Catarina duduk di sudut ruangan, menatap dinding batu lembap dengan tatapan kosong. Pikirannya melayang, mencoba mencerna setiap kata yang diucapkan Lorenzo. Tawaran pria itu masih terngiang di telinganya, bekerja sebagai mata-mata, atau menjadi barang permainan para mafia. Waktu terus berjalan, dan batas dua puluh empat jam semakin dekat. Hatinya berperang. Ia tahu, menerima tawaran itu berarti menyerahkan dirinya pada dunia yang penuh dosa dan kekejaman. Namun, menolak berarti kematian dan mungkin, kematian yang lebih buruk daripada sekadar mati. Catarina memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya. Ingatan akan ibunya yang terbunuh di depan matanya kembali menghantuinya. Luka itu masih terlalu segar. Namun di balik semua penderitaan, bara api kecil mulai menyala dalam dirinya, api balas dendam. Suara derit pintu besi membuyarkan lamunannya. Seorang pria bertubuh besar masuk, membawa sepotong roti dan segelas air. Ia meletakkannya di atas meja tanpa sepatah kata, lalu keluar
閱讀更多