Di antara malam yang masih enggan melepas kuasanya, dan angin dingin yang menggigit jiwa, Vivienne sudah menantang Thanatos—Sang Dewa kematian. Dia berdiri di bibir jalur batu di sisi luar bangunan istana, yang tidak lebih lebar dari telapak kaki anak usia delapan tahun."Sialan, kenapa aku harus menyusahkan hidup hanya demi secuil ketenangan," gerutu Vivienne menempelkan dada pada tembok."Jika bukan karena Benjamin, aku tidak akan membahayakan nyawaku seperti ini."Jemarinya meraba dan mencengkeram celah-celah batu kapur yang dapat dijadikan pegangan, sementara kakinya bergerak setapak demi setapak ke samping. Beberapa kali nyaris tergelincir, tetapi dengan cepat dia menyesuaikan diri.Sebenarnya, kamar Lady Clarisse dan kamar Sebastien hanya bersebelahan. Namun Vivienne tidak pernah menduga, jarak yang tampak dekat dari dalam, justru begitu jauh ketika ditempuh melalui jalan ini.Begitu balkon kamar Sebastien berada dalam jangkauannya, dia melompat—memindahkan pijakan kakinya pada s
Read More