Alize mengikuti pelayan Lady Isla menyusuri lorong batu yang sunyi. Di belakangnya, Greta masih mengikuti tanpa suara. Malam telah benar-benar turun. Nyala lentera di dinding memantulkan cahaya keemasan di lantai batu, sementara keheningan biara terasa begitu pekat hingga suara langkah kaki mereka sendiri terdengar jelas. Di depan kamar Lady Isla, mereka berhenti. Si pelayan membuka pintu. “Silakan masuk, Yang Mulia.” Alize mengangguk dan melangkah masuk. Ia menatap berkeliling. Kamar itu serupa dengan kamarnya. Semacam apartemen kecil dengan ruang duduk, kamar tidur, dan kamar ganti. Perabotnya bersahaja, meskipun dibuat dari bahan kayu terbaik. Si pelayan memberinya tanda ke kamar tidur. “Mohon maaf, Yang Mulia. Nyonya saya berada di tempat tidurnya. Ia sudah nyaris tak punya tenaga untuk bangun, tetapi bersikeras untuk bicara dengan Anda.” Alize mengangguk penuh pengertian. “Tidak apa-apa, saya mengerti,” ujarnya. “Saya akan menemuinya.” Pelayan itu membungkuk
Baca selengkapnya