LOGIN“Hmm… tunggu sebentar… jangan begini….” Saat sedang diajari yoga secara privat oleh adik iparku, dia malah menekan pinggangku dan memaksaku dalam posisi merangkak di atas matras. Kemudian, tangan besarnya itu mulai meraba tubuhku dengan bebas. Aku merasa malu, sekaligus kesal. Tapi, di saat yang sama, api dalam tubuhku seolah terbakar dan tak bisa dikendalikan. Aku hanya bisa menungging dan berusaha menahan gelombang gairah yang menyerang. Namun, aku tak menyangka sentuhan itu perlahan semakin dalam, membuatku hampir menyerah sepenuhnya. Pada saat aku menyadarinya, tubuhku sudah terkulai lemas dalam pelukannya, terombang-ambing antara nafsu dan rasa bersalah….
View More“Serena Ashworth.”
Itulah nama yang dipanggil di dalam kelas Akademi Arvendale. Suara guru terdengar datar, tanpa semangat. Beberapa siswa tidak menoleh, sibuk membuka buku atau berbicara pelan dengan teman di sebelah mereka.
Serena mengangkat tangannya pelan. “Hadir,” katanya singkat. Lalu tangannya kembali turun tanpa drama apa pun.
Ia menghela napas panjang pelan, rupanya ia masih teringat ucapan ayah.
“Jangan mempermalukanku,” kata ayahnya sebelum ia dikirim ke akademi ini.
Serena menatap papan tulis di depan kelas, tapi tidak benar-benar fokus mendengarkan penjelasan guru. Tangannya mengetuk meja pelan, masih ingat tatapan dingin ayahnya. Tidak ada pelukan, tidak ada ucapan hati-hati, hanya satu kalimat itu.
“Jangan mempermalukanku.” Seolah keberadaannya memang hanya sebatas ancaman bagi nama keluarga mereka.
Pelajaran berjalan lambat. Guru menjelaskan teori sihir dasar, sementara beberapa siswa mulai menunjukkan kemampuan mereka satu per satu. Api kecil muncul di ujung jari, angin tipis berputar di atas meja, ada juga yang berhasil membuat cahaya kecil melayang di udara.
Serena hanya diam di tempat duduknya, sudah terbiasa menjadi satu-satunya orang yang tidak melakukan apa pun saat praktik sederhana seperti ini dimulai.
Beberapa siswa melirik ke arahnya, ada yang kasihan, ada yang mengejek, ada juga yang terang-terangan tersenyum sinis. “Kalau tidak bisa sihir, kenapa masuk akademi?” bisikan itu terdengar pelan dari belakang. Serena pura-pura tidak mendengar, terlalu lelah untuk marah.
Ketika bel akhir kelas berbunyi, suara kursi bergeser dan percakapan kecil langsung memenuhi ruangan. Serena tidak langsung keluar, menunggu sampai sebagian besar siswa pergi dulu, baru bangkit dari kursinya.
Namun bahkan saat ia berjalan menuju pintu kelas, beberapa tatapan masih mengikuti dirinya. Tatapan penasaran, tatapan merendahkan. Serena sudah hafal semuanya.
Saat ia melangkah keluar dari kelas, udara koridor akademi terasa lebih dingin dari biasanya. Dan di sana, sudah ada seseorang yang menunggunya.
“Serena,” suara itu ringan, santai. Seorang pemuda berdiri tidak jauh dari pintu kelas, bersandar di dinding seperti sudah biasa menunggu. Oliver, pangeran ketiga dari keluarga kerajaan.
Oliver melambaikan tangan kecil. “Ke kantin bareng?” Serena menatapnya sebentar, “Kau tidak ada kelas?”
“Ada,” jawab Oliver santai, “tapi aku lebih suka makan daripada mendengarkan teori membosankan itu.”
“Kau benar-benar tidak niat belajar,” kata Serena. “Aku tetap lulus,” jawab Oliver. “Itu karena kau pangeran,” kata Serena. Oliver tertawa kecil mendengar itu. “Dan kau sepupuku yang terlalu serius."
Tanpa menunggu jawaban, Oliver langsung berjalan di samping Serena. Sangat natural, seolah memang tempatnya di sana. Di perjalanan menuju kantin, beberapa siswa mulai memperhatikan mereka.
