LOGINNania hanya seorang pelacur. Dia dijual oleh suami yang ia nikahi saat ia masih remaja. Suaminya yang jahat bahkan tak membiarkan Nania untuk beristirahat agar Nania bekerja untuk keluarganya. Sampai dia bertemu dengan Brata. Seorang pria yang membayarnya untuk menjadi istrinya dan berjanji akan membuat Nania bahagia hingga melupakan masa lalunya.
View More"Tidak ada wanita baik yang akan merebut suami orang lain, terlebih itu adalah suami dari sahabatnya sendiri." Kata-kata itu seolah terus teringat dipikiran dan bergema di dalam telinga gadis berusia 22 tahun yang dalam keadaan tengah tersadar dari tidurnya.
Walaupun keadaan di sana dalam keadaan gelap, tapi mata cokelat gadis itu terus terbelalak dan tangan kirinya meremas selimut putih yang menutupi dadanya. Gadis berambut panjang berwarna light brown yang tengah duduk diatas ranjang berukuran double itu seolah tidak percaya dengan apa yang dialaminya. Kepalanya terasa masih sakit dan ingatannya tentang apa yang terjadi semalam seakan memudar. Yang dia rasakan saat itu tubuhnya seakan remuk, bahkan pinggangnya pun sangat sakit. Tangan kanannya masih memegangi ponsel yang ditempelkan pada telinganya.
Ya, gadis itu terbangun karena suara deringan ponsel.
"Zen! Apa yang kau lakukan hingga tidak pulang semalaman?" tanya seorang dari balik telepon dengan nada khawatir. Suara itu benar-benar tidak asing di telinga gadis bernama Zaylin Aimee. Saat itu bibirnya seakan membeku dan lidahnya kelu, hingga tidak bisa mengatakan ap pun. Karena tidak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya si penelpon memutuskan panggilan itu.
Dalam keadaan masih gemetar dengan berlahan, tangan kanan Zaylin Aimee menjauhkan ponsel itu dari telinganya, lalu sengaja menghadapkan ponselnya itu di depannya. Manik matanya tertuju pada layar ponsel yang menyala tersebut, terlihat foto dari seseorang wanita berambut panjang berwarna hitam sedang tersenyum bersama seorang pria.
Zaylin Aimee menyadari, bahwa yang digenggamnya bukanlah ponsel miliknya, melainkan milik seorang yang bersama dengannya malam itu. Walaupun masih syok dan tidak percaya dengan apa yang terjadi, Zaylin Aimee berusaha bangkit dari ranjang tanpa memedulikan tubuhnya yang terasa tidak nyaman dan bergegas merapikan pakaiannya yang terlepas dari tubuhnya itu.
***
Dengan napas terengah-engah, Zaylin Aimee terus melangkahkan kakinya dengan cepat tanpa henti menjauhi hotel tempatnya menginap semalam menuju jalan raya. Dia benar-benar berharap apa yang dialaminya itu semua hanya mimpi. Langkah kakinya berhenti tepat dipinggir jalan, tapi saat dirinya hendak menghentikan sebuah taksi, lagi-lagi ponselnya kembali berdering. Namun Zaylin Aimee tidak menghiraukannya dan segera naik taxi yang berhenti tepat di hadapannya.Tubuh putih yang terbalut kaos pendek garis hitam putih dilapis cardigan panjang putih dan jeans hitam itu terus saja gemetaran. Kedua tangannya berusaha terus menutupi wajahnya. Ponsel yang ada di kantong celananya terus saja berdering tanpa henti dan terlihat nama kontak yang bertuliskan Gaurika di sana. Setelah deringan ponsel itu berhenti, tidak lama kemudian terlihat ada pesan masuk.
"Alin, kau di mana? Kenapa tidak menjawab panggilanku? Apa kau sibuk? Padahal aku ingin bercerita. Aku sangat cemas, untuk pertama kalinya suamiku semalam tidak pulang tanpa memberikan kabar padaku."
Dalam keheningan, Alin yang belum melihat pesan dari sahabatnya itu pun hanya bisa meneteskan air matanya.
***
Di tempat lain.
Satu jam berlalu setelahnya, tepatnya pukul enam pagi. Seorang pria yang mengenakan jaket kulit berwarna denim mengetuk pintu, tanpa menunggu lama seorang wanita berambut hitam panjang berpakaian daster model kerah seukuran di atas lutut berwarna merah jambu membuka pintu dan tanpa pikir panjang menyambutnya dengan sebuah pelukan hangat."Kamu dari mana saja, Zen? Kenapa baru pulang? Padahal dari semalam aku mencemaskanmu," ucap wanita tersebut.
Namun pria berambut hitam berponi, bermata cokelat terbalut kacamata itu terdiam sejenak dan menghela nafas panjang.
