LOGINIn a world where power is everything and weakness is despised, the Werewolf Kingdom bows to one man—The Enigma, a ruler feared as much as he is revered. Cursed with a beast no one can tame, every full moon demands a bride… and every bride leaves shattered, unable to withstand the monster within him. When the next offering is demanded, fate takes a cruel turn. Instead of a noble daughter, Elian Silvermist—a male omega, unwanted and ridiculed—is forced to take her place. Hidden beneath his quiet strength lies a dangerous secret: a scent so intoxicating it can bring even the strongest Alpha to his knees. But the moment Elian steps into the Enigma’s castle, everything changes. Because the monster does not see prey. He sees his mate. As the full moon approaches, desire clashes with fear, and secrets begin to unravel. The closer Elian gets to the truth, the more he begins to question everything— Is the Enigma truly a devil… or a king bound by something far darker? And when the bond finally awakens, one question remains: Will Elian survive the monster… or become the only one who can tame him?
View MoreMalam ini pukul 8 malam, Kirana wijaya diajak makan malam di sebuah hotel ternama untuk menjalani kencan buta yang sudah diatur sebelumnya oleh sang ayah untuk mendapatkan keuntungan karena mengalami krisis keuangan, yang akan mereka temui adalah CEO Alex Farm Corp-Sabian Alexander.
"Kak apakah orangnya sudah sampai, di mana kamu berjanji untuk bertemu apakah hotelnya sudah benar makan malam untuk kencan buta saja kenapa harus di hotel mewah seperti ini?" kirana heran mengapa untuk makan malam saja harus di tempat mewah seperti ini.
"Diam jangan banyak tanya, aku juga tidak mau datang jika bukan untuk membantu ayah," ucap kakak tiri kirana dengan galak.
Kirana dan Tania sejak tadi menunggu, namun tamu yang akan ditunggu tidak kunjung datang, membuat Tania mengajak Kirana memesan makanan, untuk makan lebih dulu karena menunggu membuat mereka kelaparan,
Gadis berparas cantik itu, tidak menaruh curiga sama sekali tentang alasan diajak oleh kakak tirinya untuk mengikuti makan malam kencan buta, tanpa sepengetahuan kirana, Tania menaruh obat tidur di makanan yang di pesan.
“Aduh, kenapa kepalaku mendadak pusing kak?” ucap Kirana sambil memegang kepalanya yang pusing.
Efek obat itu memuat tubuh Kirana menjadi lemas, ia kehilangan tenaga tubuhnya tersungkur ke meja makan,
Krieett...
Walau mata kirana tertutup dia bisa merasakan bahwa kini tubuhnya berbaring di atas kasur, dia juga mendengar ada seseorang yang membuka pintu kamar di mana dia berada.
“Siapa yang datang, apa itu kakak?” gumam kirana dalam hati.
Seorang pria tampan bertubuh kekar masuk ke dalam kamar hotel, matanya membulat Ketika melihat ada seorang gadis yang berada di atas ranjangnya.
"Siapa yang mengirim gadis ini ke kamarku?" tanya pemuda itu kepada asistennya.
"Saya akan memeriksanya tuan," kata asisten pemuda itu.
Sabian menyentuh Kirana mengunakan tissue, seakan tubuh gadis yang tengah terbaring itu adalah kotoran yang harus dibersihkan tetapi, saat Sabian menyentuh kirana pria itu terkejut.
“Kenapa aku tidak merasa jijik terhadap wanita ini, siapa yang mengirimnya?” Sabian tidak tahu apa yang terjadi dengan tubuhnya.
Sabian merasa penasaran dengan apa yang terjadi, ia mencoba untuk Kembali menyentuh serta memeluk tubuh gadis yang terbaring di ranjang dengan pengaruh obat, Ketika ia merasa tidak terjadi apapun pada dirinya ia pun melanjutkan aksinya.
"Tidak...Jangan," kirana mencoba untuk menghentikan perlakuan Sabian tetapi, gagal karena tidak memiliki tenaga.
