Ibra meremas pelan jemari Aya, menyalurkan kekuatan dan kehangatan yang nyata. "Kamu nggak akan pernah sendirian lagi, Sayang. Ada aku, ada Putra, dan ada semua orang yang menyayangimu."Aya tersenyum, setetes air mata haru kembali menetes di kedua belah pipinya, namun dengan cepat ia usap. Malam ini tidak boleh ada air mata kesedihan, hanya ada rasa syukur.Beberapa puluh menit berlalu, mobil akhirnya memasuki gerbang kediaman megah milik Ibra. Setelah mobil berhenti dengan sempurna, Ibra mematikan mesin. Ia bergerak cepat keluar dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Aya terlebih dahulu sebelum beralih ke pintu belakang.Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak mengejutkan sang anak, Ibra menggendong tubuh Putra yang terkulai lemas. Kotak hadiah yang tadi didekap Putra kini telah berpindah dengan aman ke tangan Aya. Kepala Putra bersandar dengan nyaman di bahu kokoh ayahnya.Saat pintu utama dibuka oleh Santo. "Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapanya pela
Terakhir Diperbarui : 2026-07-07 Baca selengkapnya