LOGINEvelyn Baker spent her life in the shadows, cleaning up messes for the elite. She never expected to be the one taken out like trash by her own organization eventually. But instead of hell, she wakes up in the body of Rosetta Glenn: a pampered, bullied heiress who couldn't hurt a fly. Her new life comes with a heavy price: an arranged marriage to Williams Carter, a man so ruthless the entire city calls him the "Tyrant." Evelyn plans to ditch the wedding and run, until she stumbles upon a secret in Williams' study. A Silver Mask. The same mask worn by the man who ordered her death. Suddenly, running isn't an option. Evelyn walks down the aisle with a smile on her face and a plan in her heart: get close, find the truth, and put a bullet in her husband’s head. But Williams isn't the easy target she expected. He’s suspicious, controlling, and dangerously obsessed with the way his once-meek fiancée now looks at him with murder in her eyes.
View MorePonsel yang berdering menitah seorang gadis berusia 19 tahun untuk merogoh tasnya.
"Dari siapa?" gadis cantik lain yang duduk di bangku kiri bertanya penasaran."Dokter Calvin," jawabnya tersenyum lebar, kedua matanya tampak berbinar-binar."Cepat angkat!" desak Cleona, sang sahabat."Cleo, coba cubit aku. Aku tidak bermimpi, bukan?" tanyanya tak percaya dihubungi oleh sang pujaan hati."Aw!" ringisnya kesakitan ketika Cleona benar-benar mencubitnya hingga memar."Cepat angkat!" Desak Cleona lagi. Gadis bertubuh tinggi menjulang bernama lengkap Nana Calista itu segera mengangkat panggilan yang masuk."Hallo suami masa depanku, tumben menghubungiku siang-siang begini. Rindu, ya?" goda Nana yang memang menaruh hati pada sosok dokter tampan berstatus duda tersebut."Datanglah ke rumah sakit, ini tentang ayahmu," tutur Dokter Calvin seketika mengubah raut wajah Nana yang semula tersenyum senang, kini berubah penuh kekhawatiran."Ada apa, Na? Apa yang terjadi?" Cleona bertanya khawatir kala melihat perubahan ekspresi di wajah Nana."Cleo, izinin aku, ya. Aku harus ke rumah sakit sekarang juga," Nana bangkit, kemudian melesat pergi. Saking terburu-burunya, Nana meninggalkan tas beserta isinya. Ia hanya pergi membawa badan dan juga ponsel yang masih ia genggam erat.Selama di perjalanan menuju rumah sakit, pikiran Nana melalang buana. Ia memang memiliki firasat buruk sedari pagi, tapi berusaha dialihkan. Dan kini Nana benar-benar ketakutan, apalagi nada suara dokter Calvin yang bergetar. Nana takut terjadi sesuatu kepada sang ayah tercinta.Sampai di rumah sakit, Nana berlari menuju ruang rawat inap ayahnya. Di depan ruangan, tampak dokter Calvin tengah duduk di sebuah kursi tunggu. Nana langsung menghampiri."Dokter Calvin, di mana ayahku?""Nana ayahmu ... Ayahmu—" rasa bersalah terasa menekan, membuat Calvin tak bisa berkata-kata.Mengabaikan dokter Calvin, Nana melesat masuk ke dalam ruangan di mana ayahnya berada.Nana masuk tepat saat seseorang suster menutupi wajah pucat ayahnya dengan kain putih. Nana terdiam seribu bahasa, mendadak dunianya runtuh.Kaki yang terasa berat Nana seret dengan gontai, air mata yang membanjiri pipi tak ia pedulikan. Tatapan matanya tetap fokus pada sosok yang berada di balik kain putih di atas brankar. Dengan tangan bergetar, Nana bergegas menyingkap kain putih untuk memastikan."AYAAAH!"***Nana Calista, gadis belia berparas cantik dengan tubuh indah bak model tampak tengah bersimpuh di samping makam yang masih basah tanahnya. Nana menangisi kepergian sang ayah yang telah berada di peristirahatan terakhirnya. Meski kini sebatang kara, tapi selalu ada sang sahabat Cleona Chavez yang selalu setia menemani. Cleona ikut bersimpuh di sebelahnya, memegang erat kedua bahu Nana, berusaha menguatkan."Kenapa Ayah tinggalin Nana? Ayah janji mau jadi wali nikah di pernikahan Nana, Ayah juga janji mau temani Nana sampai lahirin banyak cucu. Ini apa? Kenapa Ayah tinggalin Nana gitu aja....""Yang sabar, Na. Kan masih ada aku," lanjut Cleona menepuk pelan pundak sang sahabat."Ada tuan Castin sama baby d, mana mungkin kamu bisa temani aku 24 jam full," balas Nana mengerucutkan bibirnya dengan imut."Saya bisa!" sahut dokter Calvin dengan tegas. Hal tersebut tentu membuat Nana dan Cleona menoleh padanya dengan mata membulat sempurna."Maksud, dokter?" tanya Cleona langsung bangkit, menatap Calvin dengan serius."Jangan-jangan dokter mau—" Nana menutup mulut dengan kedua telapak tangan."Mau apa?" sahut Cleona tak mengerti."Dokter Calvin mau temani Nana 24 jam full?" celetuk Nana dengan wajah polosnya."Mana boleh begitu," tatapan tajam Cleona lempar."Gak apa-apa, sih. Aku mau ditemani dokter Calvin," sambung Nana dengan air mata yang tak lagi mengalir. Rasa sedihnya seketika sirna kalau sudah membahas dokter Calvin, suami masa depannya."Maksud saya, saya akan menikahimu, Nana!"Mendengar itu, Nana hampir pingsan."Cleona, aku tidak salah dengar'kan? Dokter Calvin lamar aku?" Nana bertanya dengan heboh pada sang sahabat di sebelahnya. Cleona yang juga syok tampak diam seribu bahasa.Sementara dokter Calvin beralih ke seberang makam, pria tampan dengan tubuh kekar itu berjongkok sambil memegang nisan dengan sebelah tangannya."Saya gagal menjaga bapak, tapi saya janji tidak akan gagal menjaga putri kesayangan bapak. Izinkan saya mempersuntingnya, saya berjanji akan melindunginya dengan nyawa saya," ucap Calvin dengan ekspresi wajah serius, kali ini Nana benar-benar jatuh pingsan."Nana!" seru Cleona kesulitan menyambut tubuh sang sahabat yang lebih tinggi darinya.***"Bagaimana?" tanya Cleona yang duduk di sisi kanan bibir ranjang, sementara Calvin berdiri di sisi kiri sambil memeriksa keadaan Nana, calon istrinya."Nana baik-baik saja, dia hanya kelelahan. Biarkan dia istirahat sebentar dan sebaiknya kamu pulang sekarang, bisa heboh satu negara kalau sampai Castin kehilanganmu," sindir Calvin dengan santainya, Cleona memutar mata jengah. Ia tak bisa mengelak karena apa yang dikatakan oleh dokter Calvin benar adanya, tapi bukan salahnya memiliki suami bucin akut."Ya sudah aku pergi, jaga Nana baik-baik. Ingat, jangan ambil kesempatan dalam kesempitan!" Cleona memberi peringatan keras."Jangan lupa dialah yang lebih dulu mengejarku," serang Calvin dengan suara kecil. Jelas selama ini ia selalu berusaha menghindar dari Nana yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan."Dokter bilang apa?" tanya Cleona kembali membalikkan badan."Hati-hati di jalan, Nona Cleona," jawab Calvin dengan senyuman yang ia buat semanis mungkin. Cleona pun melanjutkan kembali langkahnya dengan kening yang berkerut.Setelah kepergian Cleona, Calvin menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke lantai kamarnya. "Maafkan saya Pak Marco. Seharusnya saya di penjara, tapi siapa yang menjaga Nana?" keluh Calvin menyugar rambut dengan kasar, tampak ia sangat menyesali ketidaksengajaan yang dilakukannya. Calvin harap keputusannya tidak salah. Hanya dengan cara itu rasa bersalahnya dapat sedikit berkurang.Tentu Calvin ingin menyerahkan diri ke polisi, tapi ia khawatir pada Nana. Calvin memilih menikahi gadis belia yang sama sekali tidak ia cintai. Meski tidak memiliki perasaan sedikit pun kepada Nana, Calvin berjanji akan menjaga Nana dengan nyawanya. Seumur hidup ia hanya akan mengabdi kepada Nana. Setidaknya, apa yang ia lakukan kini sedikit mengurangi rasa bersalahnya. Menikahi Nana adalah hukuman bagi Calvin.Tak ingin larut dalam penyesalan, Calvin kembali bangkit, ia duduk di pinggir ranjang, menatap Nana dengan tatapan penuh rasa bersalah. Salah satu tangannya terulur, kemudian membenahi anak rambut Nana sambil berkata, "Maafkan saya, Nana.""Maafkan apa?" Nana bertanya sambil mencengkram pergelangan tangan Calvin. Calvin kaget melihat Nana tiba-tiba bangun. Calvin takut, takut Nana mendengar semua penyesalannya barusan."Na ... Nanaa....""Ada sesuatu yang dokter sembunyikan dari saya?" Nana mengintrogasi, Dokter Calvin menelan saliva bersusah payah, lidahnya tiba-tiba terasa kelu."Sa ... Saya...."Saya apa?" desak Nana langsung bangkit tanpa melepaskan cengkraman eratnya."Ma ... maafkan saya karena....THIRD PERSON POVIn a dark alley at Crim city....Bruce leaned against the grimy wall, the tip of his blunt glowing like a firefly in the night. He drew in a deep breath, the smoke filling his lungs and drifting out in a slow, hazy stream. This wasn't how he wanted things to go, he knew Williams would most definitely find her at the end of the day but he hadn't expected him to find her so soon.He hadn't even injected her with the drug that made one loose the memory of what happened 24 hours before. He shouldv'e I injected her immediately, but couldn't knowing she was just going to be injected at the auction."Fuck!" He cursed. Ivy should be in trouble by now, but he hadn't heard word from her, neither had Williams openly come for him. He knew if Williams even tried to then he would most definitely be drawled out of hiding. He wondered what exactly was going on between the two families now. But how could he find out right now? Here he was, hiding in the shadows, frustration gnawing at
THIRD PERSON POV"Since when does Rosetta swim? She was always scared of water. But now, she dives in like it's nothing. It's weird." Mr. Glenn's eyes were clouded with thought, his mind trying to piece together the puzzle Ivy was laying out."There's more," Ivy pressed on, desperate to convince him. "She's mean to Gabriella, her assistant, they were more or less the real sisters here. The old Rosetta would never treat someone like that not to talk of Gabriella."Ivy took a deep breath before delivering her final blow. "And the office, Dad. She asked you for a bigger one at the company. You know Rosetta was always contented with the office given to her. Why did she then want it bigger all of a sudden. She's different, Dad. She's not the Rosetta we knew."Mr. Glenn finally spoke, his voice low and dangerous. "If what you're saying is true, then we are in big trouble. We need to be sure about this before we make any moves. The Carters are not a family to trifle with."Mrs. Glenn nodded.
THIRD PERSON POVAnd with that, Williams grabbed his phone and Rosetta watched him tap a few keys on the screen and in about 2 minutes, Connor was out and standing before Williams.He left the room with Connor and Rosetta noticed the look Connor gave Gabriella before they departed. As soon as they left, Gabriella rushed to Rosetta's side, tears welling up in her eyes. "Oh Rosetta, are you okay? Are you hurt anywhere? Oh God I was so scared." She cried."You know, Connor called me this morning and told me what happened, I was so worried that I almost fainted from fright," Gabriella said, her voice shaking as she tried to hold back sobs.'oh Gab' Evelyn heard Rosetta say. 'Oh so now you can speak?' Evelyn thought with a scoff. Rosetta could see the genuine fear and concern in Gabriella's eyes. Unlike Evelyn, who just rolled her eyes, Gabriella was truly upset but Evelyn wasn't one to console kids."Why do you have Connor's number?" Evelyn asked, her tone sharp.Gabriella was taken aback
THIRD PERSON POV"And what about money? We can't run without money," Ivy said, panic creeping into her voice as she thought of a way to convince her mom. "We'll take what we can and sell whatever we need to. Jewelry, clothes, anything," her mother said with a tone of finality. "We don't have time, Ivy. We need to be gone before Rosetta comes for us.""I'm not running away," Ivy stated, her voice firm despite the fear that clung to her every word. "The farther I am from Williams, the closer he gets to her. I can't lose to her, Mom. I didn't lose to the real Rosetta, and I won't lose to this fake one."Mrs Glenn's brows creased in confusion as she turned to her daughter and she stopped pacing. "What do you mean by 'real' and 'fake' Rosetta?" she asked, her tone laced with confusion and a growing interest.Ivy took a deep breath, and turned to her mother with all seriousness"It's true. That girl is not Rosetta. She's someone else, pretending to be her. Probably for the fame and money.""
EVELYNE'S POV“ You can leave now, Bruce, she'll take care of it.” Williams said with a smirk plastered on his face.The butler bowed respectfully before excusing himself, leaving us alone.“ What do you think you're doing?” I wondered what he was playing at.“ I thought this was what you wanted? Y
WILLIAMS POV“ So tell me, why do you insist on marrying Rosetta when you don't have any feelings for her? Don't tell me you're planning on making the poor girl miserable?” He frowned in dissatisfaction.“ We shouldn't be in love before we get married, no?” I raised an eyebrow and I heaved a sigh.
WILLIAMS POVI looked at my bloody palm and glanced down at my abdomen and saw that I'd been hit.“ You're bleeding, Boss!” Connor panicked and I immediately applied Pressure on it.“ Take care of everything here, I'll meet you at the auction.” I muttered as beads of sweat made its way to my forehe
WILLIAMS POVThe Ancestral mansion held so many memories and I hated being in the Same place with my father.To avoid running into him or having to be stuck with him I decided to go to a bar and get a few drinks and headed to the library to bury myself in work.Once I was at the library I decided t












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.