“Saya akan mengusahakannya. Semoga akhir pekan di minggu berikutnya tidak ada halangan,” jawab Ravin berusaha meyakinkan. Bola mata Aneya bergantian berpindah antara Ravin dan ibunya. Keduanya tampak begitu larut dalam percakapan hingga ia hanya berdiri di sana sebagai pendengar, nyaris tak mendapat celah untuk menyela. Sesekali bibirnya terbuka, berniat mengatakan sesuatu, tetapi kembali mengurungkan niatnya. Alis Aneya berkerut tipis. Ia sama sekali tidak menduga ibunya akan mengundang Ravin untuk makan malam, bahkan pembicaraan itu terdengar begitu wajar, seolah rencana tersebut sudah dipikirkan sejak tadi. Kesadaran itu membuatnya hanya mampu mengembuskan napas pelan, masih berusaha mencerna kejutan yang datang tanpa aba-aba. “Kami akan tetap menunggu kehadiranmu,” balas ibunya Aneya dengan senyum yang tulus. “Terima kasih sebelumnya, tante. Kalau begitu saya pulang dulu,” pamit Ravin akhirnya beserta anggukan kepala ringan. “Hati-hati di jalan, nak,” ucap ibunya, “Aneya
Baca selengkapnya