"Tentu saja ... Aku tidak mau," balas Azael sembari memamerkan senyum tanpa rasa bersalah dan tujuannya memang membuat pria di depannya ini merasa malu. Namun, pria yang sedang diliputi masalah tentu saja harus menurunkan seluruh harga dirinya demi sebuah bantuan. Kali ini Erick hanya terlihat tersenyum miring setelah tahu bahwa Azael tidak akan pernah membantunya. "Dulu kita adalah seorang sahabat, berbagi dalam suka dan duka ketika masih remaja. Aku hanya tidak menyangka jika setelah bertahun-tahun lamanya kita hanya menjadi musuh," ucapnya. Azael paham. Mereka memang bersahabat baik sejak dulu, namun dirinya juga bukan orang bodoh yang tidak bisa menilai semuanya sendiri. Lagi pula, hidup terus berjalan dan seluruh pilihan ada di tangannya, terserah dirinya mau melakukan apa. "Kenapa mendadak berkata seperti itu? Tentu saja semuanya hanya tentang masa lalu dan tidak ada gunanya untuk masa kini ataupun masa depan," balas Azael yang Tentu saja tidak mau mengingat-ingat apa yan
Baca selengkapnya