LOGIN一ノ瀬明咲(いちのせ あき)と芦屋時也(あしや ときや)は、三度も結婚式を挙げたけど、そのたびに、みんなの笑い者になった。 一度目の式。誓いの言葉を交わしている途中で、朝比奈若菜(あさひな わかな)が鉄のハンマーを持って乱入してきた。 二度目の式。司会が「新郎新婦、ご入場です」と明るく宣言した直後、会場のスクリーン一面に、時也と若菜のツーショットが次々と映し出された。 三度目の式。バージンロードを歩き出す寸前、時也のスマホに若菜からビデオ通話が入る。 「時也、私ここから飛び降りる。これで借りをチャラにしてよ?」 時也は鼻で笑う。「飛びたいなら早くしろ。俺の結婚の邪魔をするな」 でもその直後、会場の誰かが叫ぶ。「若菜さんが本当に飛び込んだ!」 時也は「誓います」と言いかけたけれど、そのまま明咲を見つめて「どうあれ、一人の命だ。明咲、式は延期しよう」と静かに告げた。 それきり、彼は会場から消えた。 明咲は崩れ落ちた。「時也、もう延期なんてしなくていい……私、結婚やめる!」
View More“Sheza agak cemberut gue tinggal touring. Padahal pulang touring gue janji bakal ngajak makan malam di luar. Dio juga udah rewel banget minta mainan VR.” Prabu harus sedikit berteriak agar Satria menangkap suaranya dari balik helm.
“Kenapa nggak bilang kalau lo punya janji di rumah? Dua minggu lagi ada touring lain. Harusnya kita bisa ikut yang itu aja. Gue jadi nggak enak, Prabu …. Kan gue yang ngajak. Ck!” Satria mengacungkan tinjunya. “Gue cuma kasian sama duda kalau nggak ada yang nemenin. Coba Roman doyan motor dan masuk club kita. Bisa berduaan terus lo berdua karena berstatus pria single,” seru Prabu lagi. “Roman, sih, doyannya night club, bukan club motor!” balas Satria, terbahak di motornya. “Atau sekali-kali lo ikut Roman ke night club. Biar aura lajang Roman nular. Lo nggak kayak duda anak satu lagi!” Prabu lalu tertawa terbahak-bahak. Setengah jam saling berbalas omongan, jalan yang ditempuh semakin mendaki. Permainan gas, kopling dan rem dilakukan dengan handal oleh peserta tour agar motor tetap stabil di tanjakan. Jalan berliku-liku dan mereka nyaris tiba di titik istirahat pertama saat hujan mulai turun. Awalnya hujan tipis, namun kemudian semakin deras. Airnya meluncur membasahi jaket kulit yang membalut rapat tubuh mereka. Dua pria bertubuh nyaris sama tinggi dan tegapnya saling pandang. Satria melirik langit. Terlihat awan gelap bergulung makin menebal. Di sisi kirinya, Prabu menoleh sambil tertawa kecil. "Gas, nggak?" "Tunggu reda dikit, Bu. Anginnya kenceng banget. Neduh dulu, yuk.” Satria menyalakan lampu sen, menuju bawah jembatan kecil. Satria tidak punya firasat apa pun. Pagi itu semuanya normal dan semuanya baik-baik saja. Prabu ada janji dengan keluarga kecilnya dan ia sendiri berjanji akan menjemput Nayla; putrinya di rumah mantan istrinya. Akhir pekan adalah giliran ia menjalankan co-parenting untuk gadis kecil semata wayangnya. Bagi