Marcellino merasa bisa duduk di sana sepanjang malam. Bahkan, ia tidak keberatan melewatkan makan malam sekalipun.Ia duduk di sofa bersama Freya, membiarkan punggung gadis itu bersandar pada dadanya. Lengan kanannya melingkari pinggang Freya, sementara tangan kiri mereka saling bertaut. Lengan Freya yang lain bertumpu santai di pahanya, menciptakan kedekatan yang terasa begitu alami.Memeluk Freya terasa tepat. Hangat tubuhnya, sentuhan lembut telapak tangannya, hingga aroma lavender yang segar bercampur dengan wangi alami seorang wanita, semuanya mengalirkan sensasi halus yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Sesekali, Marcellino mengecup lembut bahu dan pipi Freya, tanpa bisa sepenuhnya menahan diri.“Ceritakan padaku bagaimana hubungan kalian dimulai, Freya. Aku ingin mendengarnya langsung darimu,” ujar Halimah. Wanita tua itu duduk di kursi berlengan di seberang mereka, menatap bergantian antara Marcellino dan Freya.“Tentu… um, dia bilang…” Freya menoleh ke arah Marcellino sebelum
Read more