مشاركة

Bab 110 Rutinitas

مؤلف: Gauri Nayara
last update تاريخ النشر: 2026-07-14 01:07:17

Hari itu, suasana tenang di kediaman Aristhos benar-benar sirna, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. Tatjana, yang kini sudah sangat lincah berjalan, bahkan hampir bisa disebut berlari kecil dengan kaki-kaki gembulnya kini menemukan hiburan baru yaitu mengejar apa pun yang bergerak.

"Tatjana! Jangan ke sana!" teriakan Thalassa menggema di lorong utama saat ia melihat putri kecilnya mengejar seekor kucing milik pelayan yang kebetulan lewat.

Tatjana tertawa melengking, suara tawanya yang r
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 113 Mendisiplinkan Duke

    Kaelen masih berdiri di dekat jendela ruang kerjanya, mencoba berpura-pura sibuk membaca laporan perbatasan, padahal telinganya terus menangkap suara tawa dan denting cangkir teh dari kejauhan. Begitu pintu ruang kerja terbuka, ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk. Aroma mawar dan teh melati yang lembut memenuhi ruangan. Thalassa berjalan masuk, menutup pintu dengan pelan, lalu berdiri tepat di depan meja kerja Kaelen. Ia tidak berteriak, tidak pula marah-marah dengan wajah memerah. Ia hanya menyilangkan tangan di depan dada, menatap suaminya dengan tatapan teduh namun menusuk. "Jadi," suara Thalassa lembut, nyaris seperti bisikan, namun Kaelen merasakan bulu kuduknya berdiri lebih tegak daripada saat ia menghadapi pasukan musuh. "Tadi itu 'prosedur standar pengamanan'?" Kaelen meletakkan penanya, berusaha menatap Thalassa dengan wajah datar yang tidak bersalah. "Itu prosedur untuk memastikan keamanan lingkungan sekitar Tatjana. Aku tidak bisa membiarkan ada elemen as

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 112 Pesta Teh

    Kastel Aristhos hari itu tampak berbeda. Ruang minum teh yang biasanya kaku dan bernuansa militer kini dihiasi oleh bunga-bunga segar dan taplak meja sutra berwarna pastel. Thalassa, dengan gaun berwarna biru pucat yang anggun, tampak sibuk menata kue-kue kecil di atas piring porselen. Di sampingnya, Tatjana duduk di kursi bayi khusus, tampak antusias dengan tumpukan mainan kayu yang telah disiapkan. Namun, di balik pilar besar aula utama, tepat di balik tirai beludru yang berat, berdiri sesosok pria dengan napas yang tertahan. Kaelen sang Duke Utara yang ditakuti sedang berdiri mematung. Ia mengenakan jubah hitam kelam yang menyatu dengan bayangan, matanya menyipit tajam mengawasi setiap tamu yang datang. "Aku tidak suka ini," gumam Kaelen pada dirinya sendiri, suaranya nyaris tak terdengar. "Kenapa mereka harus membawa anak-anak mereka ke sini? Rumahku bukan taman bermain umum." "Duke Kaelen," bisik kepala pelayan yang berdiri di sampingnya dengan keringat dingin. "Ampun. Anda ha

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 111 Rasa Aman

    Pagi itu, taman belakang kediaman Aristhos menjadi saksi kegesitan langkah kecil Tatjana. Ia tidak lagi sekadar belajar berjalan, melainkan sudah bisa berlari kecil dengan tangan gembul yang terentang lebar. Kaelen dan Thalassa duduk di paviliun kayu, mengawasi setiap gerak-gerik putri mereka.Tatjana tiba-tiba berhenti di depan sebuah bunga mawar besar yang mekar sempurna. Ia berbalik, menatap kedua orang tuanya dengan mata bulat yang berbinar cerdas."Ayah! Lihat! Bunga... besar!" seru Tatjana sembari menunjuk mawar itu dengan bangga.Kaelen tersenyum tipis, bangga melihat betapa lancar putrinya mengekspresikan diri. Namun, sifat protektifnya langsung muncul. Ia berdiri dan mendekati Tatjana dengan langkah sigap. "Iya, Sayang, bunganya cantik. Tapi jangan disentuh ya, ada durinya. Nanti tangan Tatjana sakit."Tatjana memiringkan kepalanya, tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya merentangkan tangan ke arah Kaelen. "Gendong! Ayah, gendong... mau lihat atas!"Kaelen tidak memiliki ke