Satria sendiri, ia merasa tidak ada yang berbeda dengannya. Prabu juga cerita seperti biasa. Kecuali kalau boleh dibilang agak berbeda, Prabu memang kadang-kadang diam dan mengecek ponselnya sedikit lebih lama. Prabu kadang berdecak dan menghela napas panjang. Meski sepintas, Satria melihat perubahan wajah sahabatnya itu. “Ada masalah?” tanya Satria saat mereka berdiri bersisian di bawah jembatan. “Nggak adalah. Memangnya muka gue keliatan muka pria ada masalah?” Prabu meninju lengan Satria sambil tertawa. Sama cerianya seperti kemarin-kemarin. "Itu yang lain udah pada jalan. Ada iring-iringan club mobil juga kayaknya. Kita ikut aja. Biar cepet sampai." Prabu naik ke motor dan menyalakannya. "Udah, santai aja. Kita nggak perlu nyusulin yang lain. Masih deras,” kata Satria, berjalan ke tepi jembatan dan mendongak. “Ayo, deh. Gue nggak mau kalau Sheza dan Dio nunggu gue kelamaan.” Prabu bersiap-siap memakai sarung tangannya. Satria meraih lengan Prabu, menahannya. Rautnya jadi ikut gelisah. “Lo tuh, ya. Kalau memang ada janji sama Sheza dan Dio harusnya nggak perlu iyain kalau gue ajak. Asli gue jadi kasian sama mereka. Mau digas sekarang juga jalanan licin, Bu.” Jawaban Prabu saat itu hanya mengangkat bahu. Ia menepuk lengan Satria sebelum melaju. “Ayo, Sat! Gue tinggal juga, nih,” katanya. Entah karena memang firasat, atau entah karena ia yang ingin menghabiskan waktu sedikit lebih lama untuk bercakap-cakap sesama pria. Yang jelas, tak ada alasan lagi untuk berdiri di bawah jembatan kecil itu tanpa Prabu. Satria segera menyalakan motor dan melesat untuk memperpendek jarak dengan sahabatnya. Tikungan sempit. Aspal basah. Kabut putih menelan pandangan. Satria menahan napas. Ia tak melihat lampu belakang motor Prabu. Tangan kanannya menekan gas tapi kemudian urung karena dari arah berlawanan terlihat padat. Ketika pikiran ragu-ragu itu muncul, sebuah bunyi memekakkan telinga membuat matanya terpejam sepersekian detik. BRAAAK! Raungan klakson panjang. Suara besi menghantam besi. Suara yang membuat ulu hati siapa pun mencelos. Satria baru saja keluar dari tikungan ketika dunia dirasanya melambat. Ia melihat sesuatu terlempar ke udara. Sebentuk siluet yang sangat ia kenal. Helm pecah dan serpihannya melayang bersama air hujan. Mata Satria tertuju pada sesuatu. Motor Prabu yang menghantam pembatas jalan, lalu tergilas keras oleh truk kontainer yang tak sempat mengerem. Dentuman logam menggemuruh membuat detik itu tangannya reflek menarik rem. Semua kendaraan di depannya kini terhenti dan gaduh. Satria melompat turun dari motornya. