LOGIN【記憶を失った悪女の、人生を立て直す為の奮闘記】 池で溺れて死にかけた私は意識を取り戻した時、全ての記憶を失っていた。それと同時に自分が周囲の人々から陰で悪女と呼ばれ、嫌われていることを知る。どうせ記憶喪失になったなら、今から心を入れ替えて生きていこう。そして私はさらに衝撃の事実を知ることになる――
View More"Ibu, ada yang ingin aku katakan " ucap seorang pria sembari berjalan mendekati wanita paruh baya yang sedang asyik membaca majalah fashion favoritnya didampingi secangkir kopi.
"Apa yang ingin kau katakan, Putraku?"Bukan menjawab, tetapi Jonathan memperlihatkan kepada Theresia sebuah alat test kehamilan yang menampilkan dua baris merah. Seketika Theresia mengernyit."Alat tes kehamilan? Apa kau sudah menghamili seorang gadis?" tanya Theresia sembari mengambil test pack dari tangan Jonathan.Theresia menatap benda itu dan Jonathan secara bergantian."Benar, Bu. Aku sudah menghamili Amelie."Plak!Sebuah tamparan mendarat di pipi Jonathan. Membuat satu tangannya memegangi pipi karena rasa perih yang terasa. Firasatnya berkata, hal buruk akan segera terjadi."Dari awal aku sudah curiga, Jonathan! Bukankah selama ini aku selalu memintamu untuk tidak bergaul dengan gadis pembantu itu?!""Ibu, aku begitu mencintainya. Tidak bisakah Ibu memberi Amelie kesempatan untuk kami membina rumah tangga?" pinta Jonathan yang berbalas delikan tajam Theresia.Tanpa berucap sepatah kata, Theresia berjalan ke kamar pembantu untuk mencari keberadaan Amelie.Theresia mengedarkan pandangan begitu tiba di koridor kamar pembantu. Dengan cepat wanita itu menemukan gadis yang ia cari sedang bergurau dengan Katie dan pelayan yang lain."Dasar gadis jalang!" pekiknya sembari menarik kasar rambut Amelie.Amelie meringis kesakitan, berusaha membebaskan rambutnya dari cengkraman Theresia. Namun, bukan semakin meregang, justru Theresia semakin kuat dan brutal menarik rambut Amelie."Hentikan, Nyonya! Itu sangat menyakitkan," seru Amelie dengan tetap berusaha terdengar menghormati sang nyonya besar itu."Kau pikir, aku akan menuruti kemauanmu? Apa yang kau lakukan sampai putra kesayanganku bertekuk lutut padamu?" ucap Theresia sembari mendekatkan wajahnya pada wajah Amelie. Gadis itu ketakutan dan mulai menunduk. Air mata Amelie mulai berjatuhan.Sementara pekerja lain tidak ada yang berani melerai Theresia. Mereka hanya menonton penindasan yang Theresia lakukan terhadap Amelie."Jangan anggap aku wanita bodoh, Amelie! Aku tau saat ini kau sedang mengandung anak Jonathan!" jerit Theresia sembari menampar keras wajah Amelie, hingga membuat gadis itu tersungkur.Robert dan Irene yang mengetahui kejadian tersebut segera berlari menghampiri Amelie."Amelie, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Irene dan Robert hampir bersamaan."Asal kalian tau! Anak gadismu yang terlihat