Makin lama Paula mendengarkan, makin dia merasa bahwa mereka sedang membicarakan Arlo. Setidaknya, kesombongan itu benar-benar sama persis."Hehe, pria tampan yang liar dan penuh percaya diri seperti ini memang tipeku!" Yenny terkekeh."Kalau kamu terus begitu, aku benar-benar nggak mau bicara denganmu lagi!" Paula benar-benar menyerah dengan sahabatnya yang terus membahas pria. Sejak bertemu Arlo, dia sudah tidak lagi tertarik pada mahasiswa-mahasiswa pria di kampusnya.Saat kedua wanita itu sedang mengobrol, terdengar seruan kaget dari arah pintu masuk.Paula menoleh mengikuti suara itu. Seorang pemuda berbaju hitam dan bertubuh tinggi melangkah masuk. Tatapannya tajam, auranya luar biasa, dan di sudut bibirnya tersungging senyum yang sangat dikenalnya."Ternyata benar dia ...," gumam Paula."Wah, benar-benar ganteng. Eh, tadi kamu bilang apa? Kamu kenal dia?"Paula tidak menjawab. Di negeri asing seperti ini, bertemu Arlo membuat jantungnya berdebar tak terkendali.Namun kemudian, d
Baca selengkapnya