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia berlari dengan teriakan tanpa suara. Tak tahu harus berlari ke mana. Darah di mana-mana. Helm Prabu pecah. Ringsek. Tangannya terangkat ke atas. Gemetar menggapai udara. Memegangi kepalanya dengan linglung. “PRABU!” jerit Satria. “Prabu …!” Satria kembali menjerit. Tubuh sahabatnya itu tergeletak di bawah truk. Masih bernapas. Ia masih melihat Prabu menghela napas meski kepayahan. Matanya separuh terbuka. Bibirnya terbuka pelan. Mencoba mengatakan sesuatu yang tak bisa ditangkap telinga. “Tolong! Tolong!” jerit Satria, meraba-raba ponsel dan menekan nomor darurat yang bisa diingatnya saat itu. ***** (IGD Rumah Sakit Pinggiran Kota) Satria berdiri membeku. Bajunya basah kuyup. Sepatunya berlumpur. Jaket kulitnya tertempel bercak darah yang sudah mengering. Sejak tadi tatapannya tak beranjak dari sosok tampan yang kini bergeming dengan wajah penuh luka lecet. Bagian sisi kanan kepalanya ada jahitan besar. Seorang dokter menutup catatan medis, suaranya datar. “Kepalanya parah, ada pendarahan masif. Kami sudah berusaha, Pak.” Kalimat itu seperti palu godam, tapi Satria bergeming. Rahangnya mengeras, matanya memerah. Ia hanya menatap kain putih yang kini menutupi sahabatnya hingga dada. Tangan Prabu sudah rapi disedekapkan. Suster berjalan pelan ke arahnya. "Bapak kenal korban?" Satria mengangguk seraya menelan ludah. Rahangnya tiba-tiba saja mengeras. "Saya kenal istrinya. Biar saya yang kasih tau,” ucapnya. Entah sudah berapa kali ia mengusap wajahnya sejak tadi. Air mata yang berusaha dihalaunya tak kunjung berhenti. “Bapak telepon atau kita….” “Saya yang kabari langsung. Saya ke rumahnya sekarang.” Satria menggigit bibir bawahnya. “Sekalian urus surat-suratnya juga,” tambahnya pelan. Kali ini sepertinya ia harus benar-benar meninggalkan perawat itu. …若菜を乗せたパトカーが先に走り去り、他の警官たちが現場の後処理に追われていた。明咲も当事者として、警察署で事情聴取を受けることになった。律は彼女の手を握ったまま、黙ってそばについている。二人で車に向かおうとしたとき、背後から急ぎ足で駆けてくる時也の姿が見えた。明咲は少し立ち止まったが、律の手を握ったまま、そのまま彼の横を何の感情も見せずに通り過ぎた。時也は喉を鳴らし、そっと彼女の手首を掴む。明咲は眉をひそめ、冷たい声で言った。「離して」時也は唇を震わせ、しわがれた声を絞り出す。「明咲……大丈夫だった?」明咲はやっと彼を見やり、皮肉な笑みを浮かべる。