Di dalam kamar utama Niken tak bisa tidur. Berbanding terbalik dengan Evan yang terlelap sejak tiba di rumah. Sedari tadi ia terus membolak balik badannya. Ia meraih guling dan memeluknya. Beberapa saat kemudian ia melepas guling itu, lalu menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Matanya tertutup. Terbayang kembali kejadian di restoran tadi. Bagaimana sikap pria itu. Sorot matanya yang begitu tajam, begitu menusuk– rasanya hingga ke jantung. “Kenapa bisa gitu sih dia.” Niken menggaruk-garuk pelipisnya– bingung. Sikapnya begitu aneh, benar-benar sulit di tebak. Hal itu yang membuatnya jadi takut, segan, sungkan. Semua bercampur jadi satu. Turun dari ranjang, ia melirik ke arah Evan yang begitu pulas. “Tumben kamu tidur banget,” celetuk Niken mencolek hidung bayi mungil itu. Ternyata apa yang ia ucapkan tadi, seperti menjadi mantra kebalikan. Suara rengekan Evan mulai terdengar pelan, membuat Niken mempercepat langkahnya ke kamar mandi, sebelum tangisan Evan semakin keras. N
Leer más