MasukArsya terbelalak melihat tumpukan piring yang berdiri tegak di hadapannya. Abram susah dia hubungi. Lelaki itu hilang bagai ditelan bumi. Dengan menahan malu Arsya pun harus pasrah di seret ke dapur sebagai pembayar atas makanan yang sudah dia nikmati.
Bukan berarti Arsya tak mencari bantuan lainnya. Dia sudah berulang kali melakukan panggilan pada beberapa nomor yang dia kenal. Seperti kata pepatah, teman datang hanya saat butuh dan lenyap saat dirimu terjatuh. Itulah yang dialami ALiliana baru saja selesai memilih beberapa pakaian dan perlengkapan rumah. Wajahnya mulai tampak sedikit lebih cerah. Suasana hatinya memang sedang tidak baik hari itu. Berbelanja menjadi satu-satunya cara yang ia lakukan untuk mengalihkan pikirannya dari berbagai masalah yang terus menghantuinya.Dengan langkah anggun, ia berjalan menuju meja kasir sambil menyerahkan seluruh barang belanjaannya kepada pramuniaga."Semuanya jadi, Bu?" tanya wanita itu ramah.Liliana mengangguk singkat."Ya, saya ambil semua."Pramuniaga segera memindai setiap barang hingga akhirnya menyebutkan total pembayaran. Tanpa ragu, Liliana mengeluarkan kartu kredit dari dalam dompetnya lalu menyerahkannya."Silakan."Pramuniaga menerima kartu itu dan memasukkannya ke mesin EDC.Beberapa detik berlalu.Terdengar bunyi bip, lalu ekspresi ramah pramuniaga perlahan berubah canggung."Maaf, Bu ..." ucapnya hati-hati. "Transaksinya ditolak."Liliana mengernyit. "Ditolak?
Suara benturan keras menggema di seluruh ruangan ketika Nirwan membanting sebuah map berisi dokumen ke atas meja kerjanya. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang sejak tadi ia tahan.Frederic yang berdiri di hadapan meja refleks tersentak. Ia segera menegakkan tubuh, tak berani mengucapkan sepatah kata pun. Selama bertahun-tahun bekerja bersama Nirwan, ia tahu betul pria itu jarang kehilangan kendali. Namun sekali emosinya meledak, seluruh ruangan seolah diselimuti hawa mencekam."Apa ini?" suara Nirwan terdengar rendah, tetapi sarat tekanan. Jemarinya mengetuk map di atas meja dengan keras. "Kenapa nilai saham perusahaan kita tiba-tiba anjlok separah ini?"Frederic menelan ludah sebelum menjawab dengan hati-hati. "Maaf, Pak. Nyonya Nawles bersama beberapa investor besar telah menarik seluruh investasi mereka dari perusahaan. Kabar itu dengan cepat menyebar ke para pemegang saham lainnya. Mereka panik dan mulai melepas saham mereka secara besar-
Nirwan membawa Nadira ke sebuah rumah yang memiliki sistem keamanan ketat. Setelah kejadian penyekapan yang melibatkan Devan dan Sartika, ia tidak ingin mengambil risiko sekecil apa pun. Selain penjagaan berlapis, Nirwan juga mempekerjakan seorang pelayan paruh baya yang telah lama bekerja dengannya dan sangat ia percaya untuk menemani serta menjaga Nadira selama ia tidak berada di sana.Rumah itu nyaman dan tenang, tetapi Nadira tetap merasa asing. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya menatap keluar jendela, mencoba menenangkan pikirannya yang masih dipenuhi berbagai kejadian yang datang bertubi-tubi.Sementara itu, di tempat lain, amarah Sartika semakin sulit dikendalikan. Sudah dua hari berlalu sejak Nadira menghilang dari rumah dan selama dua hari itu pula ia menyaksikan Devan berubah menjadi sosok yang tidak ia kenali.Pria itu hampir tidak pernah pulang. Setiap hari ia keluar untuk mencari informasi mengenai keberadaan Nadira. Teleponnya tidak berhenti berd
Nadira berjalan pelan menembus gelapnya malam. Langkah demi langkah ia ayunkan tanpa tujuan pasti, hanya mengikuti jalan setapak yang membentang di bawah langit bertabur bintang. Angin malam berembus lembut, tetapi gagal meredakan sesak yang memenuhi dadanya.Setiap langkah justru membuat suara Liliana semakin jelas menggema di kepalanya."Dari awal niatmu menikah dengan anakku hanya untuk balas dendam pada Arsya. Kamu jadikan anakku alat pelampiasan rasa sakit hatimu. Lalu kamu menghilang membuatnya putus asa.""Apa kamu tahu bagaimana anakku menjalani hari-harinya selama ini? Apa kamu tahu hancurnya anakku saat kamu pergi begitu saja dan kini kamu kembali dengan alasan amnesia? Omong kosong!"Nadira memejamkan mata sejenak.Tak ada satu pun kata yang mampu ia gunakan untuk membela diri.Karena sebagian dari tuduhan itu memang benar.Pikirannya perlahan kembali pada masa lalu. Pada awal pertemuannya dengan Nirwan. Pada awal dari semua kekacauan yang kini
Nadira menyandarkan kepalanya pada kaca jendela mobil yang dingin. Deru mesin dan gemuruh jalanan menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan di antara napasnya yang masih berantakan. Matanya menatap lurus ke luar, menyaksikan pepohonan, lampu-lampu jalan yang mulai menyala dan bangunan yang berlarian mundur meninggalkannya.Ia telah berhasil kabur. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti kemenangan. Namun entah mengapa, dadanya tetap terasa sesak. Kebingungan kini mulai menyapa. Ia tak tahu harus kemana, bersembunyi atau menemui Nirwan terlebih dahulu.Pantulan wajahnya samar terlihat di balik kaca. Wajah pucat dengan mata sembap yang kehilangan kilau. Ada bekas luka yang belum sepenuhnya mengering di sudut pelipisnya yang tergores akibat melompat dari balkon saat itu.Nadira mengangkat jemarinya, menyentuh kaca tipis yang memisahkannya dari dunia luar.Begitu dekat.Begitu bebas.Tetapi kebebasan itu terasa asing.Selama beberapa hari hidup
Nirwan memutuskan kembali ke kantor setelah mendengar penjelasan Liliana. Namun, alih-alih merasa lega, kepalanya justru semakin dipenuhi pertanyaan yang tak kunjung menemukan jawaban.Di ruang kerjanya, ia duduk diam di balik meja besar. Sorot matanya tertuju pada pajangan berbentuk bandul yang terus berayun tanpa henti. Gerakannya yang teratur seolah menghipnotis, tetapi gagal meredakan kekacauan yang berputar di dalam benaknya.Penjelasan Liliana terus terngiang di telinganya. Setiap kalimat yang diucapkan sang ibu terdengar masuk akal, tetapi ada sesuatu yang masih mengganjal. Sebuah bagian kecil dalam dirinya menolak menerima semuanya begitu saja.Rahang Nirwan mengencang. Jemarinya bertaut di atas meja, sementara pikirannya kembali mengurai satu demi satu kejadian yang telah terjadi selama ini. Semakin ia mengingatnya, semakin banyak pula kejanggalan yang bermunculan.Bagaimana jika masih ada sesuatu yang disembunyikan?Bagaimana jika selama ini ia han







