"Ardan."Suara Binar lembut, hampir berbisik, tapi Ardan tidak mendengarnya. Anak itu masih duduk di kursi makan, dengan biskuit yang tergeletak di atas meja, air minum di gelasnya tidak berkurang. Matanya kosong ke suatu titik di dinding."Waktu Ardan hilang tadi," lanjut Ardan, suaranya makin tidak stabil. "Ardan lihat kok, Bun." Dia mengangkat muka, dan air matanya yang sejak tadi tertahan akhirnya jatuh. "Papa marah-marah ke semua orang." Tangisnya mulai terdengar di antara kata-kata. "Papa sebenarnya tidak cari Ardan. Papa marah.""Ardan—""Mama Celia benar." Kalimat itu keluar di antara isak yang tidak bisa lagi ditahan. Suaranya naik, seperti sudah terlalu lama dipendam dan akhirnya meledak. "Papa akan selalu pilih Bunda Binar. Ardan tidak penting."Binar mengulurkan tangannya, mau memeluk, refleks yang datang sebelum berpikir. Tangannya terbuka, siap menarik Ardan ke dalam pelukan. Tapi ….Ardan menangkis, anak itu justru memundurkan badannya sedikit. "Nggak mau."Tangannya Bi
Last Updated : 2026-07-15 Read more