Di lantai paling atas gedung megah itu, Damian berdiri sendirian di depan jendela besar. Pemandangan kota terbentang luas di bawahnya, lampu-lampu berkelap-kelip seperti bintang yang jatuh ke bumi. Indah. Tenang. Terlihat damai.Namun tidak ada kedamaian di dalam diri Damian.Tangannya memegang gelas kristal berisi minuman berwarna gelap. Ia tidak meminumnya. Hanya memutar cairan itu perlahan, menatap pantulannya sendiri di permukaan kaca jendela.Matanya dingin terasa dalam dan penuh sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar amarah.Nama Matteo kembali muncul di kepalanya.Damian memejamkan mata sejenak. Bukan karena lelah. Tapi karena ingatan yang datang tanpa diundang.Ia masih bisa mengingat dengan sangat jelas, meskipun bertahun-tahun telah berlalu. Rumah besar yang dulu terasa hangat, suara tawa yang memenuhi ruang makan, sosok ayahnya yang berdiri tegak, penuh wibawa, dan seorang pria lain yang selalu ada di sana. Matteo, sahabat terbaik Giovanni. Atau setidaknya… dulu begitu.
Read more