Bug. “Sialan.” Celine memukul setir mobilnya, frustrasi. Sepanjang perjalan pulang pagi itu, otaknya kacau, terus memutar ulang kejadian gila di dapur semalam—sentuhan intim Aldean dan remasan di dadanya yang masih membuat bulu kuduknya meremang. Ia menggeleng keras, mencoba mengusir bayangan ayah sahabatnya itu dari kepala. Saking larutnya dalam kecamuk pikirannya, Celine bahkan tidak sadar saat mobilnya sudah memasuki halaman luas rumah keluarga Surya. Tempat yang seharusnya disebut rumah, tapi tak pernah benar-benar terasa seperti itu baginya. Begitu melangkah masuk, suara nyaring langsung menyambutnya. “Baru pulang, ya?!” Maya, ibu tirinya, duduk di sofa ruang keluarga. Pakaian rapi, parfum mahal, dan tatapan sinis yang seolah bisa menelanjangi Celine dari kepala sampai kaki. Senyum tipisnya terangkat, tapi dingin. “Udah bisa pergi dan pulang seenaknya sekarang?” ujarnya tajam. “Maaf, Ma. Aku nginep di rumah temen,” jawab Celine pelan, menunduk. “Temen?” Maya mendengus. “
Huling Na-update : 2025-11-04 Magbasa pa