Aku masih memikirkan rencanaku mencari informasi di luar pabrik, tetapi tiba-tiba suara Andin membuyarkan lamunanku."Kak Vino!"Aku langsung tersentak."Hah?"Andin melipat tangan di dada."Tuh kan, bengong lagi."Aku terkekeh kecil. "Nggak bengong.""Terus?""Lagi fokus aja," ujarku terkekeh.Andin langsung tertawa."Fokus apanya? Dari tadi ngelamun."Aku menggeleng."Perasaan kamu aja.""Halah ... Mikirin apa sih ngelamun terus."Andin kembali mengangkat kardus sambil tersenyum jahil.Aku hanya bisa menghela napas. Entah kenapa, meski sering menggoda, kehadiran Andin memang membuat suasana kerja menjadi lebih ringan.Beberapa saat kemudian Andin kembali membuka pembicaraan."Oh iya, Kak.""Apa lagi?""Nanti kalau bonus cair..."Aku menoleh. "Kenapa?"Andin tersenyum lebar. "Kita healing yuk."Aku mengangkat alis. "Healing?""Iya. Tempat wisata atau ke mana gitu."Aku tertawa kecil. "Kayak orang banyak duit aja.""Kan habis dapat bonus, Kak."Aku berpikir sejenak.Jujur saja, usulan
Baca selengkapnya