Bukan karena Oliver saja, tapi karena Serena. Bisik-bisik mulai terdengar pelan, tapi cukup jelas untuk ditangkap. “Itu dia… yang katanya tidak bisa sihir… aib keluarga kerajaan, kan?” “Kalau aku jadi dia sih malu keluar kamar."
Serena tetap berjalan tanpa menoleh sedikit pun. Ekspresinya datar. Namun Oliver menghela napas kecil di sampingnya. “Orang-orang ini benar-benar tidak punya kegiatan lain.”
Serena tidak menjawab. Oliver tiba-tiba merangkul bahunya santai. “Jangan didengar.”
“Aku tidak peduli,” kata Serena. “Kau bohong,” jawab Oliver. Serena melirik Oliver sebentar, “Kau terlalu santai.” “Dan kau terlalu memendam semuanya sendiri,” kata Oliver.
Langkah Serena sedikit melambat, tapi ia tetap tidak mengatakan apa pun lagi. Kantin akademi cukup ramai siang itu. Suara sendok, piring, dan percakapan bercampur jadi satu. Oliver menarik Serena ke meja kosong di sudut.
“Duduk sini.” Serena duduk sementara Oliver mulai mengambil makanan tanpa banyak pikir.
Namun bahkan di dalam kantin, beberapa tatapan masih mengarah pada Serena. Beberapa siswa bangsawan berbisik sambil tertawa kecil. Serena pura-pura tidak melihat, sudah terlalu terbiasa.
Oliver mendorong segelas minuman ke arahnya. “Minum.” “Kau seperti sedang menenangkan anak kecil,” kata Serena. “Kalau begitu berhenti terlihat menyedihkan,” jawab Oliver.
Serena mendengus pelan. Untuk pertama kalinya sejak pagi, ekspresinya sedikit melunak. Namun di tengah keramaian kantin itu, ada seseorang yang tidak ikut berbicara. Tidak ikut tertawa. Tidak ikut memperhatikan keributan lain.
Di sudut paling jauh kantin, seorang pria duduk sendirian. Rambutnya berwarna perak, matanya merah tajam. Tatapannya lurus mengarah pada Serena sejak tadi. Diam, tenang, namun entah kenapa terasa mengintimidasi.
Ia tidak makan, tidak bergerak, hanya memperhatikan Serena tanpa berpaling sedikit pun. Dan Serena sama sekali tidak menyadari keberadaan pria itu.
Suaranya terdengar tenang, tapi tegas. Setiap katanya bagaikan pisau yang menusuk keras ke hatiku.“Dengarkan baik-baik.”“Saat kuliah dulu, aku yang lebih dulu menyukai Bobi, tapi kamu malah lebih dulu mendahuluiku dan merebutnya. Kamu pikir selama bertahun-tahun ini aku begitu baik padamu karena tulus bersahabat? Konyol! Aku hanya sedang menunggu kesempatan untuk membuatmu merasakan bagaimana rasanya dikhianati.”Sudut bibirnya menajam, memperlihatkan senyuman mengejek, “Kamu pikir kamu itu sangat polos? Kamu merebut cintaku, lalu dengan sok tahu menikmati persahabatan denganku. Sekarang, ini semua hanyalah balasan untukmu. Kamu mendapatkan apa yang pantas kamu dapatkan!”Seketika, hatiku dipenuhi amarah dan keterkejutan. Semua hal ini benar-benar tak pernah kuketahui sebelumnya.Seandainya aku tahu dia menyukai Bobi sejak dulu, aku tidak akan pernah menerima pernyataan cintanya.Namun, yang lebih membuatku kecewa adalah kenyataan bahwa kebaikan yang dia tunjukkan selama bertahun-tah
Jangan-jangan dia tak ada di rumah? Saat sedang bimbang harus langsung naik ke atas atau tidak, mataku tak sengaja menangkap pemandangan di area parkir yang tak jauh dari sana.Sebuah mobil sedan silver yang sangat kukenal terparkir di sana, bodinya memantulkan cahaya matahari terbenam yang berkilauan. Itu mobil sahabatku! Seketika, secercah harapan muncul di hatiku, sepertinya dia ada di rumah. Namun, baru saja hendak melangkah masuk, aku menoleh kembali ke arah mobi itu dan merasa ada yang aneh.Kok… mobilku bergoyang-goyang?Aku menyipitkan mata, menatap ke arah kaca jendela mobil dan pemandangan di dalam membuatku tercengang.Di dalam mobil, Erika sedang duduk di kursi belakang membelakangiku. Kepalanya tertunduk, seluruh tubuhnya bergerak naik turun. Di depannya duduk seorang pria dengan senyuman penuh kenikmatan di wajahnya.Saat memperhatikan wajah pria itu lebih saksama, itu wajah yang tak akan pernah kulupakan seumur hidup! Ternyata itu suamiku sendiri, Bobi.Aku berdiri mem
