Dimas membuka matanya kembali. Sorot matanya kini begitu jernih, tajam, namun tenang seperti permukaan danau di tengah musim dingin. Ia menolak menjadi penjaga penjara bagi wanita yang ia inginkan."Tidak, Bram," jawab Dimas akhirnya. Suara baritonnya terdengar begitu lembut, datar, namun penuh dengan kepastian yang tidak bisa diganggu gugat. "Tarik mundur kedua tim yang ada di jalan samping. Jangan ada satu orang pun yang mendekati pagar rumah itu malam ini."Bram yang sedang menanti perintah eksekusi sedikit tertegun. Ia memutar tubuhnya sedikit ke belakang, menatap Dimas dengan raut wajah tidak mengerti. "Maaf, Pak Dimas? Kita... kita membiarkan mereka di sana? Kita sudah berhasil melacak lokasi persembunyian ini setelah mengerahkan seluruh jaringan malam ini, Pak.""Aku tidak tuli dengan instruksiku sendiri, Bram," balas Dimas tanpa menoleh dari kaca jendela. Sudut bibirnya perlahan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman tipis yang sangat sulit diartikan—bukan senyum kekalaha
Read more