تسجيل الدخولSekarang, tiba – tiba satu sentuhan membuat kontak mata mereka beradu pekat. Svanna menahan napas mendeteksi cengkeraman Nightroe cukup menyakitkan di tulang rahangnya. Dia sedikit meringis. Dengan reaksi murni menyentuh pergelangan tangan yang terasa kokoh, supaya pria itu mengerti bagaimana cara melepaskan seseorang yang bahkan belum melakukan apa pun sebagai bentuk kesalahan.
“Apa yang kau mau, Nightroe?” Svanna bisa mendengar sendiri betapa suaranya diliputi nada getar tertahan. Kekhawatiran dalam dirinya berusaha mendesak agar dia melakukan perlawanan diri. Namun, Nightroe selalu memiliki cara untuk membuat situasi terasa sangat menyakitkan. Kemarahan di mata pria itu meninggalkan banyak hal tak terduga yang tak dapat dia gambarkan di antara mereka. Dalam sekejap saja cengkeraman di rahangnya turun menjelma seperti sebuah cekikan mengerikan. Sisa peristiwa kemarin pagi rasanya masih bergenangan di benak Svanna; bagaimana Nightroe membuat dia hampir kehilangan napas, tetapi kali ini dia membayangkan jika pria itu akan segera mengakhiri nyawanya hanya untuk membuat pernikahan ini segera selesai. “Nightroe—“ Panggilan Svanna tercekat di ujung tenggorokan. Cukup yakin kalau – kalau Nightroe telah melihat bagaimana dia begitu tak berdaya dan putus asa. Rasa takut selalu hebat. Tidak ada cara menandingi kekuasaan pria itu. Tiba – tiba saja pelbagai situasi terasa sangat mengejutkan. Tubuhnya terlempar di atas ranjang diliputi posisi setengah duduk dan satu lengan menyangga di permukaan kasur dengan menyedihkan. “Apa yang kau lakukan di sini?” Suara berat Nightroe bertanya sarat meninggakan atmosfer permusuhan yang dahsyat. Pria itu bersikap seolah – olah telah lupa bahwa mereka menikah; terikat; dan Svanna memang diarahkan oleh pelayan untuk menunggu di kamar ini beberapa waktu lalu. Dia tidak tahu. Tidak pernah mengira jika Nightroe akan sangat keberatan oleh keberadaannya di sini. Svanna menggeleng tidak terima. Mungkin tidak ada yang bisa dilakukan demi menghadapi perilaku kejam Nightroe, tetapi dia bisa bersikap tegas supaya kewarasannya tetap berada dalam pengawasan terbaik. “Bukankah ini sudah menjadi kamar kita?” dan berbalik tanya hanya untuk membuat Nightroe kemudian mendesis sinis. “Kau begitu yakin jika kamar ini untukmu?” Svanna akan berkata tidak, andai peristiwa empat tahun lalu tak pernah terjadi dan menciptakan kebakaran hebat di antara hubungan mereka. Empat tahun lalu Nightroe menginginkan wanita berbeda, bukan malah mendapati keberadaannya di sini—membuat kemarahan pria itu selalu memuncak, hingga segala sesuatu terasa sangat menyakitkan. “Kita baru saja menikah.” Svanna tak bisa mengatakan lebih banyak. Dia takut membongkar apa pun yang telah mereka sembunyikan, apa pun yang telah membuat mereka menganggap masa lalu sebaiknya dikubur dalam – dalam. “Jangan kau berpikir bahwa aku setuju menikahimu, maka kau akan memiliki hak untuk melakukan apa pun yang kau mau.” Nada mendesis masih selalu menjadi kegemaran Nightroe ketika mereka terlibat dalam percakapan. Svanna tahu betapa bencinya pria itu. Akan tetapi, haruskah dia mengatakan sesuatu yang setidaknya akan membuat kondisi saat ini terasa lebih baik? Sambil menelan ludah kasar. Svanna mengumpulkan keberanian untuk mengungkap sesuatu dengan seharusnya, “Aku hanya duduk diam di sini. Tidak ada yang kulakukan selain itu.” Sekelebat ekspresi Nightroe berubah setelah dia berhasil mengatakan semuanya. Pria itu benar – benar menganggap ini adalah sesuatu yang salah dan