lugu ini sangat jauh dari penilaian orang-orang tantangnya!" ucap Theresia bersungut-sungut dengan kedua tangan terlipat di depan dada."Jonathan berkata padaku, bahwa dia sudah menghamili anak kalian. Tetapi aku tidak begitu saja percaya," ucap Theresia sembari mengibaskan tangan diudara, sebelum akhirnya ia menambahkan;"bisa saja Amelie hamil dengan pria lain, dan mengaku jika janin yang dikandungnya adalah anak Jonathan.""Nyonya, tolong jaga ucapan Anda!" hardik Robert saat mendengar anak gadisnya direndahkan. Sementara itu, Irene terus mengelus punggung Amelie yang bergetar karena tangis yang tergugu."Kenapa? Bisa saja kan? Tampan dan kaya. Siapa gadis yang tidak menginginkan Jonathan? Tetapi anakmu, malah memanfaatkan kehamilanya untuk mengikat Jonathan.""Nyonya, saya yakin sepenuhnya bahwa bayi di dalam kandungan saya adalah anak Jonathan." ucap Amelie disela isakan tangis sembari memegangi perut, tempat dimana buah cintanya dengan Jonathan tumbuh."Omong kosong! Gugurkan kandunganmu, atau jangan pernah lagi menginjakkan kakimu di rumah ini!" ancam Theresia sebelum akhirnya pergi meninggalkan Amelie yang malang.Semua pekerja yang tadi menonton peristiwa itu dari kejauhan berhambur mendekati tiga orang yang masih terduduk di atas lantai. Masing-masing dari mereka mengucapkan kalimat untuk menguatkan Amelie. Amelie memaksa diri untuk tersenyum demi menghargai usaha mereka. Sangat mudah ditebak, dibalik senyuman Amelie, terdapat luka menganga yang sangat perih. Mereka tidak sanggup membayangkan seperti apa jadinya seandainya mereka yang berada di posisi Amelie saat ini.Sementara itu, Jonathan masih duduk di sofa ruang tamu dengan raut gelisah. Pria itu merutukki dirinya yang tidak bisa memenuhi apa yang telah dia ucapkan pada Amelie.Satu hari sebelumnya ...Jonathan menatap Amelie yang sedang menyapa bunga mawar beraneka warna dari kejauhan. Dari senandung yang lolos dari gadis itu, dapat terlihat bagaimana gadis itu merasa senang dan bangga semua mawar yang ia pelihara tumbuh dengan baik.Jonathan berjalan mendekati Amelie yang masih bersenandung dan membelai mawar yang mekar dengan sempurna."Bunga-bunga itu memang cantik. Tapi kecantikannya tidak dapat mengalahkan kecantikan wajahmu, Amelie."Amelie menoleh cepat ke arah Jonathan. Gadis itu tersipu. Rona merah menghiasi kedua pipinya. Jonathan tersenyum melihat ekspresi Amelie yang begitu alami. Gadis lembut yang selama dua tahun terakhir menjadi kekasihnya tanpa sepengetahuan Edmund dan Theresia.Sepasang sejoli itu menjalin hubungan tanpa sepengetahuan orang tua Jonathan. Baik Amelie, Jonathan, ataupun pekerja lain yang bekerja pada