokasi proyek Mas."Sagara meletakkan berkas itu di atas meja."Alasannya?""Mereka mengklaim sebagian bidang tanah yang Mas beli dulu masih tercatat sebagai bagian dari aset perusahaan lama.""Padahal seluruh proses jual belinya sudah selesai.""Betul." Daniel mengangguk mantap. "Akta jual beli lengkap, sertifikatnya terbit
Hari-hari Latisha berubah perlahan.Tak ada lagi suara alarm yang memaksanya bangun terburu-buru karena harus mengejar jam masuk kantor. Pagi-paginya kini dimulai dengan membuka jendela kamar, membiarkan cahaya matahari dan udara segar memenuhi rumah, sebelum menyiapkan secangkir kopi dan sarapan untuk Sagara.Ia mulai menikmati rutinitas sederhana yang dulu terasa mustahil dilakukan. Menyiapkan sarapan, membantu Sagara mengenakan dasinya, mengantar sang suami hingga ke depan pintu, lalu berdiri di teras sambil melambaikan tangan sampai mobil itu menghilang di ujung jalan.Setelah rumah kembali tenang, Latisha membereskan meja makan, merapikan setiap sudut rumah, menyiram tanaman yang mulai bermekaran di halaman, lalu sesekali pergi ke supermarket untuk membeli bahan makanan segar. Di waktu luangnya, ia membaca buku-buku yang selama ini hanya tersusun rapi di rak, mencoba resep-resep baru, bahkan beberapa kali mengikuti kelas memasak daring hanya karena ingin menyajikan masakan yang
Pagi ini seharusnya menjadi pagi yang paling membahagiakan bagi Latisha. Pagi yang ringan setelah semua beban yang ia lepaskan lewat deeptalk bersama Sagara semalam. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, ia merasa bisa bernapas tanpa beban.Namun semua itu runtuh begitu ia melangkah masuk ke
“Ada masalah?” tanya Sagara tiba-tiba. Suaranya tenang, tapi cukup untuk membuat Latisha yang sejak tadi melamun mengangkat kepala. Tatapannya bingung, sedikit kaget.“Enggak kok,” jawabnya cepat sambil tersenyum tipis. “Emangnya kenapa, Mas? Ada yang aneh dari aku?”Sagara tidak langsung menjawab.
Suara itu datang begitu tiba-tiba, membuat langkah Latisha terhenti.“Icha, apa kabar?”Ia menoleh, dan tubuhnya refleks menegang. Di hadapannya berdiri seseorang yang sudah lama ingin ia hapus dari ingatannya. Danu Adyaksa, mantan calon suaminya.Wajah itu masih sama, dengan tatapan teduh yang dul
“Maaf ya, Pak.” Suara pelan itu membuat Sagara menoleh. Keningnya sedikit berkerut, menatap wajah istrinya yang tampak ragu.“Untuk?” tanyanya singkat.“Semuanya,” jawab Latisha lirih. Entah kenapa, sampai sekarang pun rasa bersalah itu masih saja menempel di hatinya. Ia tahu, pernikahan mereka dim