"Diamlah aku hanya ingin mencicipimu," Sabian berbisik ketika merasakan ada penolakan dari Kirana.
Ketika asyik mencumbui Kirana asisten Sabian masuk ke kamar akan melaporkan informasi yang ia dapatkan asisten itu kaget dengan apa yang dilihatnya, Sabian berhenti sejenak mencicipi tubuh Kirana saat tahu asistennya telah kembali.
"Tuan muda anda tidak alergi terhadap nona yang terbaring di ranjang ini?" Asisten itu sangat terkejut.
"Keluarlah laporkan saja besok pagi, wanita ini spesial, aku tidak ingin ada yang mengganggu malam ini," pemuda itu mengibaskan tangannya pertanda meminta asisten untuk keluar kamar hotel.
Sabian tersenyum kearah Kirana, mengelus wajah cantik Kirana dia tak tahan untuk mencecap bibir Kirana, mencumbui tubuh Kirana sanpai lelah dan tertidur.
Kirana hanya bisa menangis meratapi kehilangan kesuciannya malam ini, yang dia ingat sedang makan bersama Tania baru beberapa suap memakan hidangan kepalanya terasa pusing dan tubuhnya lemas, tidak salah lagi pasti ini perbuatan jahat kakak tirinya.
"Sialan, brengsek, aku akan mengingat kejadian malam ini Tania ini pasti ulahmu," gerutu kirana dalam hati.
Kirana sadar saat pagi sudah datang dia melihat banyak tanda merah di tubuhnya, mengingat kejadian semalam Sabian bermain seperti seorang pria yang sudah lama berpuasa begitu semangat tak terkendali membuat Kirana merasaka sakit di pinggangnya.
"Selamat tinggal pemuda brengsek aku harap kita tidak akan pernah bertemu lagi," bisik kirana pada pemuda yang masih tidur di ranjang itu.
"Menarik sekali banyak perempuan yang sangaja ingin naik ke atas ranjangku, tetapi perempuan ini malah tidak ingin bertemu lagi denganku," Sabian melebarkan senyum di wajahnya.
Sabian sengaja berpura-pura masih karena ingin mengetahui apa yang akan di lakukan Kirana saat pagi tiba, ia mengambil telepon memberikan perintah kepada asistennya untuk mengikuti Kirana yang telah keluar dari kamar hotel tempat dia bercinta semalam dengan Kirana.
"Ikuti perempuan yang keluar dari kamarku, laporkan apa yang terjadi padanya, aku akan segera menemuinya lagi," ucap pemuda itu pada asistennya melalui sambungan telepon.
"Baik tuan muda," asisten itu menyuruh anak buahnya untuk mengikuti Kirana yang berhasil menghilangkan kutukan alergi perempuan pada Sabian.
---
Kirana berjalan menyusuri lorong hotel dengan perasaan kecewa, marah, kesal, campur aduk di dalam hatinya ketika mengingat kejadian semalam.
Lebih sakit lagi ketika ia memergoki Tania dan Han kekasihnya memasuki salah satu kamar hotel, mungkin karena sudah tak bisa menahan gelora asmara mereka lupa menutup rapat pintu sehingga Kirana bisa mengintip apa yang terjadi di dalam kamar.
"Aaaaa... teruskan sayang, aku suka gaya seperti ini kamu sungguh membuatku mabuk kepayang," kakak tiri Kirana meronta keenakan.
"Teruslah berteriak aku semakin bersemangat mendengar desahan dari mulutmu," ucap Han saat memadu kasih dengan Tania.
Tania dan Han sedang di mabuk asmara tanpa mereka sadari orang yang telah mereka khianati melihat semua macam gaya yang di gunakan saat menikmati surga dunia.
Hati kirana terasa sesak, sudah kehilangan kesucian di hari yang sama ia menemukan kekasihnya berselingkuh bersama kakak Tiri, Kirana memberanikan diri masuk ke kamar pasangan mesum itu.
