Suasana di dalam kabin Rolls-Royce itu hening. Araska membiarkan keheningan itu menyelimuti mereka, sebuah ruang yang ia berikan agar Zayyan bisa memungut kembali kepingan egonya.Setelah hampir setengah jam, Araska memecah kesunyian dengan suara yang tenang."Zayyan, tahukah kamu bagaimana Papa mendapatkan nama Adiguna ini?"Zayyan menoleh sedikit, meski matanya masih enggan menatap Araska. "Karena Papa jenius. Karena Papa kaya raya sejak lahir," gumam Zayyan sinis.Araska terkekeh pelan. "Itu mitos yang dipercaya orang lain. Kenyataannya, Papa memulainya dari bawah. Papa pernah menjadi kurir barang, tidur di gudang sempit, dan sering dihina karena Papa dianggap tidak punya apa-apa."Zayyan memutar tubuhnya, menatap Araska dengan kerutan di dahi. Ada secercah keingintahuan di sana."Orang-orang hanya melihat hasilnya sekarang," lanjut Araska serius. "Mereka melihat mobil ini, melihat gedung-gedung tinggi, dan mereka menyimpulkan segalanya didapat dengan mudah. Mereka merampas proses
閱讀更多