Seperti mempunyai firasat, wanita itu pun kembali bertanya, "Apa ada yang terjadi? Bahkan saat aku telepon, kau hanya mengangkatnya tanpa mengatakan ap pun!" Sambil melepaskan pelukannya, mata hitam wanita itu pun mulai tertuju pada suami yang ada dihadapannya. Spontan suaminya itu pun memalingkan wajahnya. Gaurika yang melihat gelagat suaminya aneh langsung mengerutkan kedua alisnya."Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada yang kau sembunyikan dariku? Ini kali pertamanya kau tidak mengabariku sama sekali!" pekik Gaurika dengan curiga.Dengan cepat sang suami menggelengkan kepalanya dan tangan kirinya menutup matanya."Tidak. Aku hanya lelah dan ingin istirahat. Tolong beri aku waktu untuk istirahat," pinta Zen dengan suara khasnya yang rendah dan agak berat. Tanpa pikir panjang, Zen menjauhkan tubuh istrinya yang terus menempel padanya. Kemudian kaki Zen melangkah masuk ke dalam rumah. Gaurika hanya terus menatap suaminya dari belakang hingga sosoknya menghilang karena masuk ke dalam kamar.Tangan kanan Gaurika menyentuh dadanya yang terbalut daster dan meremasnya sembari bergumam, "Kenapa firasatku tidak enak? Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dia seolah menghindariku? Kalau memang tidak terjadi apa-apa, kenapa dia diam saja saat tadi aku telepon harusnya 'kan jawab saja jika memang dia harus lembur bekerja."
***
Di tempat lain di sebuah rumah yang berada di dekat taman pada sebuah kompleks. Tepatnya di rumah itu ada sebuah kamar yang berdekatan dengan ruang tamu. Ada tulisan Alin tepat di depan pintu kamar tersebut, sang adik yang berselisih umur 6 tahun dengan Alin terus saja mengetuk pintu dengan sangat keras hingga mengganggu seisi rumah."Erin! Apa yang kau lakukan?" tanya sang Ibu yang mendengar anak perempuannya itu terus saja mengendor pintu kamar sang Kakak dari arah dapur.
"Kakak tidak mau keluar, Bu! Padahal aku ingin bermain dengannya," keluh gadis berusia 16 tahun itu.
"Tapi kau lihat sendiri kan, kakakmu baru saja pulang. Biarkanlah dia istirahat dahulu," bujuk sang Ibu yang sibuk mencuci piring.
"Dari pada kau sibuk mengganggu Kakakmu, lebih baik kau bantu Ibu membereskan meja makan. Nanti Kakakmu pasti keluar kok."
Mendengar hal itu, Erin pun menghentikankan tangannya dan bergegas menjauhi kamar sang Kakak menuju dapur mendekati Ibunya.
Dari balik kamar, Alin yang bisa mendengar percakapan Ibu dan adiknya pun hanya bisa terus meneteskan air mata di atas ranjang sambil menutupi wajahnya dengan bantal. Kepala Alin yang tadinya sakit pun mulai pulih dan dirinya dapat mengingat kembali apa yang terjadi.
Kejadian malam itu benar-benar tidak diinginkan Alin. Jika dia mengetahui semua itu akan terjadi, gadis itu pasti akan memilih untuk tidak hadir pada acara semalam. Dirinya menyadari bahwa dia bukanlah gadis yang benar-benar baik, tapi dia pun tidak akan pernah mau menjadi gadis jahat yang akan hadir dalam rumah tangga orang lain terlebih itu sahabatnya sendiri.
Dalam kesendirian meratapi kejadian semalam, ponsel Alin kembali berdering. Dan lagi-lagi itu panggilan dari Gaurika. Padahal sedari tadi, Alin belum melihat ponselnya sama sekali, tapi sahabat SMAnya itu terus saja menelpon dan mengiriminya pesan terus menerus.
"Sekujur tubuhku terasa sangat sakit. Bahkan saat berjalan pun rasanya sangat sakit. Aku tidak bisa mengingat dengan jelas apa yang terjadi saat di dalam kamar hotel itu, tapi aku ingat kejadian sebelumnya. Bila bisa lenyap, lebih baik aku lenyap sekarang juga," lirih Alin.
