Arya menarik tangan Sari, membawanya menembus kerumunan manusia yang memadati festival malam di pusat kota.Di bawah pendar lampu warna-warni dan kepulan aroma jajanan kaki lima, Arya tidak lagi tampak seperti dosen yang ditakuti di universitas. Ia hanya pria biasa dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, tertawa kecil saat Sari hampir tersandung karena terlalu asyik melihat kembang api yang meledak di langit malam."Hati-hati, Sari. Matamu di depan, bukan di langit," goda Arya sambil mengeratkan genggamannya.Sari tertawa, sebuah tawa lepas yang tidak lagi tertahan oleh rasa takut atau beban kontrak. "Habisnya bagus sekali, Mas! Aku jarang melihat festival sebesar ini."Malam itu, mereka benar-benar melupakan dunia luar. Arya membawa Sari mencoba segala hal, mulai dari mengantre martabak manis yang sangat ramai hingga bermain menembak sasaran di salah satu stan permainan.Saat Arya gagal menjatuhkan semua kaleng, Sari tid
Baca selengkapnya