Begitu kakinya melangkah turun dari anak tangga pelaminan, Moana langsung mengembuskan napas panjang, berharap bisa segera meloloskan diri ke ruang ganti. Namun, langkahnya mendadak terhenti. Danu, yang sejak tadi mengekor di belakangnya, dengan cekatan langsung memotong jalan dan berdiri tepat di hadapan Moana."Moana, tunggu sebentar," ucap Danu sembari menyunggingkan senyum yang menurutnya paling menawan. "Tadi di atas kita belum sempat mengobrol formal. Saya Danu. Ibu kita sebenarnya masih sepupu jauh. Boleh saya minta nomor WhatsApp kamu? Biar kalau sama-sama balik ke kota nanti, kita bisa janjian ngopi."Moana baru saja membuka mulut untuk menyusun penolakan yang paling halus, ketika tiba-tiba rombongan ibunya, bersama Bulik dan para uwak yang usil, merapat bagikan barikade yang mengunci ruang geraknya."Lho, Danu! Pintar ya curi-curi kesempatan," goda Bulik dengan tawa renyah yang sengaja dikeras-keraskan.Ibu Moana ikut tersenyum lebar, matanya berbinar melihat kedekatan k
Read more