"Emma, bolehkah aku menyuruhmu melakukan sesuatu?" Esther mendongak, menatap Emma dengan wajah datar. Emma yang berdiri di sebelahnya tersenyum. "Apa pun akan saya lakukan, Yang Mulia.""Hehe …." Esther nyengir lebar. "Kau melihat mawar itu, kan? Jarang sekali ada yang masih mekar, loh. Apakah kau mau membuatkan teh mawar untukku?" Emma terdiam mematung. "Teh mawar, Emma." Esther mengulangi kalimatnya. "Teh mawar?" Emma membeo. "Tentu, Yang Mulia. Saya akan segera ke dapur dan membuatkannya." Emma tersenyum kikuk, sebenarnya ia tidak tahu apakah yang Esther maksud berbeda dengan yang ia ucapkan. "Bukan itu, Emma. Kau tidak lihat bunga yang di sana? Hanya dua tangkai. Aku ingin dibuatkan teh mawar.""Maksudnya …, dari mawar segar itu?" Emma kembali bertanya memastikan. "Iya. Aku sudah bilang, kan? Bunga yang di sana, yang dua tangkai itu." Esther kembali menunjuknya. "T-tapi, Yang Mulia? Kalau masih segar seperti itu, butuh waktu untuk memprosesnya menjadi teh. Kelopaknya harus
Last Updated : 2026-06-25 Read more