Malam itu mulai datang, membawa keheningan yang berbeda dari biasanya. Rumah besar itu tampak lebih tenang, lampu-lampu menyala hangat di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang seharusnya menenangkan. Namun bagi Carmen, malam tidak selalu berarti istirahat. Kadang, justru di malam hari pikirannya menjadi lebih berisik, kenangan-kenangan buruk datang tanpa permisi, memutar ulang kejadian-kejadian yang sangat ingin dia lupakan.Setelah makan malam bersama keluarga, Emil memutuskan untuk menemani Carmen di kamarnya. Dia tidak ingin adiknya sendirian, tidak malam ini, tidak setelah apa yang terjadi pagi tadi. Ketika dia membuka pintu kamar itu perlahan, dia melihat Carmen sudah berada di atas ranjangnya, bersandar pada headboard, sebuah novel terbuka di tangannya.Carmen mengenakan piyama satin berwarna biru tua. Kainnya yang halus jatuh lembut mengikuti lekuk tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat. Rambutnya terurai bebas, sedikit berantakan namun tetap inda
Read more