Ragu, itu yang saat ini Hagan rasakan. tanggannya masih menggenggam kemudi mobil dengan wajah tertunduk, sementara Belvara sudah membuka pintu mobil dan antusias keluar, menghampiri pedagang pecel ayam.Belvara menoleh ke arah Hagan, ia menghela nafas, tidak kesal, hanya saja ia harus sedikit memaksa, membuatnya kembali melangkahkan kaki mendekati mobil yang sempat ia tumpangi.Belvara mengembungkan pipi dengan tangan terlipat di dada. Ia mengetuk kaca mobil pengemudi “Mas, kok gak turun?”Wajahnya ia angkat, sebelum menurunkan kacanya, Hagan mengamati area sekitar terlebih dahulu, juga menatap pantulan dirinya, memastikan untuk tidak ada orang yang mengenali, masker dan topi berwarna hitam sudah ia kenakan, tak lupa, penutup kepala hoodienya turut ia sampirkan juga di kepala.Sekilas, tidak akan ada yang mengenali, kecuali orang yang benar-benar mengenalnya sangat dekat.“Mas mau makan apa?” tanya Belvara, mendorong selembar kertas berbalut plastik laminating di atas meja.Hagan teru
Baca selengkapnya