「おかげさまでね。時也、私たちはもう終わったのに、なぜかいつもあなたのトラブルに巻き込まれてばかり。お願いだから、もう近づかないで。私がいつか、あなたのせいで本当に命を落とすことになったら困るから」時也はその言葉に体を震わせ、力なく手を放した。二人がすれ違う瞬間、彼は小さく「ごめん」とだけ呟いた。明咲は振り返りもせず、車に乗り込んで去っていった。人々が一人また一人と去り、冷たい風が時也の体を貫く。でも、その冷たさよりも、心の奥の空しさの方がずっと深かった。自分がいることで、明咲に迷惑しかかけていなかったんだ。彼は顔を覆い、静かに笑いながらも、その指の隙間からは止まらない涙がこぼれていた。若菜の事件はすぐに裁判へ進み、明咲が弁護士を雇う間もなく、時也が自ら有能な弁護団を手配していた。その話を聞いた明咲は、「好きにさせておけばいい、私の手間が省けるし」とだけ言い、もはや若菜にも時也にも何の関心も示さなかった。律の仕事が片付くと、二人は本格的に新婚旅行に出発した。世界中を巡る一年間。今月はオーロラを見に行き、次の月は氷河を眺めに行き、美しい場所には必ず二人の笑顔があった。そんな幸せな日々も、明咲の妊娠が分かったことで、二人は旅を中断し、久しぶりに家へと帰ってきた。帰国後、親友から時也の近況を聞かされる。「彼、会社を全部売って現金化してから、パッタリと消息を絶ったんだって。今どこにいるのか、誰も知らないらしいよ。何か連絡あった?」明咲は首を振る。「ううん、全然」親友は少し残念そうにため息をつく。明咲はお腹を撫でながら、優しい
「やめろ!」時也の絶叫が車内に響く。明咲はその一瞬で体をひねり、若菜のナイフをなんとかかわした。若菜は空振りし、なおもナイフを振り上げようとしたが、そのとき突然、車が激しく揺れて急停車した。勢いで若菜は後ろへ仰向けに倒れ、後頭部を車内の角に強打し、一瞬、目の前が真っ暗になるほどの痛みに襲われた。頭を押さえ、よろよろと運転席を睨む。「何?今の……」言いかけた瞬間、若菜は言葉を失う。四方八方に私用車とパトカーがびっしり停まり、自分たちの車は完全に包囲されていた。呆然とする若菜の横で、ドアが勢いよく開かれ、誰かが明咲を抱きかかえて外へ連れ出す。若菜は反射的に明咲を引き戻そうとしたが、反対側のドアから入ってきた警官がすぐに彼女を地面に押さえつける。カチャリという音とともに、若菜の両手は後ろ手に手錠で固く拘束された。その瞳は、ありえないものを見たように見開かれている。「そんな……嘘でしょ……」顔を上げて明咲を見据える。「どうして……どうやって見つけたの?私はちゃんと痕跡を消したはず……そんなはずない……絶対にありえない!」若菜は捕まるのを恐れて、持っていた電子機器をすべて捨ててきた。誰かに居場所を特定されるのを、それだけは絶対に避けたかった。明咲は一歩離れた場所に立っている。そのそばでは律が、赤く腫れた手首の縄をすべて解き、優しく揉んでくれていた。「私がそんなにバカだと思った?」明咲は冷静に若菜を見下ろしながら続ける。「一人で何も準備せずに、のこのこ出てくるわけないでしょ。最近、あんたが時也に報復されてるって聞いてたし、絶対に何かやると思ってた。だから最初から、ヘアピンに発信機を仕込んでおいたの。私の位置がいつもと違う動きをしたら、すぐに律が警察に通報できるようにしてあった」若菜の瞳が大きく見開かれる。まさか、もう全て見抜かれていたなんて。明咲はそのまま若菜の前にしゃがみ、薄く微笑んだ。「正直に言うと、今まではあんたが裏で手を回してやってきたことは全部、証拠不十分で起訴しても長くは刑務所に入れなかった。でも今回は違う。拉致に殺人未遂。最高の弁護士をそろえて、絶対に一生出てこられないようにしてあげる」明咲はふと何か思い出したように、笑いながら言った。「あ、そうそう。忘れて
明咲と律の結婚式が終わったあと、明咲の父は娘のために長い休みを取らせてくれた。「新婚旅行くらい、しっかり楽しんでこい」と背中を押される。けれど、律は仕事のトラブル続きで毎日会社に缶詰め。「旅行の手配は全部君に任せる」と言って、なんとか出発前に仕事を片付けようと必死だった。家にひとり残された明咲は暇を持て余し、久々に友人と出かけて新婚旅行のプランを相談しようと約束する。大型ショッピングモールの地下駐車場に車を停め、ドアを開けた瞬間、突然、柱の影から若菜が現れた。明咲が眉をひそめ、何か言おうとしたそのとき、後頭部に鋭い痛みが走った。視界が真っ暗になり、そのまま意識を失う。次に目を覚ましたとき、明咲はどこかの車の後部座席に転がされていた。手足はきつく縛られ、後頭部はずきずきと痛む。体をもがくと、隣から若菜の声が聞こえた。「起きた?」顔を上げてみれば、若菜はこの数週間で別人のようにやつれていた。頬はこけ、顔色はひどく悪い。髪もぼさぼさで、その目だけが、ぎらついた憎しみに満ちている。明咲は無表情でドアに身を寄せ、静かに言う。「私を拉致したの?律や時也に見つかったら、ただじゃ済まないよ」「ただじゃ済まない?」若菜は甲高く笑う。「この数日、私は時也に追われて、ろくに食べ物もないし、夜は橋の下や空き家で震えて過ごしてたのよ。おまけに、変な男たちに絡まれるし……全部、あんたのせいよ!」「復讐されてるのは自業自得じゃない。私には関係ないでしょ?」明咲は眉をひそめ、なんとか若菜を落ち着かせようとした。「あんたには関係ない?」若菜は一気に顔を近づけ、目をぎらつかせて睨みつける。「全部あんたのせいよ!あんたが私の立場を奪わなければ、今ごろ私は芦屋夫人だったのに、なんでこんな地獄みたいな目に遭わなきゃいけないのよ!時也のせいで全部失った。だから今度は、あいつにも同じ絶望を味合わせてやる。そのためには、あんたを消せばいいの」若菜はスマホを取り出し、時也とのトーク画面を開いて、いきなりビデオ通話をかけた。電話はすぐに繋がり、時也の顔が画面に現れる。時也は若菜を鋭く睨みつけ、声を低くして言う。「やっと姿を見せたな。よほど逃げるのに疲れたんだろ?」「疲れたですって?」若菜は冷たい笑みを浮かべ、スマホのカメラをいきな