keluarga Jonathan sama-sama saling mengerti, perbedaan status sosial keduanya sangat jauh. Sudah pasti Theresia si wanita angkuh itu akan menolak hubungan keduanya. Karena itu, keduanya sepakat untuk bersikap tidak lebih seperti umumnya pembantu dan majikan di depan Tuan dan Nyonya Hayes."Jo? Sejak kapan kau berdiri disitu?"Jonathan menarik siku dan melirik jam tangan miliknya sebelum berucap;"Entah, sudah berapa lama aku berdiri di sini. Yang aku tau, waktu saat bersamamu terasa begitu singkat."Jonathan yang mendapat pukulan pelan di dada bidangnya meringis berpura-pura kesakitan. Pukulan Amelie sama sekali tidak sakit."Berhenti menggodaku, Jo!" jawab Amelie sembari mengerutkan bibirnya yang menurut Jonathan ekspresi wajah itu sangat manis."Jo, ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu." ucap Amelie tanpa basa-basi.Melihat raut Amelie yang berubah sedih, Jonathan berpikir bahwa apa yang akan disampaikan gadis itu bukanlah berita baik."Katakan saja, Sayang." Jonathan mengusap lembut kepala gadis yang saat ini menunduk takut sambil meremas rok yang ia kenakan.Semburat kecemasan yang terpancar di wajah gadis itu semakin membuat Jonathan penasaran. Kedua alis tebal Jonathan pun bertaut."Sayang, katakan jika memang ada yang perlu untuk dikatakan. Jangan menyimpan perasaanmu sendiri," Jonathan menunduk, menyamai tinggi Amelie sembari memegang dagu gadis itu."A-aku hamil, Jo." jawab Amelie dengan suara parau. Bulir air mata mulai berjatuhan. Gadis itu menyerahkan alat tes kehamilan yang menampakkan dua garis merah berjejer rukun dengan tangan gemetar.Jonathan menggamit benda itu dengan alis bertaut. Ia masih tidak menyangka. Dia akan segera menjadi ayah sebentar lagi. Pria itu merasa dilema. Ada perasaan bahagia, ada juga rasa gelisah. Akankah kehamilan Amelie bisa melunakkan hati Theresia untuk memberi restu atas hubungan keduanya?"Amelie, kau tidak perlu menangis. Seharusnya kau berbahagia karena kini didalam kandunganmu telah hadir buah cinta kita." Jonathan tersenyum sembari mengusap bulir kristal yang terus saja berjatuhan di pipi Amelie. Berusaha menenangkan badai kesedihan yang melanda hati kekasihnya.Gadis itu hanya mengangguk pelan. Dia tidak yakin kehamilannya akan menjadi kabar bahagia untuk keluarga Hayes. Kemungkinan buruk atas respon nyonya besar pemilik rumah tempat dia dan kedua orang tuanya mengabdi sebagai pembantu itu mulai menghantui pikirannya."Percayalah, Amelie. Semua akan baik-baik saja. Akan ku bujuk orang tuaku agar bisa menerimamu dan anak kita." pria itu mengusap perut Amelie dan mendaratkan sebuah kecupan di kening gadis itu setelahnya.Jonathan kembali mengacak rambut hitamnya dengan frustasi. Bayangan wajah polos Amelie seolah mengiris hatinya.Apa yang sudah ia lakukan? Memberi harapan kepada gadis itu yang nampaknya hanya menjadi isapan jempol belaka.