“Rusak?” Dimas tersenyum mengejek sambil mengatakan itu. Karin mahasiswi kedokteran, tetapi jawabannya sangat menggelikan. “Ya, lebih baik kita praktek dengan pasiennya langsung saja dok,” jawab Karin menunduk. Suasana di ruangan Dimas menjadi lebih horor dari sebelumnya. “Oke, tapi kenapa saat bersama dr. Arlan. Kau tidak mempermasalahkannya Karin?” tanya Dimas dengan tatapan matanya yang tajam. Arlan berbeda, kondisinya saat itu berbeda. Karin tidak bisa menerima sentuhan aneh seperti itu tetapi bersama dengan Arlan, pelan-pelan penyakit anehnya sembuh. Sekarang, Karin tidak ketakutan seperti dulu meskipun masih ada sedikit rasa cemas. “Maksudnya dok? Karin gak ngerti.” Apa dr. Dimas tahu yang Karin dan Arlan lakukan di ruangan praktek dr. Arlan. Tapi, ruangan itu tertutup, tidak ada cctv, mereka pun praktek malam, pasien sudah sepi. “Apa hanya dia yang boleh melakukan praktek denganmu?” Karin menelan salivanya, dr. Dimas tidak sembarangan, ia pasti tahu apa yang terjadi di
Read more