彼女は、時也を見つけるなり目を輝かせて立ち上がり、足を引きずりながら近寄ってくる。「時也……」その言葉が終わらないうちに、時也は無言で彼女の首をつかんだ。力いっぱい締め上げると、若菜の顔色はどんどん紫色に変わり、息も絶え絶えになる。「よくもまだ現れたな」時也は氷のような目で睨みつける。「ここまで俺を騙しておいて、どの面下げてまだ俺の前に出てくるんだ?若菜、本当に俺が何もしないとでも思ってるのか?」若菜の顔に一瞬、怯えの色が浮かぶ。時也の目の奥に光る本気の怒りに、全身の毛が逆立つのを感じた。けれど彼女にはもう、他に道は残っていなかった。時也に復讐され、実家も破産し、借金まで背負わされた。このまま時也に見捨てられたら、どんな目に遭うか、考えたくもなかった。彼女は震える声で縋るように言う。「時也、私、確かに色々悪いことをした……でも、全部あなたを愛してたからなの。もう一度だけ許して。お願い、やり直したいの」時也は若菜を力任せに床に投げ捨て、吐き捨てる。「ふざけるな!ここまで俺を騙して、明咲まで傷つけて、それでもまだやり直せるとか、本気で思ってるのか?図々しいんだよ」彼はしゃがみ込み、若菜の襟元をぐいっと掴み上げる。「君が明咲にしたこと、ひとつ残らず返してもらう。俺の復讐はこれからだ」若菜の心臓は激しく鳴り、頭の中が真っ白になる。若菜は目の前の男を見つめ、胸の奥に恐怖がじわじわと広がっていくのを感じていた。ここで捕まったら、終わってしまう。突然、全力で時也を突き飛ばした。時也は不意を突かれ、床に尻もちをついてしまう。若菜はその隙に、ふらつきながらも必死で立ち上がる。最後に一度だけ時也を振り返り、そのまま、後ろも見ずに全力で逃げ出した。彼に捕まったら、もう全てが終わってしまう。そう思いながら、夜の道をよろよろと駆けていった。時也は手のひらで床を支えた瞬間、皮膚がすりむけ、じんわりと血がにじみ出すのを感じた。立ち上がりながら、逃げていく若菜の背中をじっと睨みつける。その顔には、どこまでも冷たい憎しみが浮かんでいた。彼はポケットからスマホを取り出し、部下に若菜の動向を監視するように指示する。それから、ようやく立ち上がり、家の中へ入る。家の中は驚くほどがらんとしていて、明
蒼木不動産の社長は、脂ぎった顔をソファに沈めて座っていた。その脇には、黒服の屈強なボディーガードが二人、無言で控えている。明咲が無理やり部屋に押し込まれると、社長はにやりと笑い、ボディーガードたちに合図を送った。「動くなよ、しっかり押さえろ。お嬢さんに逃げられちゃ困るからな」両腕をがっちり掴まれ、明咲は床に無理やり膝をつかされた。蒼木社長はゆっくり立ち上がり、すぐそばの棚から鞭を取り出す。その先端が、からかうように明咲の肩をなぞった。「一ノ瀬さん、芦屋社長が君をよこしてくれたんだ。せいぜい楽しく遊ぼうってさ。調子に乗らない方がいいぞ。脱がせろ!」突然怒鳴り、鞭で床を激しく叩
「明咲、何言ってるんだ!」時也の声が突然大きくなった。焦りと怒りが混じった口調で、彼女の言葉を遮る。「若菜とはもう終わったんだ。俺がこの先、結婚したいのは明咲、君だけだ!」その声には、明咲を説得しようとしているというより、自分に言い聞かせているような必死さが滲んでいる。「今、ちょっとすねてるだけだろ?今回は大目に見る。ネットのこともすぐ静かになるから、心配するな。結婚式ももうすぐだ」話が終わらないうちに、電話は唐突に切れた。無機質なツー、ツーという音が耳に残り、「私は冗談じゃない」という言葉は結局伝えられなかった。画面を見つめながら、頭の中は真っ白だった。時也は明らかに
もう、時也とこれ以上揉める気もなかったし、若菜とべったりの二人を見るのもごめんだった。明咲は時也との新居に戻ると、すぐに引越し業者を呼び、持ち物をすべて運び出してもらった。服も、本も、時間をかけて選んだインテリアも、冷蔵庫の中の食材さえ一つ残らず。部屋ががらんどうになり、自分の痕跡が何一つなくなったのを確かめてから、玄関の棚に鍵を置いて、そのまま振り返ることなく出ていった。その後の数日、ネットは完全にカオスだった。前まで若菜の可哀想アピールに騙されていた人たちは、一転して彼女を叩きまくり、「嘘つき」、「売名」、「炎上商法」などの言葉が飛び交った。でも、時也は若菜のことを
電話からツー、ツーと無機質な音が響いた。時也は、明咲の返事を待つ気もなく、そのまま通話を切った。その瞬間、誰かの手が勢いよく振り下ろされてきた。パシンという音とともに、スマホが床に転がった。女が顔をぐっと近づけてきて、吐き捨てるように言った。「聞こえた?このクズ!若菜さんの手柄を横取りしようなんて思うなよ。時也さんは最初から、あんたの味方じゃないんだから!」明咲の髪を乱暴に掴み、玄関の方へ引きずっていく。頭皮が焼けるように痛い。他の女たちも群がってきて、手を伸ばし、むき出しの腕を強くつねる。涙がこぼれるのを止められなかった。こんな連中に、何を言っても通じない。明咲は、ただ必
reviews