Pernikahan adalah impian Anne sejak dahulu. Dekorasi putih yang suci, gaun pengantin yang indah, dan seorang kesatria yang menunggunya di depan Altar. Sementara dirinya akan berjalan bersama sang Ayah, dengan senyum malu-malu dan wajah yang memerah. Anne telah memimpikannya sejak lama. Tetapi bukan hari ini. Anne tidak mengharapkan pernikahan yang ia tahu akan menghancurkan hidupnya sendiri. Ia belum berjalan di altar, tetapi ketika dirinya berjalan menuju anggota keluarganya yang telah lama menunggu, Anne merasakan kakinya amat berat. Seolah ada logam yang menahan kakinya untuk melangkah. Tak terasa, air matanya mengalir ketika Anne melihat sang Ayah, Anthony, dan Ametis telah menunggunya. Alih-alih dengan wajah sumringah, mereka menyambutnya dengan sorot pilu. Tuhan, bukan ini yang Anne inginkan. Bukan seperti ini..... impiannya... Anne mengambil napas sejenak, berusaha menguasai dirinya di balik penutup kepala yang ia gunakan. Kemudian, sang Adik, Anthony tampak
Read more