“Itu Dio,” ujar Raka. Tangannya terulur menyentuh puncak kepala Aluna. “Nggak usah tegang gitu, sayang… aku keluar ya. Kamu disini aja.” Tanpa menunggu jawaban, Raka segera pergi. Tepat ketika dia berada di ambang pintu, Raka kembali melirik Aluna, lalu tersenyum. “Tunggu, ya,” katanya. Aluna hanya mengulas senyum. Kamar itu kini sudah kembali sepi. Dia duduk di tepi ranjang. Matanya terpejam sebentar. “Tenang, Aluna… sejauh ini semua baik-baik saja.” Aluna membuka matanya lagi. Berusaha menepis perasaan aneh yang semakin lama mencengkram dadanya. Tanpa sadar, tatan Aluna teralihkan pada nakas kayu di samping tempat tidurnya. Sebuah buku tebal tergeletak di sana, entah sejak kapan. “A-apa itu,” gumam Aluna pelan. Dia menatap buku itu, lalu beringsut mendekat. Pupilnya melebar. “Ini novel season dua…” Aluna buru-buru meraih buku tebal itu. Dadanya turun naik dengan sangat cepat. “Gimana… gimana ceritanya buku ini ada disini?” Aluna menggigit bibir bawahnya. Dia masih men
Read more