mungkin akan ada hal lebih buruk dari situasi di sini. “Ada tiga aturan serius yang tidak bisa kau langgar begitu saja.” Suara berat sarat nada berbahaya membuat ketegangan di balik bahu Svanna meningkat dahsyat. Dia berharap bisa berpikir jernih, atau paling tidak sanggup menghadapi situasi di mana Nightroe masih hanya menatapnya tajam. “Apa yang tidak kau ingin aku lakukan?” Svanna bertanya lambat. Segera menelan ludah kasar saat mendeteksi Nightroe berjalan satu langkah lebih dekat. Pelbagai situasi terjadi begitu cepat. Tiba - tiba tangan pria itu menekan di permukaan ranjang, membuat wajahnya terkurung di antara lengan kokoh dan besar, yang meninggalkan radar bahaya. “Jangan menyentuh apa pun yang ada di tempat ini, selama itu bukan milikmu.” Semua terlalu mendadak. Svanna belum sepenuhnya memahami maksud pernyataan Nightroe ketika pria itu lebih dulu menarik selimut yang membungkus di tubuhnya, lalu melempar benda tersebut secara asal ke lantai kamar. Dia terkejut. Tentu. Ironi. Harus menahan teriakan di ujung tenggorokan dan menatap Nightroe tak percaya. Iris sapphire itu menyiratkan kilatan tajam, berbahaya, bahkan meninggalkan sesuatu yang sama sekali tidak sepenuhnya dapat Svanna terima. Tidak ada protes dari bibirnya, selain melengkapi kebutuhan untuk menutup bagian tubuh yang terbuka dengan kedua tangan menyilang di depan dada. Dia khawatir, karena sekarang wajah Nightroe telah menunduk persis begitu lekat di sana. Ini bukan malam pertama mereka. Tidak akan pernah menjadi malam pertama mereka. Dia tak mau jika pria itu melakukan sesuatu tanpa izin, atau cara paling keji adalah memaksa. “Kau melakukan banyak pengecualian untuk tidak kusentuh, bahkan pada selimut sekalipun ....” Betapa menyedihkan. Masih ada dua aturan tersisa. Svanna harus menyelesaikan semua sampai selesai, agar diam – diam bisa menarik perhatian Nightroe dari tubuhnya. “Apa pun yang ada di sini, kau tidak berhak memilikinya,” pria itu berkata sinis. Ada sedikit kelegaan saat warna saphirre di mata Nightroe telah mengunci miliknya, meski tidak dimungkiri bahwa sesuatu dalam diri Svanna masih menyimpan tingkat kewaspadaan yang dahsyat. Apa pun yang ada di sini, bukanlah miliknya .... Termasuk jiwa dan raga pria itu. Dia mengerti jika Nightroe tidak akan berbagi apa pun, karena terselip janji yang telah dibuat empat tahun lalu. Svanna hanya tidak memahami ... mengapa sekadar sebuah selimut, dia tak berhak menggunakannya? “Kau tidak ingin aku menyentuh apa pun di sini. Maka, sekarang menyingkirlah. Apa lagi yang tidak ingin kau aku lakukan? Akan kucatat semua dengan baik.” Namun, alih – alih bertanya. Svanna malah mengambil keputusan menantang. Lega rasanya menyaksikan Nightroe menciptakan langkah mundur. Pria itu menjulang tinggi masih dengan tampilan tubuh yang sama. Sangat sempurna. “Jangan pernah mencampuri masalah apa pun di hidupku, dan jangan sekali – kali menginjakkan kaki di ruang kerjaku.” Semua dijabarkan begitu cepat, kemudian pria itu menyisir ke arah lemari. Sepertinya keinginan mandi telah menjadi urung. Svanna mengamati sendiri bagaimana Nightroe sangat terburu – buru merenggut pakaian secara asal, lalu meninggalkannya sendirian di kamar merenungi sisa kekacauan; ada selimut—yang sangat jelas telah dideklarasikan agar tidak disentuh. Dia tak bisa melakukan apa pun di sini, selain hanya menumpang teduh. Ya, Svanna akan tidur di lantai tanpa apa pun. Hanya lantai kamar yang dingin. Nightroe mungkin akan segera kembali dan sebaiknya dia tidak membuat pria itu