Aku menelan ludah, menatap berkas bersampul hitam itu dari sudut mataku. Kaki ini mendadak terasa seperti dipasangi pemberat besi.Tenang, Alina. Cuma nampan. Letakkan, lalu keluar. Semudah itu.Aku melangkah pelan, berusaha membuat suara sepatuku seminimal mungkin di atas lantai kayu. Archer tidak mendongak. Matanya masih menelusuri deretan huruf di dokumen itu, alisnya sedikit bertaut, rahangnya mengeras, ekspresi yang sama seperti semalam ketika ia berdiri di depan pintu kamarku.Aku meletakkan nampan di sudut meja yang kosong, jauh dari tumpukan berkas, tepat seperti yang biasa kulakukan setiap pagi. Espresso, roti panggang, omelet putih telur. Rutinitas yang seharusnya berjalan tanpa insiden."Selamat pagi, Tuan," ucapku pelan, hampir berbisik, lalu membungkuk singkat dan berbalik hendak pergi."Tunggu."Suaranya menghentikan langkahku seketika. Aku menoleh, mendapati Archer akhirnya mendongak dari kertas-kertas itu. Tatapannya jatuh ke pipiku.Aku refleks menyentuh pipi kananku,
Baca selengkapnya