Malam telah larut ketika Aruna akhirnya kembali ke kamar ,langkahnya pelan, nyaris terseret ,seharian bekerja setelah pelatihan seharusnya sudah cukup membuat siapa pun lelah namun bagi Aruna, yang menguras tenaganya bukan hanya pekerjaan fisik di ruang VK.Bayangan yang ia lihat sore tadi terus berputar di kepalanya tanpa henti, seperti pita rusak yang macet pada adegan yang sama ,ibunya yang tertawa lepas ,Ayah Oxavio yang menyentuh lengan ibunya dengan akrab ,pemandangan itu seperti pecahan kaca tajam yang terus berulang menusuk ingatannya, melukai setiap kali ia mencoba mengalihkan pandangan ,dadanya dipenuhi sesak yang tak mampu ia jelaskan dengan kata-kata ,rasa dikhianati oleh darah sendiri ,rasa jijik pada takdirnya ,ia hanya ingin mandi membersihkan diri dari debu kota dan noda batin ,lalu berbaring menutup mata ,berharap tidur mampu mencuri semua pikirannya, walau hanya untuk semalam ,menghilangkan kesadaran akan siapa dirinya sebenarnya ,anak dari wanita yang masih me
Read more