marah.Tidak bisa menahan diri terlalu lama menghadapi posisi seperti ini. Svanna tidak berusaha melakukan kontak mata bersama Nightroe. Mula – mula mencoba untuk beranjak bangun sendiri, meski hal tersebut merupakan tindakan paling sia – sia. Dia meringis saat Nightroe memaksanya kembali bersimpuh. Bahkan, kali ini melibatkan kedua telapak tangan yang menekan pecahan gelas. Dia bisa melihat sendiri bagaimana darah mulai merembes kecil dari goresan luka di sana. “Aku mohon, hentikan ini, Nightroe.” Semua seperti percuma saat Svanna harus menahan napas menghadapi petunjuk Nightroe berikutnya. Dia tegang; takut membayangkan bahwa ternyata pria itu merenggut tali pinggang yang dikenakan, tetapi hal tersebut memang benar. Nightroe menemukan cara baru untuk memberi penyiksaan kepadanya. Svanna menggeleng ketakutan. Tidak siap terhadap suasana seperti ini, tetapi tidak ada perlawanan bisa dilakukan. Kebutuhan berlutut terlalu lama telah membuat beberapa kepingan kaca yang t
Svanna gemetar ketakutan mendeteksi langkah seseorang mendekat di balik punggungnya. Pelbagai ancaman seakan menyebar liar dan dia tak bisa melakukan apa pun sampai cengkeraman menyakitkan di kedua lengannya menuntut supaya dia berbalik badan. Nightroe di hadapannya. Menjulang tinggi seperti sosok yang datang dengan wasiat mencabut kenikmatan yang bisa dirasakan. Lidah Svanna mendadak keluh, seolah dia tidak sanggup menemukan jawaban terbaik sekadar mengatakan sesuatu; ingin sekali saja membuat Nightroe percaya bahwa tidak pernah ada sedikitpun niat melanggar aturan yang pria itu buat. “Kau sudah berani mengabaikan perintahku, bukan begitu?” Suara berat Nightroe meninggalkan kekhawatiran yang tak pernah bisa Svanna bayangkan. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada petunjuk tentang bagaimana cara menghentikan Nightroe dari kemarahan tak terduga. Bagaimanapun, belakangan ini ketegangan di antara mereka sedikit menghadapi suasana lebih baik. Sebelum dia
Langkah Svanna tertahan ketika menyadari sesuatu yang berbeda di hadapannya. Pintu ruangan ini .... Dia cukup yakin itu merupakan tempat yang sering kali Nightroe datangi, atau barangkali memang sudah menjadi bagian dari kehidupan suaminya. Mungkin jika menduga – duga secara gamblang ... Svanna akan menemukan kenyataan; bahwa sebentuk tempat ini merupakan larangan baginya. Ruang kerja. Benar. Ruang kerja pria itu. Pelbagai suasana di sekitar menimbulkan sesuatu yang tidak terbayangkan di benaknya. Atmosfer terasa luar biasa membekukan, tetapi yang tidak sama sekali dia mengerti adalah ... mengapa pintu ruang kerja itu memiliki celah terbuka saat sementara Nightroe sedang tidak di rumah? Seseorang diam – diam menerobos masuk ke dalam? Rasa ingin tahu mendesak deras di benak Svanna. Namun, sesuatu dalam dirinya diliputi gambaran menyambar jika mengambil keputusan penuh tekad di sini. Berharap bisa melangkah masuk ke dalam dan di saat bersamaan keta
“Kau terlihat bersemangat sekali, Kakak Ipar.” Tangan dalam balutan sarung berkebun, yang nyaris kembali merenggut rumput – rumput liar di sekitar tanaman Dahlia, tertahan di udara ketika suara Orlando menyelinap di balik bahu Svanna. Dia segera menoleh ke belakang. Tidak pernah mengira bahwa pria itu akan muncul di saat – saat begitu hening di sini, tetapi sepertinya Orlando memiliki waktu luang. Anehnya, selalu menampakkan diri di mansion ini ketika Nightroe benar – benar melakukan kegiatan di luar. “Kau selalu mengikutiku,” ucap Svanna sesaat, sengaja ingin tahu jawaban seperti apa yang akan Orlando berikan. Kedua tangan pria itu dimasukkan ke satu celana. Orlando sesaat melirik ke arah Laut Mediterania. Hamparan permukaan air yang luas; itu memang menyenangkan. “Kau tahu aku senang berjalan – jalan di sini.” Demikian pernyataan Orlando. Sesuatu yang membuat benak Svanna seakan disergap pelbagai dorongan ganjil. “Aku tahu. Tapi pria se
