Sagara lalu berdiri dan meninggalkanku sendiri di kamar ini. "Sagara!" panggilku sedikit keras. Namun yang kudengar hanya suara pintu apartemen yang tertutup. Hening lagi. Aku memandangi pintu kamar yang kini tertutup rapat. Tak ada suara langkah kaki. Tak ada suara televisi. Tak ada suara apa pun. Hanya aku dan pikiranku sendiri. Aku menarik kedua lutut ke dada, lalu menyandarkan kepala pada sandaran ranjang. Dadaku terasa sesak oleh berbagai pertanyaan yang terus berputar tanpa henti. Kenapa Sagara pergi? Kenapa dia selalu seperti ini? Datang begitu dekat, membuatku merasa aman, lalu tiba-tiba menghilang tanpa menjelaskan apapun padaku. Aku menggigit bibir bawahku pelan. Mungkinkah dia bosan? Mungkinkah dia menyesal sudah membawaku ke sini? Ataukah selama ini aku hanya menjadi beban bagi Sagara? Pikiran-pikiran buruk itu datang satu per satu, memenuhi kepalaku seperti hujan yang tak akan kunjung berhenti. Aku berusaha mengusir semua pikiran i
Read more