Masuk“Hmm… tunggu sebentar… jangan begini….” Saat sedang diajari yoga secara privat oleh adik iparku, dia malah menekan pinggangku dan memaksaku dalam posisi merangkak di atas matras. Kemudian, tangan besarnya itu mulai meraba tubuhku dengan bebas. Aku merasa malu, sekaligus kesal. Tapi, di saat yang sama, api dalam tubuhku seolah terbakar dan tak bisa dikendalikan. Aku hanya bisa menungging dan berusaha menahan gelombang gairah yang menyerang. Namun, aku tak menyangka sentuhan itu perlahan semakin dalam, membuatku hampir menyerah sepenuhnya. Pada saat aku menyadarinya, tubuhku sudah terkulai lemas dalam pelukannya, terombang-ambing antara nafsu dan rasa bersalah….
Lihat lebih banyakSuaranya terdengar tenang, tapi tegas. Setiap katanya bagaikan pisau yang menusuk keras ke hatiku.“Dengarkan baik-baik.”“Saat kuliah dulu, aku yang lebih dulu menyukai Bobi, tapi kamu malah lebih dulu mendahuluiku dan merebutnya. Kamu pikir selama bertahun-tahun ini aku begitu baik padamu karena tulus bersahabat? Konyol! Aku hanya sedang menunggu kesempatan untuk membuatmu merasakan bagaimana rasanya dikhianati.”Sudut bibirnya menajam, memperlihatkan senyuman mengejek, “Kamu pikir kamu itu sangat polos? Kamu merebut cintaku, lalu dengan sok tahu menikmati persahabatan denganku. Sekarang, ini semua hanyalah balasan untukmu. Kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan!”Seketika, hatiku dipenuhi amarah dan keterkejutan. Semua hal ini benar-benar tak pernah kuketahui sebelumnya.Seandainya aku tahu dia menyukai Bobi sejak dulu, aku tidak akan pernah menerima pernyataan cintanya.Namun, yang lebih membuatku kecewa adalah kenyataan bahwa kebaikan yang dia tunjukkan selama bertahun-tah
Jangan-jangan dia tak ada di rumah? Saat sedang bimbang harus langsung naik ke atas atau tidak, mataku tak sengaja menangkap pemandangan di area parkir yang tak jauh dari sana.Sebuah mobil sedan silver yang sangat kukenal terparkir di sana, bodinya memantulkan cahaya matahari terbenam yang berkilauan. Itu mobil sahabatku! Seketika, secercah harapan muncul di hatiku, sepertinya dia ada di rumah. Namun, baru saja hendak melangkah masuk, aku menoleh kembali ke arah mobi itu dan merasa ada yang aneh.Kok… mobilku bergoyang-goyang?Aku menyipitkan mata, menatap ke arah kaca jendela mobil dan pemandangan di dalam membuatku tercengang.Di dalam mobil, Erika sedang duduk di kursi belakang membelakangiku. Kepalanya tertunduk, seluruh tubuhnya bergerak naik turun. Di depannya duduk seorang pria dengan senyuman penuh kenikmatan di wajahnya.Saat memperhatikan wajah pria itu lebih saksama, itu wajah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup! Ternyata itu suamiku sendiri, Bobi.Aku berdiri mem
Bobi melangkah mendekat, mencoba memelukku, tapi aku langsung mendorongnya dengan kasar. Air mata mengaburkan pandanganku, “Kamu pikir aku bakal percaya omonganmu? Sudah nggak ada lagi kepercayaan di antara kita.”“Keluar kamu!” teriakku yang akhirnya tak mampu lagi membendung emosi.“Aku nggak mau melihat kamu lagi!”Dia hanya mendengus sinis, menatapku dengan tatapan dingin seolah berkata emangnya kamu sebaik apa, sih?Pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi.Pintu tertutup dengan keras. Aku terjatuh ke lantai, membiarkan air mata mengalir deras.Aku membuka ponsel dan melihat foto-foto kami. Di sana kami tampak bahagia. Kebahagiaan masa lalu itu, kini terasa seperti pisau yang mengiris hati.Saat aku masih tenggelam dalam kesedihan, tiba-tiba pintu rumah terbuka dari luar. Aku tersentak dan menahan napas. Bobi kembali lagi?Namun, saat orang itu menoleh, aku terkejut mendapati bahwa yang datang adalah Kevin.Dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Meliha
Aku berdiri mematung di samping mesin cuci, tanganku mencengkeram erat kemeja itu. Ujung jariku bisa merasakan tekstur kainnya, tapi seluruh perhatianku tersedot sepenuhnya pada bekas lipstik di kerah baju itu.Hanya noda tipis, tapi sangat menusuk mata. Bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat ke jantungku. Aku berusaha keras menenangkan pikiran, lalu duduk di sofa sambil tetap memegang kemeja itu erat-erat dengan ribuan pikiran yang berkecamuk.Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Tak lama kemudian, suamiku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut pendeknya yang basah, “Olivia, kamu masak apa? Wangi sekali.”Aku tidak menjawabnya. Sebaliknya, aku mengangkat kemeja itu tinggi-tinggi dan menunjukkan noda merah di depan matanya.“Ini apa?” Suaraku agak bergetar.Melihat ekspresiku yang tidak bersahabat, senyumannya pun pudar. Dia mengambil kemeja itu dan memperhatikannya baik-baik. Aku menangkap kilatan kepanikan di matanya, tapi dia segera berusaha bersikap tenang kembali.“






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.