Tian melakukannya dengan penuh kelembutan. Hal yang jarang terjadi dalam hubungan panas kami sejak kontrak ditandatangani. Mobil bahkan tidak bergerak, apalagi bergoyang selayaknya pasangan ilegal lainnya lakukan di area umum. Hal itu membuktikan bahwa permainan Tian malam ini seolah tulus ia lakukan. Bahwa ia melakukannya atas dasar perasaan yang seharusnya tidak pernah tumbuh. "Tian, cukup." Aku berkata di sela hujamannya yang bertubi-tubi mengoyak tubuhku. Aku merasa ini sudah lebih dari cukup. Tian sudah mendapatkan puncak kenikmatannya sejak tadi, tapi ia bahkan terlihat belum mau berhenti. "Kau sudah lelah? Menyerah?" katanya malah bertanya. Aku menggeleng. "Bukan karena itu, tapi waktu sepuluh menit yang kamu minta sudah habis sejak tadi," jawabku dengan udara yang masih sulit kujangkau. Tian menatapku, diam selama beberapa saat. "Kalau begitu, untuk malam ini aku minta tak ada batasan waktu sampai kau benar-benar lelah," katanya, lalu kembali melanjutkan. Mobil itu sep
Baca selengkapnya