“Aku keluar dulu, Permaisuriku. Beristirahatlah,” ucap Erion lembut sambil menarik selembar selimut wol tebal dari tepi ranjang, membalutkannya ke punggung Yasmin dengan perlahan untuk menutupi bagian tubuh atas Yasmin yang masih terbuka.Erion memalingkan pandangannya saat merapikan kain tersebut, menyadari bahwa ia masih belum siap melihat semua itu di tengah situasi yang mendadak ini.Yasmin yang melihat tingkah lakunya hanya bisa mengulas senyum tipis di bibirnya yang pucat, lalu menganggukkan kepalanya perlahan. “Iya, Erion.”Berdiri dari tepi ranjang, Erion memberikan isyarat dengan anggukan kepala kepada Fatim untuk melanjutkan tugasnya merawat Yasmin di dalam tenda. Fatim yang mengerti langsung mendekati ranjang membawa mangkuk ramuan obat yang baru selesai diracik.“Denyut nadi Tuan Putri sedikit lemah, hamba akan memberikan racikan ini, Baginda,” kata Fatim menunjukan minuman hitam pekat dalam cawan sebelum Erion melangkah pergi.Erion mengangguk menyetujuinya, lalu berjalan
Read more