Mariana pulang lebih larut dari biasanya malam itu. Bahunya terasa pegal, pikirannya penuh, dan langkahnya sedikit berat saat membuka pintu rumah. Belum sempat ia menarik napas panjang, suara langkah kecil sudah terdengar dari dalam. “Mar…!” suara itu disusul tawa kecil. Di ruang tengah, Edgar sudah berdiri sambil menggendong Lucy. Wajahnya langsung berbinar begitu melihat Mariana, seolah-olah hari yang panjang itu langsung terbayar lunas hanya dengan satu tatapan. Lucy yang tadinya anteng langsung meronta kecil, tangannya menggapai-gapai ke arah Mariana. “Ini lho, dari kemarin nyariin kamu,” kata Edgar sambil tertawa pelan. “Kangen katanya.” Mariana menghela napas, lelahnya sedikit luruh. Ia mendekat, mengusap kepala kecil Lucy yang langsung menempel ke dadanya dengan manja. “Iya, iya… Mama juga kangen,” gumamnya lembut. Lucy langsung nyaman dalam pelukan itu, pipinya menempel, mencari kehangatan yang ia rindukan sejak sore. Mariana hanya bisa tersenyum tipis, membiar
Read more