INICIAR SESIÓNSentuhan bibir Adit di area paling sensitifnya mengirimkan gelombang kejut yang membuat Vera melentingkan punggungnya. Di bawah temaramnya cahaya kamar, Vera mencengkeram erat seprai, sementara Larasati yang berada di sisinya terus menggenggam jemari Vera, menyalurkan kehangatan yang anehnya terasa begitu menenangkan. Tidak ada amarah di mata Larasati; yang ada hanyalah tatapan sayu yang penuh penerimaan.Adit perlahan menyudahi kecupan awalnya, lalu menegakkan tubuhnya di antara kedua kaki Vera yang kini terbuka tanpa daya. Sepasang mata tajam Adit menatap lurus ke dalam netra Vera yang basah oleh air mata gairah."Rileks, Ver... Percaya sama aku," bisik Adit, suaranya terdengar begitu dalam dan berwibawa di sela keheningan malam.Vera tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa mengangguk pasrah, bibirnya yang sedikit digigit menahan desah yang terus mendesak keluar. Jantungnya berdentum begitu keras di rongga dadanya, berpacu antara rasa takut akan rasa sakit pertama, rasa
Di atas ranjang yang sama, atmosfer kamar seolah dipenuhi oleh kabut gairah yang tebal. Vera masih terus menggelinjang, tubuhnya melengkung pasrah didera sisa-sisa badai kenikmatan yang belum sepenuhnya reda dari sistem sarafnya. Di sisinya, Larasati pun dibuat berada dalam kondisi yang serupa; energi murni yang terus dipompakan Adit membuatnya terengah-engah dalam kepuasan yang tumpang-tindih.Ketika Adit akhirnya perlahan menarik dirinya dan mencabut penyatuan mereka, Larasati merasakan kekosongan yang seketika melanda. Tubuhnya benar-benar lelah, lumpuh, dan tak lagi bisa digerakkan. Namun, di tengah keletihan fisik itu, kabut di otaknya perlahan mulai menipis, memaksanya untuk mencerna apa yang sedang terjadi di depan matanya.Larasati mendapati dirinya berada dalam situasi yang sangat membingungkan. Ia tahu Adit sedang beralih pada wanita lain di sebelah mereka. Anehnya, tidak ada rasa cemburu atau amarah yang membakar dadanya.Ada sebuah letupan perasaan asing yang tak bisa ia d
Setelah jeda sesaat yang diisi oleh hela napas pendek, kerinduan Larasati rupanya belum sepenuhnya terpuaskan. Ia masih ingin lagi merasakan kenikmatan yang sungguh gila dan nyata itu. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, ia kembali menegakkan tubuh dan menggerakkan pinggulnya dengan lincah di atas tubuh Adit.Gerakan ritmis yang penuh gairah itu baru benar-benar melambat dan berhenti ketika badai kenikmatan yang kedua kembali menerjang seluruh syaraf tubuhnya. Kali ini, Larasati benar-benar kehabisan daya. Ia ambruk, terengah-engah pasrah dengan tubuh yang lemas dan basah oleh keringat, merebahkan dadanya di atas dada bidang Adit.Di momen itu, Adit memikirkan Vera.Sedari tadi, sebetulnya, indra sensitif Adit bisa merasakan setiap pergerakan gelisah dari ranjang seberang. Vera tidak benar-benar tidur. Adit tahu persis wanita itu sedang berpura-pura terlelap di tengah siksaan batin mendengar semua keintiman ini.Ada rasa tidak tega yang mendalam merayap di hati Adit. Terlebih, ia masih
Di sisi lain ranjang, Vera seketika menahan napas. Jantungnya berdebar-debar hebat menyadari pergerakan Larasati. Namun, Vera tetap memaku tubuhnya, memejamkan mata rapat-rapat, dan berpura-pura tetap tidur di tengah kegelapan malam.Larasati perlahan merebahkan tubuhnya di sebelah Adit, bergerak seringan mungkin agar tidak menimbulkan suara, lalu melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu. Sentuhan lembut dan aroma familier Larasati seketika membuat Adit terbangun.Berkat sirkulasi energi murninya, tidur singkat pun sudah lebih dari cukup untuk membuat kesadarannya pulih sepenuhnya dan matanya kembali segar.Larasati yang menyadari Adit sudah terjaga, semakin merapatkan tubuhnya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Adit dan berbisik lirih, “Dit... aku kangen...”“Iya... aku juga...” balas Adit dengan suara rendah, menatap manik mata Larasati di tengah temaramnya lampu nakas.Mereka pun berciuman, menyalurkan seluruh kerinduan dan rasa lega yang mendalam setelah sekian lama terpisah
Mereka menatap wajah pemuda itu dengan saksama. Ada rasa haru sekaligus takjub yang menyeruak di hati mereka setiap kali melihat penampilan fisik Adit yang sekarang. Wajah di hadapan mereka saat ini adalah hasil dari operasi paksa yang dilakukan oleh Sekte Kegelapan saat Adit diculik waktu itu. Wajah aslinya telah hilang, berganti dengan struktur wajah baru yang 90 persen berbeda dari Adit yang mereka kenal dulu.Namun, di balik tragedi mengerikan itu, sebuah keberuntungan kecil tetap berpihak pada Adit. Dokter dari Sekte Kegelapan yang mengoperasi wajahnya dulu ternyata adalah seorang penggemar berat drama Korea. Alhasil, sang dokter merekonstruksi wajah Adit hingga kini memiliki visual yang luar biasa tampan, mirip dengan artis Korea papan atas yang sering diidolakan banyak orang. Dengan kulit yang bersih efek dari sirkulasi energi murninya, garis rahang yang tegas namun lembut, serta mata yang kini memiliki sorot yang lebih dalam, Adit benar-benar bertransformasi menjadi sosok yang
Pintu lift berdenting terbuka di lantai lobi. Larasati hampir berlari keluar, sementara Vera mengekor beberapa langkah di belakangnya dengan topi fedora yang ditarik agak rendah dan masker yang masih menutupi sebagian wajahnya.Di dekat pilar besar lobi, sesosok pemuda dengan ransel gunung berukuran besar tengah berdiri menyandar. Wajahnya agak kusam oleh debu jalanan, namun senyumnya langsung mengembang begitu melihat siapa yang keluar dari lift."Adit!" seru Larasati tak mampu membendung kegembiraannya.Ia langsung menghambur dan memeluk Adit erat-erat, menenggelamkan wajahnya di dada pemuda itu. Laras melepaskan seluruh rasa rindu yang membuncah setelah cukup lama cemas dan terpisah jarak. Adit terkekeh pelan, melingkarkan satu lengannya di pinggang Larasati dan menepuk punggung kekasihnya itu dengan lembut. "Hei, pelan-pelan, Nyonya Besar. Aku bau matahari, lho.""Nggak peduli!" bisik Larasati manja, semakin mempererat pelukannya sebelum akhirnya melepaskannya dengan wajah bersemu