***「どうもありがとう」御者にお礼を述べ、馬車を降りて校舎を目指して歩いていると背後から私の名を呼ぶ声が聞こえてきた。「ユリアーッ!」振り向くとその人物はマテオだった。「あら、おはよう。マテオ」「ああ、おはようユリア」「いいの? ベルナルド王子の側にいなくても」「ああ。もういいんだよ。何しろ王子の方から俺達に離れてくれと頼んできたんだから」「ふ~ん……何故かしらね」すると今度は背後で大きな叫び声が上がった。「「あーっ!!」「げっ! アーク! オーランド!」マテオの顔色が変わる。「マテオッ! 勝手に抜け駆けするな!」「全く何て奴だ!!」「うるさい! 俺の勝手だろうが!」アークとオーランドが駆け寄って来ると3人は私の頭の上で口論を始める。どうやらこの3人は私のことを取り合いっこしているらしい。そもそも何故3人がこのような行動を取る様になってしまったかと言うと、オルニアスの話によれば、ノリーンが仕組んだ事の様だった。私の方からベルナルド王子への興味を失わせようとする為に、マテオ達をオルニアスの魔力で私に惚れさせて、彼等に口説かせて誰かと恋に落ちてしまえば王子からの婚約破棄に応じるだろうと言う筋書きだったらしい。オルニアスはノリーンに命じられるまま彼らに私を好きになる魔法をかけ、結果彼らは私の虜? になってしまった。そしてオルニアスのかけた魔法が解けた後も何故かマテオ達は私に好意を寄せたままの状態だった。オルニアスの見解ではマテオ達はどうやら始めから私を好きだったから魔法が解けても何も変わらないのだろう……と言うことだった。「はぁ~……もう付き合ってられないわよ」私は激しく口論を続けるマテオ達からそっと離れると急ぎ足で校舎の中へ入って行き、偶然にもテレシアに会った。「あ、おはよう。テレシアさん」「おはよう~見たわよ。またあの3人に絡まれていたわね?」「そうなのよ……本当に嫌になるわ」今では私とテレシアは親友と呼べる仲になっていた。「それで? ベルナルド王子はどうしてるの?」2人で廊下を歩きながらテレシアに尋ねた。「あ? やっぱり気になるの?」「う~ん……まぁ多少は? 何しろあのノリーンと付き合っているんだから」「そうよね~でもいずれ別れさせられるんじゃないかしら? 何しろ結局は王族と平民の仲だからね」「やっぱり…
呼び声に応えるかのように、突然何も無い空らセラフィムが姿を現し、私の前に立つとオルニアスと対峙した。「オルニアス。もうノリーンとユリアは和解したんだ。ノリーンはユリアの命を奪う事を願ってはいない。おとなしく魔界に帰るんだな」するとノリーン……いや、里美が声を上げた。「はぁ? ちょっと何言ってるのよ! 確かに和解はしたけれど、命を奪う事は願っているわよ? だって美咲の命を奪わなければ、私は一生彼から生活費と召喚代金としてお金を搾取され続けるのよ。冗談じゃないわ! 破産しちゃうわよ!」「ああ、確かに生活費は必要だな。おまけに魔力の全く無い人間に呼び出された為に人間界に現れるまでにえらく苦労させられたからな」オルニアスが頷く。「ノリーンには支払能力があまり無いんだ。少し位まけてやれないのか?」「ええ、そうよ。まけてちょうだいよ」セラフィムの言葉にノリーンは頷く。何ともスケールの小さい話を彼らは私抜きで始めた。「ちょ、ちょっと! 肝心の私を忘れないでよ!」ついに我慢出来ず、私は彼らの間に割って入ってきた。「どうした? ユリア」何故かオルニアスが妙に優しげな声で私を見る。そんな彼に警戒しながら訴えた。「お金が問題なら私が彼女の代わりにあなたに全額まとめて支払うから……お願いだから、そのお金を持って魔界へ帰ってちょうだい! そして二度と私の命を狙わないでよ!」「そうよ。ユリアが払ってくれれば、それでいいわ」「まぁ……ユリアは公爵令嬢だから、支払い能力はあるかもしれないが……」ノリーンとセラフィムが頷く。「……イヤだね」オルニアスは少しの間、私を黙って見ていたがそっぽを向いた。「何でよっ!!」里美はもう私には殺意は多分? 抱いていないのに、それでもオルニアスは私の命を狙っているのだろうか?「何でだって? それを俺に尋ねるのか? 前にも夢の世界で言っただろう? 殺すにはあまりにも惜しいって」確かに言われた気がするけれど……。すると次にオルニアスは耳を疑うようなことを言ってきた。「俺はユリアが好きだからな。傍にいたいから帰らないんだ。ユリアはもう王子のことはどうでもいいんだろう? だったら俺が相手でも構わないよな?」オルニアスが私の手を握りしめてきた。「はぁっ!?」その言葉に耳を疑う。「「ええええええっー!?」」ノリーンと
「ごめんなさい……美咲。私は前世で貴女に酷い嫌がらせばかりしてきたわ。それだけじゃない。交通事故に遭って死んでしまったのだって……私のせいなのよ……」里美が顔を覆って泣き始めた。「だから……だからきっと罰を受けたのね。前世の時よりも平凡な顔で生まれて魔法も使えない平民と言うポジションしか与えられなかったのよ……」「そ、それはちょっと違うと思うけど……」「いいえ! 違ってなんか無いわよ! 美咲は被害者だったから、公爵令嬢として……挙句にそんな美い容姿で生まれ変わることが出来たのよ!」そして里美は涙に濡れた瞳で私を見つめた。「美咲……今までごめんなさい……。だから……死んでちょうだい!」「はぁっ!?」いきなりの爆弾発言で驚いた。「ちょ、ちょっと待ってよっ! 普通、この話の流れなら、『どうか今までのことは全て、水に流してこれからは仲良くしてちょうだい』と来るのが筋じゃないの? それなのに、死んでちょうだいだなんて!」すると里美がヒステリックに叫ぶ。「だって仕方がないのよ! 呼び出した相手が言ったのよ! 『召喚者がこんなに未熟で魔力が全く無いとは思わなかった』って! それで……」 その時――「そうさ。