Begitu aku keluar dari kamar mandi, langkahku melambat. Pandanganku langsung menangkap pemandangan yang membuat dadaku terasa sesak.Revan duduk menunduk, fokus pada ponselnya dengan wajah serius. Sementara itu, di sisi lain meja, Bu Yuanita tampak berbicara dengan Althaf. Tawa renyah Bu Yuanita terdengar jelas, dan yang membuatku semakin tak nyaman, tangannya sempat menepuk lembut lengan Althaf. Pemandangan itu seperti menusuk. Ada rasa asing, tak enak, dan… jujur saja, menyakitkan.Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri. Begitu aku sampai di meja, Revan langsung mendongak, sorot matanya melembut begitu melihatku. Tanpa berkata apa-apa, ia segera menyimpan ponselnya, lalu mengemas barang-barang kami: tas jinjingku, juga paperbag yang berisi parfum.“Maaf, sepertinya saya dan Senja harus pamit duluan,” ucap Revan tiba-tiba sambil bangkit berdiri. Suaranya tenang, tapi tegas. “Takut terlalu malam, Senja juga harus ambil motornya di bengkel.”Ucapan itu disertai aksinya
Read more