Bobi melangkah mendekat, mencoba memelukku, tapi aku langsung mendorongnya dengan kasar. Air mata mengaburkan pandanganku, “Kamu pikir aku bakal percaya omonganmu? Sudah nggak ada lagi kepercayaan di antara kita.”“Keluar kamu!” teriakku yang akhirnya tak mampu lagi membendung emosi.“Aku nggak mau melihat kamu lagi!”Dia hanya mendengus sinis, menatapku dengan tatapan dingin seolah berkata emangnya kamu sebaik apa, sih?Pada akhirnya, dia tetap berbalik dan pergi.Pintu tertutup dengan keras. Aku terjatuh ke lantai, membiarkan air mata mengalir deras.Aku membuka ponsel dan melihat foto-foto kami. Di sana kami tampak bahagia. Kebahagiaan masa lalu itu, kini terasa seperti pisau yang mengiris hati.Saat aku masih tenggelam dalam kesedihan, tiba-tiba pintu rumah terbuka dari luar. Aku tersentak dan menahan napas. Bobi kembali lagi?Namun, saat orang itu menoleh, aku terkejut mendapati bahwa yang datang adalah Kevin.Dia berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan. Meliha
Aku berdiri mematung di samping mesin cuci, tanganku mencengkeram erat kemeja itu. Ujung jariku bisa merasakan tekstur kainnya, tapi seluruh perhatianku tersedot sepenuhnya pada bekas lipstik di kerah baju itu.Hanya noda tipis, tapi sangat menusuk mata. Bagaikan sebilah pisau yang menusuk tepat ke jantungku. Aku berusaha keras menenangkan pikiran, lalu duduk di sofa sambil tetap memegang kemeja itu erat-erat dengan ribuan pikiran yang berkecamuk.Rasanya waktu berjalan begitu cepat. Tak lama kemudian, suamiku keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut pendeknya yang basah, “Olivia, kamu masak apa? Wangi sekali.”Aku tidak menjawabnya. Sebaliknya, aku mengangkat kemeja itu tinggi-tinggi dan menunjukkan noda merah di depan matanya.“Ini apa?” Suaraku agak bergetar.Melihat ekspresiku yang tidak bersahabat, senyumannya pun pudar. Dia mengambil kemeja itu dan memperhatikannya baik-baik. Aku menangkap kilatan kepanikan di matanya, tapi dia segera berusaha bersikap tenang kembali.“
“Kring….”Tepat saat itu, tiba-tiba ponsel di kamar tidur berdering. Aku tersentak kaget sampai hampir melompat. Itu adalah dering khusus yang kupasang untuk suamiku.Dengan panik, aku melepaskan diri dari pelukan Kevin, berlari terhuyung-huyung ke kamar dan menjawab telepon itu.Namun, aku tak meny
“Hm… jangan… jangan….”Dalam hati aku memaki diriku sendiri begitu genit. Aku merapatkan paha, lalu dengan sekuat tenaga menggunakan pantatku untuk mendorong pria di belakangku itu menjauh.Namun, seluruh tubuhku mendadak lemas, tak lagi punya kekuatan untuk menahan beban. Aku tersungkur di atas mat
“Jangan… jangan… Kevin, ini terlalu dalam….”Tengah malam, aku yang tanpa busana ditindih paksa ke atas ranjang oleh seorang pria. Wajahku terbenam di bantal, sementara pantatku terangkat tinggi, menerima hentakan darinya yang menimbulkan suara yang nyaring.Tangan besarnya mencengkeram pinggang ram












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.