Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, santai, seolah tidak mengandung makna apa pun yang perlu diperdebatkan. Namun justru karena itulah dampaknya terasa jauh lebih besar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara. Koridor rumah sakit yang sejak awal sudah dipenuhi ketegangan kembali tenggelam dalam keheningan yang aneh.Kanina membeku di tempatnya. Matanya sedikit membesar. Pandangannya terpaku pada Althan, sementara pikirannya seakan terlambat mengejar apa yang baru saja didengarnya.“Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar orang lain.” Ucapan pria itu terngiang-ngiang di telinganya. Kanina mengernyit. “Apa maksudnya?”Dia bingung, tapi jantungnya tiba-tiba berdentum dan berdebar dengan keras. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Sejurus kemudian, dia buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak berani menatap terlalu lama, bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, di sisi lain, wajah H
Baca selengkapnya