Setelah menerima kunci cadangan dari Mama mertuanya, Bumi menaiki satu per satu anak tangga menuju lantai dua. Di bawah, Maura hanya bisa duduk diam, melipat bibirnya rapat-rapat, mengawasi punggung suaminya dengan penuh curiga. Langkah kaki Bumi terhenti tepat di depan pintu kamar Dira. Dari balik pintu kayu itu, terdengar suara isak tangis, yang jelas Bumi menganggapnya terlalu didramatisasi. Pria itu menggelengkan kecil. Pria itu berdiri tegak, membiarkan kunci cadangan tetap aman tersimpan di dalam saku celananya. Bagaimanapun juga, batas tetap harus dijaga. Dia tidak akan asal menerobos masuk ke kamar seorang perempuan. Bumi mengetuk pintu dengan ritme teratur dan tenang. "Dira," panggil Bumi dari luar. Suaranya tidak membentak, pun tidak bernada membujuk. Datar, tegas, dan berwibawa. Seperti biasanya dia. "Ini Bumi." Seketika, suara tangisan di dalam kamar mendadak hening. Ada suara gesekan kain dan langkah terburu-buru, sebelum kemudian tangisan itu pecah lagi, kali
Read more