"Han jadi kamu berselingkuh dengan Tania di belakangku?" kedatangan Kirana mengejutkan pasangan selingkuh ini.
"Kirana?" Han kaget dia menghentikan aktivitas bercumbunya, reflek berdiri mengambil celana dalam untuk memakainya.
Kakak tiri Kirana sengaja membuat hati Kirana agar bertambah panas dia turun dari ranjang sengaja memeluk Han mencium bibirnya dengan gairah yang membara, seolah tidak ada lagi rasa cinta yang tersisa untuk Kirana di hati Han.
"Kirana Han hanya mencintaiku, Han katakan pada Kirana bahwa kamu hanya mencintaiku," kakak tiri Kirana merangkul mesra Han.
"Dasar perempuan murahan,” Kirana menampar kakak tirinya karena tersulut emosi.
Han tidak terima melihat Kirana menampar Tania, selama delapan tahun pacaran Han tidak pernah menyentuh Kirana apalagi memberikan kehangatan di atas ranjang seperti yang di berikan Tania.
Plak!
Han menampar balik Kirana.
"Kamu yang murahan karena memberikan tubuh pada pria asing," Han membentak Kirana.
"Sudah lah kirana Kamu dan Han tidak ditakdirkan bersama, takdirmu adalah menjadi wanita simpanan lelaki yang telah tidur denganmu tadi malam," kakak Kirana sengaja memperkeruh keadaan.
Tidak tahan dengan hinaan dan cacian dari dua orang yang menghianatinya, Kirana mengambil botol air mineral yang berada tak jauh dari tempatnya berada dan melemparnya ke arah Tania.
"Tutup mulutmu, belum puaskah kamu mengambil semua milikku?" Kirana melempar botol tetap sasaran.
"Perempuan gila, berani sekali kamu menyakiti wanitaku,"
Han mencekik leher Kirana hingga merasa kesulitan bernapas dan perlahan tak sadarkan diri.
Brakkk!
Beruntung asisten Sabian datang tepat waktu menyelamatkan Kirana, ia datang bersama beberapa anak buahnya, membawa Kirana pergi dari kamar Han dan Tania.
"Perempuan murahan berani sekali mengganggu kesenanganku," Han memaki Kirana.
"Sudahlah sayang mereka semua sudah pergi, lebih baik kita lanjutkan urusan ranjang kita,"
Kakak tiri Kirana mencium Han dengan lembut serta mendorongnya ke ranjang, membuat Han mabuk kepayang dengan goyangan mautnya.
"Terimakasih Tania kamu memberikan apa yang tidak bisa Kirana berikan," Han yang kelelahan merebahkan tubuhnya.
Kirana tak menyangka akan datangnya hari dimana kesuciannya terenggut orang asing, kekasih berselingkuh dengan kakak tirinya, dia terus berteriak saat tak sadarkan diri, saat ia sadar dia sudah terbaring di ranjang yang asing.
"Kamar ini bukan kamarku, ada dimana aku?" Kirana melihat sekeliling ruangan tempat ia terbaring.
"Kamu sudah bangun, tenang saja kamu aman disini," Sabian tersenyum melihat Kirana sadar sejak awal ia menjaga Kirana.
"Kenapa kamu lagi?" Kirana kembali tak sadarkan diri.
Sabian panik saat Kirana Kembali tak sadarkan diri, ia berteriak memanggil asistennya.
"Cepat panggilkan Dokter Jay kesini," ucap Sabian saat asistennya sudah datang.
