“Kalian semua tahu, kan?”Suara Braelyn Wilson memotong lengkingan tajam alarm darurat. Nada suaranya rata, sedingin es, membawa kekosongan yang mengerikan. Sepasang matanya menatap lurus ke arah layar tablet di genggaman. Di sana, rekaman video terkutuk itu masih berputar. Tubuhnya di masa lalu tampak rapuh, meregang nyawa di atas lantai marmer ballroom akibat racun. Sementara sosok Eryx Caspian melangkah masuk dengan ketenangan yang ganjil.“Aku terlambat lagi…”Kata lagi di sana bukan sekadar penyesalan. Itu adalah pengakuan bahwa penderitaan ini bukan yang pertama kali terjadi bagi pria di hadapannya.Eryx tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras menahan ketegangan luar biasa. Di sudut ruangan, Kael mengalihkan pandangan. Reaksi diam itu sudah lebih dari cukup sebagai jawaban bagi Braelyn.“Jawab aku, Eryx!” Braelyn menyentak, melempar tablet tersebut ke atas meja kaca hingga menimbulkan denting keras. “Berapa kali aku harus mati di masa lalu sampai kamu merasa puas menontonnya
Read More