Suasana kamar masih hening, hanya menyisakan suara sesenggukan Nadine yang masih tertahan. Dirga tidak beranjak sedikit pun. Ia duduk di lantai, bersandar pada tepian ranjang tepat di samping Nadine, membiarkan jemarinya mengusap lembut punggung tangan wanita itu. "Sayang… lihat aku," bisik Dirga lirih, suaranya sehangat mentari yang masih menyinari siang mereka. Nadine menggeleng pelan, masih enggan menunjukkan matanya yang sembab. Namun Dirga dengan sabar meraih dagu Nadine, membimbingnya untuk saling bertatapan. "Dunia mungkin berisik dengan omongan mereka, tapi di duniaku… suara kamu itu satu-satunya yang mau aku dengar. Kamu itu warna, Sayang. Kalau enggak ada kamu, hidupku cuma hitam putih, datar, enggak ada seninya." Nadine menghirup napas panjang, mencoba meredam isaknya. "Tapi mereka bilang—" "Sstt," potong Dirga lembut. Ia menggenggam kedua tangan Nadine, menyalurkan ketenangan. "Mer
Baca selengkapnya