"Rasa lapar bukanlah hal terpenting bagi manusia seperti saya, Tuan." Nania menerawang entah kepada apa. Matanya yang hitam kecoklatan itu seperti membayangkan masa lalunya yang tak pernah diliputi bahagia."Yang terpenting bagi saya adalah, apakah orang-orang di sekitar saya bisa tidur nyenyak. Apakah mereka bisa bangun keesokan harinya tanpa banyak mengeluh."Mata itu kemudian menatap pada sosok Brata. Seorang pria yang entah bagaimana bisa terlarut dengan semua cerita Nania.Brata yang mengerti apa yang Nania rasa, kemudian bangkit. Dia mendekati Nania, memeluknya dan mengecup keningnya."Entah apa saja yang sudah kamu lalui selama ini. Yang jelas, aku tak mau kamu kembali menjadi Nania yang dulu."Nania menarik napas. Entah kenapa dia begitu tenang saat ada di peluk pria itu. Entah kenapa dia tak ingin lepas walau tahu bahwa dirinya tak pantas ada di naungan seorang Brata.***Nania membuka laptopnya dengan susah payah. Dia kehilangan fokus pada beberapa kolom dokumen yang sengaja
"Ga, Gado-gado?" Suara Budi seperti seekor tikus yang terkena jebakan. Dia tak mengira jika seluruh effort yang dia keluarkan adalah untuk mengabulkan keinginan Nyonyanya berjualan gado-gado. "Nyonya mau buka usaha gado-gado?" ulang Budi."Ya, Pak Budi. Ada yang salah?Sebenarnya tak ada yang salah. Semua bebas menentukan keinginannnya dalam menjalani hidup. Bahkan burung unta juga tak harus bisa terbang untuk mendapatkan predikat burung.Hanya saja, berjualan gado-gado tampaknya terlalu aneh. Biasanya, para wanita kaya akan memikirkan usaha elegan seperti sebuah rumah makan bergaya klasik yang lampu-lampunya dibiarkan temaram, atau sebuah coffee shop dengan biji kopi yang dimasukkan dalam toples demi sebuah kesan bahwa coffee shop itu hanya menggunakan biji kopi asli di menu mereka.Dan gado-gado tampaknya tak sesuai denga ciri khas mahal keluarga Sudibyo. Budi bisa membayangkan betapa murkanya Nyonya Martha jika tahu menantu yang tak dia inginkan justru mendirikan sebuah rumah makan
"Loh? Pak Budi udah kerja?" Nania terkejut saat Budi siap di depan mobil yang akan dia gunakan hari itu. "Pak! Bapak istirahat aja. Nanti saya hubungi suami saya, ya?""Tidak usah, Nyonya." Budi tersenyum santun dan meletakkan lap yang dia gunakan untuk menghapus bekas tetes air d mobil tuannya. "Saya sengaja bekerja hari ini karena bosan di kamar setiap hari.""Jangan khawtir pada Budi, Nyonya. Dia dan Tuan Brata sama-sama keras kepala dan tak bisa diam saja menunggu sembuh. Saya rasa tubuh mereka dibuat dari semacam lempengan besi.""Bi, jangan keterlaluan." Budi berusaha menahan kecepatan suara Bi Hanna yang entah kenapa semakin mudah berkomentar ketika ada di dekat Nania. "Nyonya tak perlu khawatir. Aku dan Tuan terlalu kuat untuk ditumbangkan."Sebenarnya Nania merasa kesal. Baru saja tadi pagi dia mendapati Brata yang hampir jatuh saat kesusahan berdiri. Dia ingin baik Brata mau pun Budi duduk tenang dan sembuh seperti sedia kala tanpa harus memaksakan diri bekerja.Apa yang seb
Nania melihat punggung Evani menghilang. Dia hanya bisa menggeleng pasrah atas kelakuan tak sopan yang dia terima hari ini. Mungkin dia pantas atau mungkin hal semacam ini adalah hal wajar yang biasa diterima kalangan yang disebut Evani sebagai kalangan kelas bawah.Lalu mata Nania menatap Tuan Agustinus yang masih tak berdaya dengan segala alat bantu kehidupan. Dia menggenggam tangan itu, berdoa sejenak ke pada Tuhannya dan menyerahkan keajaiban yang bahkan tak bisa dilakukan manusia oleh tubuh sang pria kaya."Tuan, anda harus tetap kuat." Nania mencoba mengirim pesan positif walau mungkin Tuan Agustinus tak akan bisa mendengar. "Anda adalah orang yang luar biasa bagi keluarga anda. Nyonya Evani sangat beruntung bisa memiliki anda sebagai ayahnya." Nania mencoba memberikan segala dorongan yang bisa ia telurkan."Nyonya Evani pasti menunggu anda di rumah. Dia akan sangat bahagia jika anda kembali seperti sedia kala."Nania menarik napas dan mengalihkan pandangannya pada jendela rumah
"Laporannya sudah masuk, Ndan." Seorang pria berseragam menyetorkan dokumen yang baru saja dia susun filenya."Coba kamu cari panggila ln terakhir dari nomer Pak Robert. Lacak lokasinya, dan juga lacak nomer lain yang terhubung di nomer itu."Tapi, anak buah itu tak berkutik. Dia justru terliha resah
Nania tak pernah mau jadi lembek. Dia tak mau menjadi wanita yang hanya mampu mengeluarkan air mata. Tapi seperti sebuah pengaturan dalam ponsel pintar, jiwa Nania yang dijejali kepahitan hidup yang tak bisa ia lawan membuat air mata Nania jadi satu-satunya pengobat deritanya.Tepat saat dia menghapu
Tak.Suara sendok memecah keheningan. Acara sarapan yang seharusnya hangat, justru jadi horor yang dimulai dengan wajah Brata yang kaku.Nania sendiri tak bernafsu makan, dan hanya menyuap apa yang ada di piring dengan rasa sedih di dada. Bagaimana pun ucapan suaminya masihlah terngiang hingga tidurny
"Bud, kamu udah panasin mobil saya?" Brata tampak sibuk dengan ponselnya. Pagi ini ada janji penting yang harus dia utamakan dan tak mau telat barang sedetik pun. "Nanti berangkat sama Nania aja, ya. Kamu pakai mobil yang lain." Lalu ponsel di tutup. Tepat saat pembicaraan itu berhenti, sebuah tanga












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.