Cengkeraman tangan Leo di bahu Ratna mengerat, menarik wanita itu bangkit dari lantai dengan satu entakan kasar. Tanpa membuang waktu sedetik pun, sang dewa bedah mendorong tubuh sintal istri musuhnya itu hingga menabrak keras tepi meja jati peninggalan Kades Tirto. "A-akh! Pelan sedikit, Tuan..." erang Ratna tertahan, meski kedua matanya memancarkan gairah liar yang sudah tak terbendung. "Kau yang menawarkan diri, Ratna. Di ruanganku, di wilayahku, aku yang mengatur ritmenya," desis Leo mematikan, menatap tajam ke arah mata wanita itu dengan wibawa absolut. "Aku siap, Tuan! Lakukan sesukamu! Hancurkan sisa-sisa jejak pria tua itu dari tubuhku malam ini juga!" pinta Ratna putus asa, merobek sendiri sisa kewarasannya demi mendapatkan perlindungan sang penguasa baru. Di luar ruangan, udara terasa sangat panas dan mencekik bagi Juragan Darmo. Lintah darat yang dulunya ditakuti itu kini hanya bisa duduk meringkuk di kursi tunggu pendopo balai desa dengan lutut yang masih gemetar parah.
Read more