“Jawab, Anya! Apa kamu mengandung anaknya saat masih menjadi istriku?” Suara Kevin menggelegar, dipenuhi amarah. Rahangnya mengeras, sementara tatapannya menyorot tajam ke arah Anya. Tangannya terulur hendak mencengkram pergelangan tangan Anya. Namun, sebelum sempat menyentuhnya, Rayden dengan sigap menepis tangan Kevin dan berdiri di depan Anya, menghalangi laki-laki itu mendekati perempuan yang kini berada di belakangnya. “Kalau memang itu kenyataannya, lalu kamu mau apa?” tanya Rayden dengan tenang, tetapi sorot matanya tajam. “Apa kamu lupa, Kevin? Sejak awal kamulah yang mengkhianati Anya. Kamu berselingkuh saat masih menjadi suaminya. Jadi, atas dasar apa kamu menuntut kesetiaan darinya?” Napas Kevin memburu. Dadanya naik turun menahan amarah yang kian bergolak. “Tidak semua kejahatan harus dibalas dengan kebaikan,” lanjut Rayden tanpa gentar. “Lucunya, orang yang paling lantang menuntut kesetiaan justru orang yang lebih dulu berkhianat. Bukankah itu terdengar munafik?”
Baca selengkapnya