“Kau sangat seksi saat bertelanjang, kau tahu itu?” Svanna menelan ludah kasar ketika Nightroe berbisik terlalu dekat. Mulut pria itu tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menciumnya. Ini berbahaya, tetapi dia tidak bisa melakukan apa pun sekadar menyangkal. “Kau sudah basah. Masih ingin menolakku?” Belum ada kesiapan. Tiba – tiba Svanna merasakan Nightroe membalikkan tubuhnya untuk menelungkup di atas ranjang. Kemudian jemari kasar pria itu memaksa supaya dia mengangkat pinggul lebih tinggi. Sesuatu yang besar dan kasar berusaha menerobos masuk di inti tubuhnya. Svanna menelan ludah kasar. Diam – diam mengepalkan telapak tangan setelah menerima setiap sentuhan Nightroe tanpa memiliki sedikitpun kesempatan membebaskan diri. Pria itu membuatnya penuh di bawah sana. Sama seperti reaksi Nightroe yang menggeram samar. Perlahan, pinggul seksi itu mulai bergerak. Mula – mula memberi hujaman pelan, kemudian tempo mulai mengikuti keinginan dasar tak ter
“Apa ini?” tanya Svanna diliputi pelbagai keraguan setelah memutuskan untuk beringsut jauh dari Nightroe. Posisi mereka setidaknya telah berjarak, tetapi dia tetap harus bersikap waspada. “Sesuatu yang mungkin kau suka.” Suara berat Nightroe sedikitpun tidak meninggalkan kecurigaan kali ketika Svanna berusaha mendelik lebih serius. Mata sapphire di sana bahkan menatapnya ... seolah pria itu benar – benar menunggu momen di mana penutup kotak dibuka. Firasat buruk secara naluriah mengambil situasi di antara mereka. Svanna takut menghadapi hal – hal yang tak bisa dia selesaikan dengan tepat. Namun, rasa ingin tahu tidak berusaha memberikan pengertian serius. Perlahan, dia mulai membuka kotak hadiah dari Nightroe. Begitu tentatif sampai akhirnya sebuah pemandangan mengerikan menyerupai petir yang menyambar. “Ya, Tuhan!” Svanna seperti merasakan jantungnya direnggut paksa. Potongan tangan seseorang membuat dia cukup histeria, hingga kotak pemberian Nightroe
“Kau tahu aku sangat membencimu. Bersiaplah pada neraka yang akan kau hadapi, jika sekali saja berani untuk menandatangani kontrak pernikahan ini.” Svanna mengerti bahwa dia tidak akan pernah lepas dari gambaran kehidupan gelap setelah memutuskan untuk meninggalkan California dan kembali terdampar
Situasi tampak mengejutkan ketika Svanna harus tersentak bangun dan mendapati dirinya sudah tidak lagi berhadapan dengan lantai kamar yang dingin, tetapi ini bukan tempat tidur. Aneh. Siapa yang memindahkannya ke atas sofa? Masih di kamar yang sama. Wajah Svanna mengedar ke pelbagai arah. Ranjang
Nightroe melihatnya menawarkan diri pada pernikahan mereka dan seharusnya tidak menjadi berita mengejutkan jika Svanna akan menghadapi saat – saat di mana malam pernikahan terasa semacam teriring ke tambak kutub membekukan. Dia tak menyangkal tentang betapa sakitnya ketika semua orang menyaksikan
“Kau pikir aku melindungi-mu?”Tubuh Svanna tersentak di dinding kamar setelah cengkeraman tiba – tiba mendarat di rahangnya. Nightroe bahkan berbisik sinis, seolah ingin menunjukkan bahwa semua ini bukan bagian dari keinginan pria itu.Suara tembakan. Segala bentuk kejadian menciptakan bunyi mengg