That night—Elian dreamed.---But it did not feel like a dream.---Cold wind brushed against his skin as he slowly opened his eyes.Darkness stretched endlessly around him.Not ordinary darkness.This place felt alive.Breathing.Watching.---Elian frowned softly as he stood barefoot upon black water.Ripples spread beneath his feet despite not sinking.The sky above him was crimson.Not sunset crimson.Blood crimson.And far in the distance—A massive throne stood atop a mountain of obsidian stone.---Elian’s chest tightened.Something about this place felt horribly familiar.Even though he had never seen it before.---The air smelled strange here.Ash.Smoke.And something metallic beneath it all.Blood.---“Elian…”The whisper echoed softly through the endless dark.He turned quickly.No one.Only shadows drifting slowly across the water like ghosts.---Then another whisper came.Closer.“My child…”A chill ran down his spine instantly.That voice again.The same one from th
The castle no longer held the quiet warmth it once had. Not for Kael. Not after watching Elian's eyes turn black—not the deep, reflective black of a normal pupil dilating in darkness, but a void. An absence. Something that swallowed light rather than simply lacking it.The whispers had become clearer too. Kael couldn't hear them himself, but he felt them, a faint vibration through the bond, a wrongness that clung to Elian like cobwebs. And the subtle changes? They were no longer subtle. Each morning brought something new—a forgotten word, a misplaced object, a moment of stillness where Elian's face went slack, and his gaze turned inward.---Kael stood on the training courtyard's observation platform that morning, the cold stone biting through the soles of his boots. Below, warriors clashed in the pale winter light, their grunts and the ring of steel against steel filling the air. But Kael saw none of it. His crimson eyes were fixed on a point in the middle distance, unblinking, lost
Morning came too gently for the dread sitting inside Kael’s chest.The sun rose beyond the mountains, spilling pale gold across the kingdom, but the warmth never reached him.Not after what he learned in the library.Not after the whispers.Not after those words burned into ancient pages by unseen hands.---The child born from Sovereign blood may become a bridge between realms.---Kael stood outside the royal chambers for a long moment before entering.For the first time in years—He hesitated.Not because he feared battle.Or enemies.Or death.But because he didn’t know how to look at the future growing inside Elian without imagining danger reaching for it from every direction.---The doors opened quietly.Warm scent immediately wrapped around him.Moonflowers.Honey.His mate.---Elian sat near the window wrapped in a loose robe, silver hair falling over one shoulder while morning light painted his skin softly gold. A tray of untouched breakfast sat nearby.Kael noticed immedia
The castle slept beneath silver moonlight.But Kael did not.---The moment Mira left the royal chambers earlier that evening, Kael had noticed it immediately—The fear in her scent.Sharp.Uneasy.Real.Mira was not easily frightened.Years serving within the castle had hardened her nerves long ago. She had witnessed Kael during blood moons, seen nobles tremble under his rage, watched executions without fainting once.Yet today—Her hands shook.And when she looked at Elian…It wasn’t ordinary concern in her eyes.It was fear.---Kael stood silently beside the chamber window now, watching Elian sleep.The omega rested peacefully beneath thick blankets, silver hair spread across the pillows while one hand rested protectively over his stomach even in sleep.The sight softened Kael’s expression briefly.Then the memory of Mira dropping the tray returned.His gaze darkened again.Something was wrong.And Kael was done waiting for answers to come to him.He would drag them out himself.-
The berry's tart sweetness lingered on my tongue as Kael's thumb traced my lower lip, wiping away a stray drop of juice. His crimson slits held mine, intense yet soft in the morning light filtering through the chamber's heavy drapes. Ryker had slipped out moments ago, tray half-empty, his awe-struc
Hours slipped by in the hideout's cocooned silence, the world beyond its stone veil forgotten. Elian stirred awake, a soft gasp parting his lips as hunger gnawed at his belly—or perhaps it was the weight of memories crashing in like a tidal wave. He blinked up at the rough-hewn ceiling, cracks spid
The weight of the castle's stone walls pressed heavier on me with each passing hour, the full moon's approach like a distant drumbeat in my veins. I couldn't shake the ache for home—not the opulent chambers Kael had given me, but the simple wooden hut where Ma's herbs dried by the hearth and Selena
Selena's heart thundered in her chest as Lucien stood there, his tall frame filling the small space of her room like a storm cloud blotting out the star. She yanked her wrist from his gentle hold, rubbing it as if to erase the lingering coolness of his skin."What were you thinking?" she whispered






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews