登入Pasangan itu kini sudah berada di jalanan dengan Reynold yang mengendarai motornya sangat hati-hati. Di belakangnya, Lisa melingkarkan tangannya pada pinggang pemuda itu memeluknya dengan sangat erat. Jantungnya berdebar, karena kedekatan tanpa jarak degannya.Kepalanya bertengger di bahu kanan Renold, membuat mereka berdua terlihat begitu mesra di sana. "Sudah kubilang kan. Kalau memelukmu seperti ini, tubuhku terasa hangat," komentar Lisa.Reynold tidak menimpalinya. Fokusnya terus tertuju pada jalanan di depannya."Rey," panggil Lisa tepat di samping telinga pemuda itu dengan lembut. Reynold sedikit menoleh pada wanita di belakangnya. "Apa?" "Em, kalau kau tidak keberatan ... kita jangan langsung pulang dulu, ya," pinta gadis manis itu dengan penuh harap.Mendengar permintaannya, Reynold mengangkat sebelah alisnya. "Memangnya kau mau pergi ke mana?" "Aku ... aku mau ke bukit bintang. Malam ini cerah, aku pikir melihat pemandangan langit di sana akan sangat bagus," jawab Lisa se
Jam sudah menunjukkan pukul lima sore, dan saat ini, kelas siang Reynold sudah selesai. Reynold yang memiliki rencana makan malam dengan Lisa itu memutuskan untuk langsung pulang ke rumah untuk bersiap dan beristirahat sebentar. Ketika memasuki rumah, dia langsung disambut oleh kegelapan, dan keheningan. Terasa dingin, tak ada seorang pun di dalam rumah yang menghangatkannya, mengingat kedua penghuninya jarang sekali berada dalamnya. Pemuda itu menyalakan beberapa lampu ruangan sebelum langsung pergi ke kamarnya. Ketika memasuki kamar, dia langsung mengeluarkan ponselnya, dan merebahkan diri di atas kasur empuknya yang dingin. Dia memeriksa beberapa pesan masuk yang belum dibukannya untuk beberapa saat. "Tidak ada yang penting," gumamnya. TING! Satu pesan masuk baru saja muncul. Dia membukanya, dan ternyata itu dari sang kekasih, Lisa. 'Aku tidak sabar makan malam nanti'. Itulah isi pesan darinya. Pemuda itu menghela napas berat, lalu menoleh ke arah jam dinding di ka
Mendengar ucapan mahasiswanya itu, Martin terlihat mengerutkan kening. "Em, ba-iklah. Memang Tuan Michael melakukan hal aneh apa, sehingga membuatmu merasa sangat penasaran?"Sembari memainkan buku di tangannya, pemuda itu menjawab dengan tenang, "Hanya penasaran dengan detail kecil."Martin memiringkan kepala, terlihat semakin penasaran. "Detail kecil, kah ... hm, aku mengerti." Meski penasaran, tetapi dia memutuskan untuk tidak memaksanya menjelaskan lebih jauh."Tapi ... belakangan ini aku tidak membicarakan banyak hal mengenai kasus apa pun dengan Tuan Michael," lanjutnya."Sebenarnya ... ayah tadi pagi mengatakan bahwa dia mau liburan, dan ingin mengajakku liburan bersamanya beberapa hari. Menurut Bapak, ayah menawarkan itu karena dia ada kasus atau apa?" Reynold punengatakan apa yang membuatnya penasaran mengenai sikap Michael tadi pagi. "Aku hanya ingin memastikan itu saja."Martin tersenyum lebar mendengar pengakuannya. "Well, intinya kau hanya khawatir dia mengajakmu karena a
Pada pukul sepuluh tepat, dosen pun memasuki kelas. Namun, pada saat itu, Wendy tetap tidak menampakkan batang hidungnya. Hal itu sebenarnya membuat Reynold merasa semakin penasaran. Dia kembali melirik ke arah Viona untuk memastikan, tetapi dia tidak menyangka bahwa saat ini, gadis judes itu juga sedang memperhatikannya. Ketika mata mereka bertemu, dengan santainya Viona menampakkan senyum miring, mengandung sebuah arti di baliknya. Menyadarinya, secara alami, tanpa merasa gugup sedikit pun dia kembali mengalihkan pandangannya pada dosen yang sedang menyampaikan kuliahnya.Beberapa jam kemudian, perkualiahan mereka pun berakhir, dan setelah dosen yang mengajar meninggalkan kelas, para mahasiswa mulai pergi juga. Ketika orang-orang sudah pergi, Viona bangkit berdiri. Gadis itu menghampiri Reynold yang terlihat akan melangkah pergi keluar, lalu menghentikannya, "Reynold, apakah kau mau bicara sesuatu padaku? Well, kulihat selama perkuliahan sesekali kau melirik ke arahku."Reynold men
Keesokan harinya.Pintu kamar Michael tiba-tiba terbuka sangat keras. Namun, itu bukan karena si pembuka pintu merasa kesal atau marah, melainkan karena dia terlihat begitu bahagia. Senyum sumringah tersungging di wajahnya yang menawan dan langkah kakinya membawanya pergi ke dapur.Di sana, pria paruh baya itu sudah disambut oleh dua piring nasi goreng yang sudah dihidangkan di atas meja. "Wah, wah, nasi goreng ... pas sekali dengan suasana pagi yang cerah dan menyenangkan ini," komentarnya sembari duduk di kursi makan dengan semangat.Reynold yang sudah berpakaian olahraga tampak berjalan sambil membawa seteko air putih beserta gelasnya menuju meja makan dengan tampang dingin biasanya. Dia menuangkan air untuk ayahnya, lalu meletakkannya di hadapan pria itu. "Suasana hatimu sepertinya sedang sangat bagus, Ayah," komentarnya sembari duduk di seberang tempat duduk Michael.Michael meneguk air putih pertama di pagi itu, dan wajahnya terlihat semakin segar. "Fuah! Segar sekali!" Dia sama
JBUR!Aku melempar pria yang tidak sadarkan diri ke danau setelah kumasukan beberapa batu berat dan kuikat tangan dan kakinya menggunakan tali yang mengejutkannya kutemukan secara kebetulan di sekitar danau.Tak butuh waktu lama, tubuh pria itu pun tenggelam.Kucondongkan tubuhku, menatap dingin ke arah tubuhnya yang kian lama kian samar terlihat ditelan oleh kegelapan dasar danau."Kau akan berakhir seperti itu setelah ini," ucapku datar, ditujukan pada pria yang masih sadar di belakangku.Setelah itu, aku berbalik, memandang ke arah pria yang tengah berlutut dengan tangan dan kakinya yang sudah kuikat kuat. Wajahnya bonyok setelah kuhajar habis-habisan, dan saat ini tubuhnya terlihat gemetar, jelas dia sangat ketakutan."Baiklah ... Sekarang, Andre Hugh. Siapa dia? Dan apa yang dia inginkan dariku?" Tanpa basa-basi aku langsung mempertanyakan hal itu padanya. Tatapanku menajam ketika melanjutkan perkataanku, "Katakan, atau kau akan kuhabisi dengan cara yang jauh lebih menyakitkan."
POV Wendy.Pemuda yang bernama Robert ini akhirnya berhasil membawaku ke fasilitas kesehatan kampus yang memang buka 24 jam. Selama dalam perjalan ia menggendongku dengan tampang yang penuh dengan kepanikan, sangat berbeda jauh dengan Reynold yang mengikuti di belakang kami sembari membawakan barang-
Mengetahui pintu ruang belajar itu terkunci, Wendy langsung terpikir bahwa itu adalah perbuatan Viona. Ia akhirnya merasa lega karena akhirnya gadis itu akhirnya melakukan sesuatu dan itu artinya sekarang ia mempunyai kesempatan untuk semakin dekat dengan Reynold."Rey, apakah-"Ting!Ketika ia hendak
Setelah jam perkuliahan terakhir, seperti dengan rencana kelompok Wendy, semua anggota kelompok tidak langsung pulang karena sebelum itu mereka harus mengerjakan tugas kelompok mereka maksimal sampai tugas mereka mencapai target, atau paling lama sampai hari mulai gelap.Wendy yang masih mengantuk it
POV Wendy.Kini aku sudah berada di parkiran di depan mobil Chris. Setelah Chris menyuruhku untuk menunggunya di sini, dengan segera aku melaksanakan apa yang diperintahkannya."Aku tidak menyangka pria itu juga sampai mendatangi si tante girang itu ..." gumamku yang sedikit merasa kesal karena dengan