この人間界に来るまでにどれ程の魔力を消耗たことか。普通なら召喚者の魔力を分けて貰うのだが、これっぽちも魔力を持っていないんだから驚きだよ」突然声が聞こえ、私と里美は慌てて声の方角を振り向いた。すると地面の上に光り輝く円が現れ、中からオルニアスが姿を現したのだ。「オルニアス! 生きていたのね!?」「ユリア…何を言っているんだ? 勝手に死んだことにしないで貰えるか?」オルニアスは呆れた様子で肩をすくめる。すると里美が声を上げた。「ほ、ほ、ほら! ここにターゲットがいるわ! 貴方にあげるから、これで契約も終わりよ! もうこれ以上付きまとわないでよ!」「里美……ひょっとして、あなたオルニアスに酷い目に遭わされていたの!?」オルニアスに生贄? として捧げられてしまうのは嫌だけれど、里美の置かれた状況も気になる。「人聞きの悪いこと言わないでくれ。俺はただ呼び出した責任を取って貰っていただけだ」呼び出した責任……? 一体何のことだろう? 私にはさっぱり見当がつかなかった。「呼び出した責任て何?」私は里美に尋ねた。「そんなこと、決まってるじ
「そうだったの……? いくら前世の記憶を無くしてたからと言って、貴女には酷いことをしてしまったのね」「ええ、そうよ。魔法が存在しているファンタジーみたいな世界に生まれ変われたのよ? なのに私は少しも魔法が使えなくて……まるで『お前は余所者だ』と突きつけられているようで心細くてたまらなかったところに、あんたが現れたのよ。それに私と同様魔法が使えないことが分って、ようやく自分はこの世界に1人じゃないんだって思えた矢先……。あんたは私のことを馬鹿にして、意地悪ばかりしてきたのよ! だけどこの世界じゃ、あんたは公爵令嬢、そして私はただの平民。どうすることも出来ないじゃないの!」里美……ノリーンは憎々し気な目で睨み付けて指さしてきた。確かに私は記憶の中で彼女を散々虐めていた。自分が魔法を使えないコンプレックスをノリーンにぶつけてきたのだ。それは明らかにノリーンの方が私よりも立場が弱かったからだ。魔法も使えず、さらに平民である彼女は私――ユリアにとっては都合が良い存在だった。 里美の怒りはまだ続く。「だから私はあんたに仕返ししてやろうかと思ったのよ。王子が婚約者だって知って、あんたが王子に良く思われていなことが分ったから、誘惑してやろうかと思ったけど……。所詮、こんな平凡な容姿じゃ無理だったのよ。だからあんたに仕返しして色々やってみたけど、どれもうまくいかなかったわ。いえ、違うわね。あんたを始末するのに自分の手を汚したくなかったのよ。それで召喚魔法を使って魔物を呼び出したのよ。私の代わりにあんたの始末をして貰う為にね。幸い私の祖母が腕の良い召喚士だったから呼び出すことは造作なかったわね。尤も下級魔族しか呼び出せなかったけど」「え……? 下級魔族?」そんな……ノリーンが呼び出したオルニアスはどう見ても下級魔族には思えない。だって彼は堕天使なのだから。ひょっとすると、ノリーンは自分が何を召喚したのかわかっていないのだろうか? だけど、私はもう逃げ続けるのは嫌だ。それに、全ての記憶をとり戻した今、自分がどれ程嫌な人間だったのかを知っている。「ごめんなさい、ノリーン。いえ……里美」私は膝をつくと、その場に座って土下座した。「は? あんた……一体何してるのよ?」「いい訳になってしまうかもしれないけれど、この世界での私は本当にいやな人間だったわ。家で家族から見下されて
家庭科の先生の称賛通り、私のマフィンが一番の良い出来となった。ふっくらと膨らんだ生地、きつね色に焼けた甘い香りの漂うマフィン……。クラスメイト達が皆試食したがって、少しずつ分けてあげたら絶賛の嵐だった。「素晴らしいですわ!」「何処で習ったのですか?」「その辺のお店で売ってるよりずっと美味しいです!」先生含め、クラスメイト達が矢継ぎ早に質問してくるが、私には何も分からなかった。ただ、身体が勝手に動いてケーキを作っていた。そう、まるで長年体に染み付いて、覚えていたかのように……。しかし、そんなことを言えば頭のおかしな人間と思われるかもしれない。そこで口からでまかせを言った。「はい、
「ねぇ、どうしても理事長室へ行かなければならないのかしら?」腕を引かれて連行? されながら前を歩くジョンに尋ねる。「当然だろう? 校内放送で呼び出しを受けているのだから」ジョンは私の方を振り向くこともなく、ズンズン歩いてゆく。「だけど理事長室へ行ってもますます状況が悪化しそうな気がするわ。行かないほうがいいと私の勘が訴えかけているのよ」何とか理事長室へ行くのを回避するべく、必死になって言い訳する。「何を訳の分からないことを言っているんだ? 大体記憶喪失者の勘ほど当てにならないものはない」バッサリ切り捨てられてしまった。「それにユリアだって退学はしたくないだろう? あんなに望ん
「何だ? まだ機嫌が悪いのか?」 ジョンが確保してくれた席に座り、食後のカフェオレを飲んでいると向かい側に座るジョンが声をかけてきた。彼の前にはブラックコーヒーが置かれている。何故、そんなことを私に尋ねてきているかというと……それは食事中私が一言もジョンに話しかけなかったからなのかもしれない。しかし、話しをする気になれない程私は彼に腹を立てていたのだ。「フン……何よ。いつもなら食事をしている時位は静かにしていてろと言ってるくせに」独り言のように呟くと、すぐさまジョンが反論してきた。「そんな言い方はしていない。『食事中の時位は話しかけないで下さい』と言っているだろう?」「細かい人ね
「ああ、何だ。そういうことだったのか……確かにあの場所は通行の邪魔になったかもしれないね。どうもユリアがご迷惑を掛けてしまったようですみませんでした」ジョンが素早く私に目配せしたので、私も彼にならって頭を下げた。「申し訳ございませんでした」顔を上げたジョンは私の肩をグイッと抱き寄せた。「ユリア、良い席が取れているんだよ。一緒に行こう」「ええ、そうね」呆気にとられている彼等に背を向け、歩きかけた時……。「ちょっと待て!」背後から鋭い声を投げかけられた。すると再びジョンが私の耳元で囁く。「ユリアお嬢様は何も話さないで下さい」「え? ええ……」一体ジョンは何をするつもりなのだ
reviews