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 110 Rutinitas

    Hari itu, suasana tenang di kediaman Aristhos benar-benar sirna, digantikan oleh kepanikan yang luar biasa. Tatjana, yang kini sudah sangat lincah berjalan, bahkan hampir bisa disebut berlari kecil dengan kaki-kaki gembulnya kini menemukan hiburan baru yaitu mengejar apa pun yang bergerak."Tatjana! Jangan ke sana!" teriakan Thalassa menggema di lorong utama saat ia melihat putri kecilnya mengejar seekor kucing milik pelayan yang kebetulan lewat.Tatjana tertawa melengking, suara tawanya yang renyah memenuhi ruangan. Tubuhnya yang padat dan gembul itu bergoyang ke kanan dan ke kiri saat ia mempercepat langkahnya. Dengan pipi gembul yang memerah karena semangat, ia tidak peduli pada teriakan ibunya.Kaelen, yang baru saja keluar dari ruang kerja, nyaris tertabrak oleh gumpalan kecil yang berlari sangat cepat itu. Matanya membelalak saat melihat Tatjana hampir menabrak guci porselen setinggi manusia di pojok lorong."Tangkap dia!" Kaelen berseru dengan nada otoriter yang bergetar karena

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 109 Dirayakan

    Pagi itu, halaman tengah mansion Aristhos tidak lagi terlihat seperti taman pribadi, melainkan lebih menyerupai pusat pameran harta karun kekaisaran. Kaelen berdiri di tengah selasar dengan tangan bersedekap, menatap barisan pelayan yang membawa kotak-kotak kayu berukir dan beberapa kain penutup beludru yang menyembunyikan benda-benda besar di belakangnya.Thalassa berjalan keluar sambil menggandeng tangan Tatjana yang masih berjalan goyah, kaki gembulnya melangkah satu-satu dengan penuh semangat. Saat mata Thalassa menangkap pemandangan di depannya, ia menghentikan langkahnya, tertegun."Kaelen... apa ini semua?" tanya Thalassa, suaranya mengandung nada sangsi yang jelas.Kaelen menoleh, wajahnya yang kaku seketika melunak saat melihat Tatjana mencoba melepaskan diri dari pegangan ibunya untuk mengejar seekor kupu-kupu. "Hadiah. Untuk langkah pertamanya kemarin. Seorang Aristhos tidak merayakan pencapaian besar dengan tangan kosong, Thalassa."Kaelen memberi isyarat dengan tangannya

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 108 Menapak di Atas Kasih Sayang

    Matahari pagi menyusup malu-malu melalui jendela besar di aula utama mansion Aristhos, menyinari lantai marmer yang kini telah tertutup sepenuhnya oleh karpet bulu domba tebal, permintaan mutlak Kaelen agar lutut gembul putrinya tidak tergores. Suasana yang biasanya kaku dan penuh kedisiplinan itu kini terasa tegang dengan cara yang berbeda.Kaelen duduk berlutut di satu sisi karpet, melepaskan jubah kebesarannya hanya untuk bisa bergerak bebas di lantai. Di seberangnya, terpaut jarak sekitar lima langkah, Thalassa duduk sembari memegangi ketiak gembul Tatjana yang tengah berdiri goyah di atas kedua kaki mungilnya yang penuh lipatan lemak."Lepaskan dia perlahan, Thalassa," bisik Kaelen. Suaranya yang biasanya digunakan untuk mengharduk musuh kini terdengar gemetar karena antisipasi. "Pastikan tanganmu tetap dekat di belakang punggungnya. Jika dia limbung sedikit saja, tangkap dia."Thalassa terkekeh pelan, meski jantungnya juga berdegup kencang. "Kaelen, kau sudah mengatakan itu sepu

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 22 Skandal yang Tertinggal

    Abu dari saputangan perak berinisial E.V. itu baru saja sepenuhnya padam di dalam perapian, meninggalkan jejak hitam yang tipis di atas tumpukan arang. Namun, keheningan yang menyusul setelahnya tidak membawa kedamaian. Kaelen masih mengurung tubuh Thalassa di atas ranjang, memeluknya dengan cengke

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 12 Jurnal dan Ilusi Musim Semi

    Aroma pekat tinta dan tumpukan kertas dokumen kementerian memenuhi meja kerja Kaelen. Meski jemarinya bergerak lincah menandatangani berkas-berkas penting wilayah kekaisaran, fokus utama Kaelen Aristhos sama sekali tidak pernah benar-benar tertuju pada pekerjaannya. Sepasang mata kelamnya secara be

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 7 Bayang-Bayang dari Masa Lalu

    Keheningan di dalam perpustakaan yang sebelumnya terasa hangat, tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam. Kaelen, yang sedang merapikan beberapa buku tua di rak paling atas, tanpa sengaja menjatuhkan sebuah buku bersampul kulit kusam. Dari sela-sela halamannya, sebuah amplop biru pucat terjatuh

  • Transmigrasi Menjadi Milik Sang Duke Posesif   Bab 6 Meja Kerja yang Berdebu

    Keputusan Kaelen mengguncang seluruh isi rumah. Sang Duke yang biasanya menghabiskan 18 jam sehari untuk urusan wilayah, kini justru mengurung diri di rumah. Namun, bagi Thalassa, ini adalah surga yang selama ini ia impikan. Kaelen tidak membiarkan Thalassa berada jauh darinya. Saat Kaelen membaca

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status