"Semisal aku tidak bisa memberi Mas anak," lanjut Sera, melisankan ketakutan yang mendadak menyelinap di benaknya.Rendra tersentak kaget. Ia langsung merenggangkan pelukan, menundukkan wajah untuk menatap lurus ke dalam manik mata Sera. Sorot matanya yang tadi jenaka kini berubah serius dan penuh penekanan."Jangan bicara seperti itu," potong Rendra, suaranya berat namun terdengar lembut menenangkan. Ia mengusap pipi Sera sekilas dengan ibu jarinya. "Tidurlah, ini sudah malam. Kamu besok harus melalui hari yang tak seperti biasanya di rumah sakit."Sera menatap Rendra, lalu mengangguk pelan sembari mengembuskan napas pendek. "Iya, Mas. Aku sedikit cemas sebenarnya. Doakan aku ya, Mas."Rendra menarik kembali tubuh Sera ke dalam dekapan hangatnya, melingkarkan lengan kokohnya dengan begitu erat. "Tentu saja. Aku pasti selalu mendoakanmu."Dalam kehangatan dada Rendra, Sera perlahan memejamkan mata, membiarkan rasa cemasnya perlahan larut hingga akhirnya terlelap.***Keesokan paginya.
Terakhir Diperbarui : 2026-06-29 Baca selengkapnya