Hening yang menyesakkan itu akhirnya pecah saat Ayah mengisyaratkan agar aku segera mengikutinya. Langkah kakinya berat, seolah membawa beban sisa-sisa amarah dari perdebatan hebat dengan Ibu tadi."Ayo, Ayah antar ke sana sekarang," ucapnya lirih.Rumah itu. Rumah yang ia beli saat aku masih kuliah dulu. Tempat pelarianku setiap kali ocehan Ibu mulai melampaui batas kewajaran. Ayah tahu, hanya di sana aku bisa benar-benar bernapas.Aku berjalan di belakang Ayah. Namun, tepat di ambang pintu, langkahku tertahan. Aku menoleh perlahan, mendapati Ibu yang masih berdiri kaku dengan napas memburu di ruang tengah. Tatapan kami bertemu.Perlahan, kusunggingkan senyum di sudut bibir—tipis, namun cukup tajam untuk membuat dadanya makin sesak. Sebuah senyum mengejek yang sengaja kukirimkan sebagai deklarasi perang.Rasakan itu, Bu, batinku.Aku muak. Kami sama-sama lahir dari rahimnya, aku dan Kak Alda. Namun di matanya, Kak Alda adalah permata, sementara aku hanyalah noda yang ingin ia hapus.
Read More